Rabu, 29 Juli 2026

Kisah Pujopeno, Tukang Becak yang Temukan Uang Rp42 Miliar

P. Silalahi - Rabu, 29 Juli 2026 16:45 WIB
Kisah Pujopeno,  Tukang Becak yang Temukan Uang Rp42 Miliar
facebook @purworejoku
Pujopeno alias Pono Geneng.

POSMETRO MEDAN- Namanya Pujopeno. Tapi orang-orang mengenalnya sebagai Pono Geneng.

Dia seorang tukang becak di Yogyakarta yang sering membawa muatan sayuran dari dari daerah Geneng sehingga digelar sebagai Pono Geneng.

Suatu hari di tahun 1992 dia menemukan sebuah tas di pinggiran jalan di daerah Prawirotaman, Yogyakarta.

Baca Juga:

Alangkah terkejutnya Pono Geneng ketika membuka tas itu, ternyata isinya uang dolar.

Tanpa tahu harus berbuat apa, Pono kemudian pulang ke rumah dan menceritakan kepada ibunya.

Baca Juga:

Oleh ibunya tas itu disuruh dikembalikan ke pemiliknya.

Pono,--seperti dirangkum dari sebuah postingan anonim facebook @Ahmad nursodiq yang terlihat POSMETRO MEDAN pada Rabu 29 Juli 2026-- sempat membantah ibunya dengan mengatakan uang temuannya banyak sekali dan bisa mengubah hidup keluarga mereka, termasuk beli rumah dan lainnya.

"Harga mobil carry ketika itu cuma Rp 14 juta," kata Pono setelah tahu uang di tas itu setara Rp 42 miliar.

Tapi ibunya tetap menyuruhnya mengembalikan tas itu karena bukan miliknya.

"Nek mbok tukoke mobil malah bablas, piye malah medeni," ujar Bu Giyem ibunya seperti ditirukan Pono.

"Kalau dibelikan mobil malah kecelakaan, apa tidak mengerikan," begitu kurang lebih terjemahan yang dikatakan ibunya.

Pono Geneng akhirnya menuruti pesan ibunya dan mencari pemilik tas itu.

Setelah bertanya sana sini akhirnya dia menemukan pemilik tas itu yang sedang menginap di Hotel Garuda jalan Malioboro.

Pemilik tas berisi uang tersebut bernama Charli Morandi, seorang Warganegara Swiss yang datang ke Yogya bersama isterinya.

Uang di dalam tas itu rencananya untuk membeli emas dan perak.

Setelah bertemu dengan Charli, Pono segera menyerahkan tas itu dengan mantap.

Charli memfoto KTP Pono dan serah terima tas itu berlangsung begitu saja tanpa ada pemberian apapun dari Charli ke Pono!

Sialnya saat itu, becak Pono yang di tinggalkannya di luar hotel justru hilang ketika dia hendak pulang dari hotel.

"Ya sudah mau apalagi? Pulang jalan kaki. Semuanya saya ceritakan kepada orangtua saya," kenang Pono Geneng.

Tiga hari kemudian ternyata Charli Morandi dan isterinya mencari Pono.

Mereka merasa tidak tenang di Bali dan segera balik ke Yogya untuk bertemu dengan Pono.

Di Bali keduanya sempat berdebat. Charli mengatakan Pono bodoh karena mengembalikan uang sebanyak itu, tetapi isterinya justru memuji dan mengatakan orang seperti Pono langka.

Mereka mengatakan selama di Bali dilanda keresahan sampai tidak bisa tidur. Karena itulah mereka segera ke Yogya menemui Pono.

Di Yogya keduanya menginap di rumah Pono yang sederhana. Sebagai ucapan terima kasih, keduanya kemudian mengajak Pono ke Swiss untuk menetap di sana.

Segala akomodasi ke negara produsen jam itu ditanggung Charli.

Singkatnya, berangkatlah Pono ke Swiss di tahun 1992.

Warga Swiss pemilik uang itu rupanya seorang petani. Pono kemudian diajar bertani.

Setelah 3 tahun bertani Charli mengatakan kepada Pono bahwa semua harta benda pasangan itu akan diwariskan kepada Pono.

"Asal jangan kamu jual kepada siapapun," ujar Charli ketika itu.

Pria 67 tahun itu yakin Pono akan amanah karena selain rendah hati dia juga orang yang jujur.

Karena itu Charli dan isterinya berketetapan menganggap Pono sebagai anak.

Tak lama kemudian Charli Morandi dan isterinya yang penderita diabetes itu meninggal dunia.

Dengan begitu, semua asetnya diwariskan kepada Pono.

Pemuda Yogya itu kemudian melanjutkan usaha orangtua angkatnya dan menjadi petani dan pengusaha di Fribourg, Swiss.

Namun Pono yang menguasai 5 bahasa itu (Perancis, Italia, Jerman, Inggris British dan Inggris Amerika) tidak melupakan Yogya dan teman-temannya sesama tukang becak.

Pono masih sering ke Yogya bahkan menginisiasi Perkumpulan Pengemudi Becak Prawirotaman (P2BP).

Tahun 2019 Pono mendirikan 20 stan makan gratis untuk pengemudi becak.

Pono mengakui dirinya masih kangen Yogya dan Indonesia. Karena itu dia tetap memegang paspor Indonesia.

Tahun 2012 Pono, walaupun muslim, pernah berbicara di hadapan Paus Benedictus XVI di event internasional di Vatikan.

Pono menjelaskan tentang keberagaman Indonesia.***

Editor
: P. Silalahi
Tags
beritaTerkait
Kombes Pol Eva Guna Pandia Resmi Menjabat Dirlantas Polda Nusa Tenggara Timur
UINSU Medan Dan Universitas PGRI Yogyakarta Sepakati Kerjasama Perkuat TPT
Mobil Lexus Tabrak Penarik Becak Bermotor hingga Tewas
Diduga Ugal-Ugalan, DJ Parlin Tabrak Pengemudi Betor hingga Tewas
komentar
beritaTerbaru