Teuku Umar menyusun strategi dengan berpura-pura menyerah kepada Belanda pada 1893. Dari sana, ia berhasil memperoleh senjata dan pasukan yang lebih kuat untuk kembali melawan Belanda.
Strategi ini dikenal sebagai Het verraad van Teukoe Oemar atau Pengkhianatan Teuku Umar. Taktik itu membuat Belanda kewalahan karena persenjataan mereka justru digunakan untuk menyerang balik.
Baca Juga:
Sayangnya, perjuangan itu tak selamanya mulus karena Teuku Umar gugur dalam pertempuran di Meulaboh. Cut Nyak Dien tetap berjuang meski usianya sudah menua dan kesehatannya memburuk.
Akhirnya, pada 1907, Cut Nyak Dien tertangkap akibat pengkhianatan panglimanya, Pang Laot. Ia kemudian diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, hingga wafat pada 1908.
Perjuangan Cut Nyak Dien dalam Konteks Dakwah
Dijelaskan dalam Skripsi berjudul Perjuangan Cut Nyak Dien dalam Perspektif Dakwah oleh Elfira Asnah, perjuangan Cut Nyak Dien tidak hanya sebatas peperangan melawan penjajah, tetapi juga mengandung nilai dakwah Islam.
Sejak kecil, ia dibesarkan dalam keluarga bangsawan Aceh yang taat beragama dan dididik untuk menjunjung tinggi syariat Islam.
Semangat jihad fisabilillah menjadi dasar perjuangannya di medan tempur. Baginya, melawan penjajah Belanda bukan sekadar membela Tanah Air, tetapi juga bagian dari menjaga kehormatan agama Islam.
Dalam dakwahnya, Cut Nyak Dien selalu menekankan pentingnya amar ma'ruf nahi munkar. Ia mengajak rakyat Aceh untuk tetap berada di jalan kebenaran dan menolak segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh penjajah.
Tags
beritaTerkait
komentar