Sejumlah ulama sepuh, masyayikh, dan tokoh NU se-Sumatera yang hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Tgk KH Aqil Zikrullah dan Tgk KH Ibrahimi dari Aceh; KH Abdul Hamid Ritonga, Buya Syahrial Ams, KH Abdullah Harahap, KH Muhyiddin Masykur, KH Abdullah Nasution, Ustadz H. Idrus Hasibuan, KH M. Roihan Nasution, Syekh Nuruddin bin Amir, KH Sariman Al-Faruq, Buya Mardin Assidiqie, H. Muhammad Daud, dan KH Akhyar Nasution dari Sumatera Utara.
Selain itu hadir pula KH Sholahudin Syargawi Al-Qodiri (Jambi), Datok Kiyai Haji Endy Maulidi (Kepulauan Riau), KH Al Mawardi dan KH Ichsan Habibi (Bangka Belitung), KH Nur Kholidin dan Ustadz Heri Sulamto (Sumatera Barat), H. Khosairi (Riau), serta KH Soleh Bajuri, KH Imam Suhadi, dan H. Okta Rijaya M. (Lampung).
Baca Juga:
Sekadar diketahui Dawuh Masyayikh Ploso dan Tebuireng berarti nasihat, titah, atau petunjuk para kiai sepuh (masyayikh) dari Pesantren Ploso dan Pesantren Tebuireng, yang memiliki otoritas keilmuan dan moral sangat tinggi dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam tradisi pesantren dan NU, dawuh berarti amanat, perintah, atau nasihat yang wajib dihormati dan dijadikan pedoman oleh santri dan warga nahdliyin.
Baca Juga:
Masyayikh, jamak dari syekh, yakni para kiai sepuh atau ulama besar yang memiliki kedalaman ilmu, akhlak, dan keteladanan, serta diakui kewibawaannya.
Ploso dan Tebuireng, Pesantren Ploso (Kediri) dan Pesantren Tebuireng (Jombang) adalah dua pesantren bersejarah dan sangat berpengaruh dalam perjalanan NU. Tebuireng merupakan pesantren yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU, sehingga pandangan para kiai dari dua pesantren ini memiliki bobot moral dan historis yang kuat.
Jadi, makna dalam konteks NU Dawuh Masyayikh Ploso dan Tebuireng dimaknai sebagai arahan para kiai sepuh agar seluruh struktur NU, termasuk PBNU, bersikap patuh (sami'na wa atho'na), mengutamakan islah (rekonsiliasi), serta menjaga keutuhan jam'iyyah dan jamaah NU demi kemaslahatan umat.
Singkatnya, istilah tersebut merujuk pada petunjuk moral dan keagamaan yang dianggap harus diikuti oleh warga NU karena bersumber dari ulama-ulama paling otoritatif dalam tradisi NU.(REL/KIF)
Tags
beritaTerkait
komentar