Kamis, 12 Februari 2026

Sidamanik: Jejak Teh, Peradaban dan Ancaman Konversi Lahan

Administrator - Selasa, 05 Agustus 2025 17:46 WIB
Sidamanik: Jejak Teh, Peradaban dan Ancaman Konversi Lahan
IST
Kebun Teh Sidamanik.

POSMETRO MEDAN,Sidamanik – Di perbukitan Sidamanik yang kerap diselimuti kabut pagi, aroma pucuk teh muda masih tercium lembut, mengingatkan pada sejarah panjang kerja keras, kedisiplinan, dan kemuliaan yang tumbuh dalam kesunyian. Daun-daun teh yang dipetik dengan jemari para petani bukan sekadar menjadi minuman penghangat, tetapi juga menyeduh jejak peradaban yang telah bertahan selama puluhan tahun.

Kini, keheningan itu terancam. Lahan-lahan teh yang selama ini menjadi ikon Sidamanik mulai digeser oleh langkah konversi menuju perkebunan kelapa sawit yang menjanjikan pertumbuhan cepat.

Dampak Ekologis dan Hilangnya Identitas

Baca Juga:

Alih fungsi lahan teh ke sawit bukan hanya soal keuntungan ekonomi. Perubahan ini berisiko mengikis identitas lokal, merusak ekosistem, dan memicu bencana ekologis secara perlahan.

Air yang sebelumnya diserap akar-akar teh dengan sabar berpotensi berubah menjadi aliran banjir. Tanah yang dulunya kokoh kini rentan longsor. Sungai yang selama ini jernih bisa menjadi keruh, sementara sumber air warga yang telah mengalir sejak masa kolonial perlahan mengering.

Baca Juga:

Tak hanya itu, berbagai satwa – mulai dari serangga penyerbuk, kupu-kupu, hingga hewan langka seperti trenggiling, kukang, dan kucing hutan – kehilangan habitatnya. Banyak yang mati, tersesat, atau bermigrasi tanpa arah. Ekosistem yang rapuh itu runtuh dalam diam, tanpa jeritan.

Warisan Planters dan Jiwa yang Menjaga Tanah

Dalam tulisan seorang Direktur Utama PTPN IV, tergambar kisah yang hampir terlupakan tentang para planters – pengelola kebun teh sejak masa kolonial hingga pasca-kemerdekaan – yang membangun fondasi ekonomi Indonesia melalui kerja keras dan kesunyian.

Buku *Jejak di Tanah Deli* menegaskan bahwa sektor perkebunan bukan sekadar penyumbang devisa, tetapi pembentuk watak bangsa. Loyalitas, kerja keras, dan dedikasi lahir dari mimpi besar, bukan sekadar perhitungan untung-rugi.

Bahkan dalam gejolak PRRI tahun 1958, beberapa planters menjadi korban kekerasan. Namun, mereka tetap bertahan, menjaga kebun sekaligus martabat bangsa.

Editor
: Faliruddin Lubis
Tags
beritaTerkait
184,1 Ha Lahan di Desa Pamah Masuk Dalam HGU PT Cinta Raja
Lurah Terjun Ditetapkan Tersangka Kasus Dugaan Pengrusakan Lahan
Waduh, Bertahun Produksi Proyek PTPN IV PAJ Panai Tengah Diduga Masih Dalam Pengkajian
Gugatan Lahan di Dolat Rayat Kandas, Pengadilan Menangkan Pemprov Sumut
Pasca Kerusuhan Lahan di Medan Polonia, Terduga Preman Bersenjata Masih Berkeliaran
Terkelin Harapkan Polrestabes Medan Tindaklanjuti Laporannya
komentar
beritaTerbaru