Rabu, 11 Februari 2026

Aripay Tambunan: Mendidik, Mengabdi, dan Menyala dalam Diam

Oleh: Erni
Administrator - Rabu, 12 November 2025 15:32 WIB
Aripay Tambunan: Mendidik, Mengabdi, dan Menyala dalam Diam
Erni
Foto-foto Dr. Drs. H. Aripay Tambunan, MM saat di partai dan bersama keluarga besarnya.

POSMETRO MEDAN,Ada sosok yang tak berteriak untuk dikenal, namun setiap langkahnya menyalakan makna. Ia bukan politisi yang gemar menabuh genderang pencitraan, melainkan pendidik yang mengajarkan, bahwa sejatinya keberhasilan bukan terletak pada sorak-sorai publik, melainkan pada ketulusan hati ketika bekerja tanpa pamrih.

Sosok itu adalah Dr. Drs. H. Aripay Tambunan, MM, Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Sumatera Utara, sekaligus dosen yang lebih dari tiga dekade menyalakan obor pengetahuan di kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).

Dari Asahan Menuju Ruang Pengabdian

Kisah itu memperkuat bagaimana perjalanan akademik beliau bukan sekadar menuntut gelar, tetapi meneguhkan komitmen bahwa mendidik adalah mengasah nurani dan mengabdi adalah menyalakan harapan di balik sunyi. Kuliah jauh dari kampung halaman mengajarkannya tentang rindu, tantangan, dan bagaimana seseorang belajar menyatu dengan lingkungan yang berbeda membentuk karakter yang akhirnya ia bawa ke ruang parlemen dan ruang kelas.

Lahir di Kabupaten Asahan, 4 November 1967, Aripay tumbuh dalam suasana pedesaan yang sederhana namun sarat nilai-nilai kejujuran dan kerja keras. Ia menapaki jenjang pendidikan dengan tekun, dari SD Inpres Ledong Timur, lalu MTs Al-Ulumul Washlah di Labuhanbatu, hingga SMA Negeri Aek Kanopan.

Langkahnya berlanjut ke dunia akademik, menekuni pendidikan matematika di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Ilmu yang menuntut ketelitian, logika, dan kesabaran, tiga hal yang kelak menjadi ciri dalam setiap kebijakan yang ia ambil.

Namun kehidupan tidak berhenti di angka dan rumus.

Dalam perjalanan berikutnya, ia memperdalam manajemen sumber daya manusia (SDM) di STIE Ganesha Jakarta, lalu meraih gelar doktoral di Universitas Putra Malaysia dan Universitas Negeri Medan. Semua itu bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan refleksi dari tekad, belajar adalah jalan panjang yang tak mengenal usia.

Dosen yang Tak Pernah Pensiun dari Pengabdian

Sejak 1994, Aripay menjadi dosen di UMSU profesi yang menjadi panggilan hati, bukan sekadar pekerjaan. Ia percaya bahwa mengajar bukanlah sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi menyalurkan cahaya agar murid menemukan jalannya sendiri.

Baginya, ruang kelas adalah tempat lahirnya kesadaran, tempat anak muda mengenal makna tanggung jawab sosial dan nilai luhur bangsa.

Ia sering berkata, "Seorang pendidik sejati bukan diukur dari seberapa banyak murid menghafal, tetapi seberapa dalam ia meninggalkan jejak pada akhlak dan karakter mereka."

Politik sebagai Ladang Amal

Ketika langkahnya beralih ke panggung politik menjadi anggota DPRD Kota Medan (2009-2014), DPRD Sumut (2014-2019, 2024-2029), hingga Wakil Ketua DPD Gerindra Sumatera Utara - Aripay membawa semangat yang sama seperti saat ia berdiri di depan kelas: membangun bukan dengan suara keras, tetapi dengan kesadaran.

Politik baginya bukan arena perebutan kuasa, melainkan ladang amal dan pengabdian sosial.

Ia percaya bahwa rakyat tidak butuh banyak janji, tapi butuh bukti sederhana dari pemimpin yang mau mendengar, menyapa, dan hadir dalam kesulitan mereka.

Di tengah hiruk-pikuk politik yang sering melupakan nilai, Aripay Tambunan tetap menegakkan kesantunan sebagai kekuatan moral.

"Menjadi politisi tidak harus kehilangan hati," katanya tenang.

