2 Sepeda Motor Tabrakan di Jalinsum Asahan, 2 Pengendara Alami Luka-Luka
Tabrakan Dua Sepeda Motor di Jalinsum Asahan, Dua Pengendara Alami LukaLuka.
Peristiwa 9 menit lalu
- Nama Pdt. Dr. Soritua Albert Ernst Nababan, Ll.D atau yang lebih dikenal sebagai S.A.E. Nababan, merupakan salah satu tokoh gereja paling berpengaruh dalam sejarah Kekristenan Indonesia.
Sosok pendeta senior Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) ini tidak hanya dikenal sebagai Ephorus HKBP, tetapi juga sebagai teolog, pemimpin gerakan oikumene dunia, pejuang hak asasi manusia (HAM), serta tokoh yang konsisten menyuarakan keadilan, perdamaian, dan demokrasi.
Baca Juga:
Hingga kini, pemikiran dan keteladanan S.A.E. Nababan masih menjadi referensi penting dalam berbagai forum gerejawi, akademik, maupun diskusi kebangsaan.
Pandangannya mengenai peran gereja di tengah masyarakat yang majemuk tetap relevan dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, politik, dan kemanusiaan di Indonesia.
Baca Juga:
Berikut biodata singkat Pdt. Dr. S.A.E. Nababan,seperti dirangkum dari sebuah postingan anonim facebook @Batak center yang terlihat POSMETRO MEDAN pada Selasa 28 Juli 2026.
Nama lengkap: Pdt. Dr. Soritua Albert Ernst Nababan, Ll.D.
Nama populer: S.A.E. Nababan
Tempat, tanggal lahir: Tarutung, Sumatera Utara, 24 Mei 1933
Wafat: Jakarta, 8 Mei 2021
Usia saat wafat: 87 tahun (menjelang usia ke-88)
Profesi: Pendeta, Teolog, Tokoh Oikumene, Aktivis Kemanusiaan
Gereja: Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)
Pendidikan
S.A.E. Nababan menempuh pendidikan teologi di Sekolah Tinggi Theologia Jakarta (kini STFT Jakarta) dan berhasil meraih gelar Sarjana Theologia (S.Th.) pada tahun 1956.
Berkat prestasi akademiknya, ia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi ke Universitas Heidelberg, Jerman, salah satu universitas teologi tertua dan paling bergengsi di Eropa. Pada tahun 1963 ia menyelesaikan pendidikan Doktor Theologia (Dr. Theol.) dengan predikat cum laude. Ia dikenal sebagai salah satu teolog Indonesia yang memiliki keahlian mendalam di bidang Perjanjian Baru.
Menjadi Ephorus HKBP
Pada Sinode Godang HKBP tahun 1987, S.A.E. Nababan terpilih sebagai Ephorus ke-10 HKBP dan memimpin gereja terbesar di Indonesia tersebut hingga tahun 1998.
Masa kepemimpinannya menjadi salah satu periode paling penting dalam sejarah HKBP karena diwarnai konflik internal yang kemudian memunculkan dualisme kepemimpinan pada kurun 1992–1998. Meski menghadapi tekanan yang berat, S.A.E. Nababan tetap dikenal sebagai pemimpin yang konsisten memperjuangkan kemandirian gereja, kebebasan beragama, serta integritas pelayanan.
Periode itu juga menjadi bagian penting dalam sejarah hubungan gereja dan negara pada masa pemerintahan Orde Baru.
Memimpin Persekutuan Gereja Indonesia
Sebelum memimpin HKBP, S.A.E. Nababan telah dipercaya menjadi Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) selama 1967–1984.
Selanjutnya ia terpilih sebagai Ketua Umum PGI untuk periode 1984–1987, memperkuat kerja sama lintas denominasi gereja di Indonesia sekaligus memperluas peran gereja dalam pembangunan bangsa.
Tokoh Oikumene Bertaraf Dunia
Nama S.A.E. Nababan sangat dihormati dalam dunia oikumene internasional. Kiprahnya melampaui batas Indonesia dan menjadikannya salah satu pemimpin gereja Asia yang paling berpengaruh.
Beberapa jabatan internasional yang pernah diembannya antara lain:
Sekretaris Pemuda Christian Conference of Asia (CCA) periode 1963–1967.
Presiden Christian Conference of Asia periode 1990–1995.
Wakil Ketua Komite Sentral World Council of Churches (WCC) periode 1983–1998.
Wakil Presiden Lutheran World Federation (LWF).
Anggota Komite Eksekutif LWF.
Ketua pertama United Evangelical Mission (UEM), lembaga misi internasional yang menghimpun puluhan gereja dari Afrika, Asia, dan Jerman.
Pada Sidang Raya WCC di Porto Alegre, Brasil, tahun 2006, ia terpilih sebagai salah satu Presiden World Council of Churches, organisasi gereja terbesar di dunia yang menaungi ratusan gereja Protestan, Anglikan, Ortodoks, dan gereja-gereja independen dari berbagai negara.
Pengangkatan itu menjadi pengakuan dunia atas kapasitas kepemimpinan dan pemikiran teologisnya.
Konsisten Menyuarakan Keadilan dan HAM
Di luar pelayanan gerejawi, S.A.E. Nababan dikenal sebagai tokoh yang berani memperjuangkan hak asasi manusia, demokrasi, kebebasan beragama, serta keadilan sosial.
Di era Orde Baru, dia termasuk pemimpin gereja yang vokal mengkritisi berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat dan mengancam kebebasan sipil.
Keberaniannya menyampaikan kritik dilakukan melalui pendekatan damai, dialog, dan landasan teologi yang kuat, sehingga ia dihormati baik di kalangan gereja maupun masyarakat sipil.
Peran dalam Reformasi 1998
Menjelang berakhirnya pemerintahan Orde Baru, S.A.E. Nababan turut berperan dalam proses demokratisasi Indonesia.
Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam pertemuan penting yang kemudian melahirkan Deklarasi Ciganjur tahun 1998, bersama sejumlah tokoh nasional seperti:
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Megawati Soekarnoputri
Amien Rais
Sri Sultan Hamengkubuwono X
Deklarasi itu menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan Reformasi Indonesia.
Pemikiran yang Tetap Relevan
S.A.E. Nababan meyakini bahwa gereja tidak boleh hanya berfokus pada kehidupan internal jemaat, tetapi juga harus hadir menjawab persoalan bangsa.
Dia berkali-kali menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk:
memperjuangkan keadilan,
membela kaum lemah,
menjaga perdamaian,
membangun dialog lintas agama,
serta menjadi suara moral di tengah kehidupan berbangsa.
Pemikiran ini masih banyak dikutip dalam seminar teologi, forum gereja, hingga diskusi akademik di berbagai negara.
Karya Tulis
Selain aktif berkhotbah dan berbicara di berbagai forum internasional, S.A.E. Nababan juga menulis sejumlah buku dan artikel teologi.
Salah satu karya yang paling dikenal adalah autobiografinya berjudul "Selagi Masih Siang", yang diterbitkan pada tahun 2020. Buku ini memuat perjalanan hidup, pengalaman pelayanan, pergumulan gereja, serta refleksi teologis dan kebangsaannya selama puluhan tahun.
Warisan Pemikiran
Meski telah berpulang pada 8 Mei 2021, warisan pemikiran Pdt. Dr. S.A.E. Nababan tetap hidup melalui tulisan, khotbah, dan berbagai gagasan mengenai gereja, kemanusiaan, demokrasi, serta perdamaian.
Dia dikenang sebagai salah satu pemimpin gereja Indonesia yang berhasil membawa nama HKBP ke panggung dunia sekaligus menjadi teladan keberanian moral dalam memperjuangkan nilai-nilai Injil di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sosoknya terus menginspirasi generasi pendeta, akademisi, aktivis, dan umat Kristiani untuk membangun gereja yang terbuka, melayani masyarakat, serta berpihak kepada keadilan dan kemanusiaan.***
Tabrakan Dua Sepeda Motor di Jalinsum Asahan, Dua Pengendara Alami LukaLuka.
Peristiwa 9 menit lalu
Kasus Dugaan Penyerobotan Lahan yang Dilaporkan PDAM Tirta Nauli Sibolga.
Sumut 45 menit lalu
Dandim 0207/Simalungun dampingi Ketua TP PKK Provinsi Sumatera Utara, serahkan kursi roda adaptif.
Sumut 2 jam lalu
Kepala BGN secara resmi mengmumkan terhadap 833 dapur MBG yang ditutup permanen.
Inter-Nasional 2 jam lalu
Gelar Ops Pekat Toba 2026, Satgas Tindak Polres Tapteng Sita Puluhan Botol Miras Tanpa Izin di Andam Dewi
Peristiwa 2 jam lalu
Mengenal lebih dekat sosok Pdt. Dr. S.A.E. Nababan yang masih dikenang hingga sekarang.
Profil 3 jam lalu
Situasi restoran Mie Gacoan sempat panik, hingga pengunjung berhamburan ke luar lantaran keberadaan sekelompok orang datang bawa sajam.
Viral 3 jam lalu
Polda SumutKejati Sumut sepakat mewujudkan penegakan hukum profesional tanpa praktik transaksional.
Sumut 3 jam lalu
John Ester Lase hadir mendampingi Walikota Medan Rico Waas meresmikan jembatan Perintis Garuda di Medan Polonia.
Medan 3 jam lalu
Komsos Humanis Babinsa Koramil 11/Girsang Sipangan Bolon, Tanamkan Budaya Wisata Bersih dan Aman di Parapat
Sumut 3 jam lalu