"Kekuasaan hanya sementara, tapi integritas dan kejujuran adalah warisan yang akan tetap hidup."

Keluarga, Sumber Doa dan Keteguhan

Di balik langkah seorang tokoh, selalu ada keluarga yang menjadi tiang doa. Aripay tidak pernah melupakan bahwa keberhasilan publik berakar dari ketenangan rumah.

Istri dan anak-anaknya menjadi penjaga ketulusan dan pengingat bahwa setiap jabatan hanyalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan simbol kebesaran diri.

Dalam setiap keberangkatannya menghadiri sidang atau forum politik, ada restu lembut dari rumah doa yang membuat langkahnya tetap berpijak di bumi.

"Jangan terburu ingin terkenal, tapi berusahalah menjadi berguna. Politik bukan panggung untuk menonjolkan diri, tapi ruang untuk belajar melayani dengan rendah hati".

Kini, di usianya yang matang, Aripay Tambunan tak lagi mengejar popularitas. Ia mengejar makna hidup yang bermanfaat.

Dari ruang pendidikan hingga ruang parlemen, ia tetap berjalan dengan keyakinan yang sama, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Dan jika kelak sejarah menulis namanya, barangkali ia ingin dikenang bukan sebagai politisi besar, melainkan sebagai seorang pendidik yang tak pernah berhenti menyalakan cahaya

Falsafah Hidup Sang Pesilat dari Parlemen dan Ruang Kuliah

Ada yang khas dari sosok Aripay Tambunan seorang anggota DPRD Sumatera Utara yang tak hanya berkiprah di dunia politik, tetapi juga menebar ilmu di dunia akademik.

Ia bukan sekadar politisi, tetapi pendidik. Bukan sekadar dosen di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), melainkan juga di beberapa kampus lain.

Baginya, ilmu dan politik bukan dua dunia yang bertentangan, melainkan dua jalan yang saling menerangi.

"Falsafah hidup saya seperti pesilat," ujarnya suatu hari dengan nada tenang, "ada jurus mundur, tapi semua untuk maju."

Kalimat sederhana itu mencerminkan bagaimana ia melihat kehidupan sebagai ruang latihan jiwa. Dalam diamnya, ia belajar mengukur, dalam langkahnya, ia belajar menundukkan ego.

Ia memandang hidup seperti air yang mengalir jernih, lentur, tapi berdaya dorong kuat. "Mengembang jabatan itu pasti banyak godaan," katanya jujur, "tapi kita harus selalu ingat siapa diri kita; manusia biasa yang diberi titipan."

Aripay menegaskan, semua yang ia capai hanyalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. "Yang bisa kita pegang cuma satu, tanggung jawab!

Karena karakter bisa dilatih, tapi hati… itu ajaran Ibu saya."

Dari ibunya, ia belajar bahwa kekuatan manusia bukan hanya pada kuasa atau kecerdasan, melainkan pada keseimbangan antara akal dan nurani.

"Sejatinya," katanya lirih, "antara tanggung jawab dan hati itu tidak bisa dipisahkan. Mereka harus berjalan paralel."

Dan di situlah letak keikhlasan hal paling sulit, tapi juga paling mulia. "Yang paling susah itu adalah ikhlas," ucapnya lagi, "tapi kita harus terus berupaya untuk ikhlas."

Aripay tetap menjaga irama langkahnya. Ia tahu kapan harus bicara dan kapan harus menepi. Dalam dirinya, publik menemukan sosok yang tidak hanya berpikir logis seperti seorang politisi, tetapi juga menimbang batin seperti seorang guru.

Bagi Aripay, menjadi pemimpin adalah melatih diri setiap hari untuk tetap sederhana di tengah kemegahan jabatan, dan menjadi dosen adalah mengasah nurani agar tetap peka terhadap realitas hidup di sekitar.

Ia hidup dengan prinsip, jabatan hanyalah sementara, tapi ilmu dan ketulusan akan terus mengalir, seperti air meninggalkan kesejukan di mana pun ia melintas. Di kampus USK Banda Aceh, pada tahun 1986, Aripay menemukan dua hal: pertama, bahwa ilmu lebih dari angka dan gelar; kedua, bahwa memberi berarti hadir bukan sekadar hadir di ruangan."

(erni)

Editor
: Indrawan
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru