Selasa, 31 Maret 2026

Ulama Sepuh dan Tokoh NU se-Sumatera Serukan PBNU Sami’na Wa Atho’na Dawuh Masyayikh Ploso dan Tebuireng

Faliruddin Lubis - Selasa, 16 Desember 2025 09:39 WIB
Ulama Sepuh dan Tokoh NU se-Sumatera Serukan PBNU Sami’na Wa Atho’na Dawuh Masyayikh Ploso dan Tebuireng
IST/KIF
pertemuan silaturahim ulama NU se-Sumatera yang digelar di Pesantren Mawaridussalam, Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Minggu (14/12/2025) sore.

POSMETRO MEDAN,Deliserdang– Para ulama sepuh, masyayikh, dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) se-Pulau Sumatera menyerukan kepada jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) agar segera melakukan islah atau rekonsiliasi demi mengakhiri dinamika internal yang terjadi belakangan ini.

Menurut mereka, langkah tersebut merupakan jalan paling maslahat demi menjaga marwah jam'iyyah NU.

Seruan itu disampaikan dalam pertemuan silaturahim ulama NU se-Sumatera yang digelar di Pesantren Mawaridussalam, Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Minggu (14/12/2025) sore.

Baca Juga:

Pertemuan tersebut dipimpin oleh Rois PWNU Sumatera Utara, KH Abdul Hamid Ritonga, dan dihadiri tokoh NU lintas generasi, di antaranya Syekh Syahrial Ams, serta sejumlah ulama sepuh dan masyayikh dari berbagai provinsi di Sumatera.

Dalam mukadimahnya, KH Abdul Hamid Ritonga menjelaskan bahwa silaturahim tersebut dilandasi niat ikhlas untuk menjaga marwah NU sebagai jam'iyyah ulama.

Baca Juga:

Ia berharap pertemuan ini dapat menjadi ikhtiar bersama agar tercipta islah di tubuh PBNU. "Pertemuan ini didasari rasa ikhlas dan harapan kepada Allah SWT agar terwujud islah sebagai jalan terbaik di jajaran PBNU," ujarnya.

Meski dalam diskusi muncul beragam pandangan dan masukan dari para peserta, pertemuan tersebut akhirnya mengerucut pada satu kesepakatan bersama yang dituangkan dalam pernyataan sikap para Ulama Sepuh, Masyayikh, dan Tokoh NU se-Sumatera.

Pernyataan sikap tersebut dibacakan langsung oleh KH Abdul Hamid Ritonga. Pertama, para ulama menyerukan kepada PBNU agar melakukan islah dengan sami'na wa atho'na terhadap dawuh masyayikh NU di Ploso dan Tebuireng demi kemaslahatan jamaah dan jam'iyyah.

Kedua, islah tersebut diharapkan melibatkan unsur Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), mustasyar, serta zuriyat muassis NU, guna menegaskan kembali mandat Muktamar NU ke-34 di Lampung, yakni menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2021–2026.

Ketiga, para ulama mengajak seluruh PWNU dan PCNU se-Indonesia untuk mematuhi dawuh masyayikh NU, serta terus menggelar istighatsah dan berdoa kepada Allah SWT agar NU semakin kuat, jaya, dan memberikan kemaslahatan bagi umat, kemajuan bangsa, serta menjadi rahmat bagi semesta alam.

Sejumlah ulama sepuh, masyayikh, dan tokoh NU se-Sumatera yang hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Tgk KH Aqil Zikrullah dan Tgk KH Ibrahimi dari Aceh; KH Abdul Hamid Ritonga, Buya Syahrial Ams, KH Abdullah Harahap, KH Muhyiddin Masykur, KH Abdullah Nasution, Ustadz H. Idrus Hasibuan, KH M. Roihan Nasution, Syekh Nuruddin bin Amir, KH Sariman Al-Faruq, Buya Mardin Assidiqie, H. Muhammad Daud, dan KH Akhyar Nasution dari Sumatera Utara.

Selain itu hadir pula KH Sholahudin Syargawi Al-Qodiri (Jambi), Datok Kiyai Haji Endy Maulidi (Kepulauan Riau), KH Al Mawardi dan KH Ichsan Habibi (Bangka Belitung), KH Nur Kholidin dan Ustadz Heri Sulamto (Sumatera Barat), H. Khosairi (Riau), serta KH Soleh Bajuri, KH Imam Suhadi, dan H. Okta Rijaya M. (Lampung).

Sekadar diketahui Dawuh Masyayikh Ploso dan Tebuireng berarti nasihat, titah, atau petunjuk para kiai sepuh (masyayikh) dari Pesantren Ploso dan Pesantren Tebuireng, yang memiliki otoritas keilmuan dan moral sangat tinggi dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam tradisi pesantren dan NU, dawuh berarti amanat, perintah, atau nasihat yang wajib dihormati dan dijadikan pedoman oleh santri dan warga nahdliyin.

Masyayikh, jamak dari syekh, yakni para kiai sepuh atau ulama besar yang memiliki kedalaman ilmu, akhlak, dan keteladanan, serta diakui kewibawaannya.

Ploso dan Tebuireng, Pesantren Ploso (Kediri) dan Pesantren Tebuireng (Jombang) adalah dua pesantren bersejarah dan sangat berpengaruh dalam perjalanan NU. Tebuireng merupakan pesantren yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU, sehingga pandangan para kiai dari dua pesantren ini memiliki bobot moral dan historis yang kuat.

Jadi, makna dalam konteks NU Dawuh Masyayikh Ploso dan Tebuireng dimaknai sebagai arahan para kiai sepuh agar seluruh struktur NU, termasuk PBNU, bersikap patuh (sami'na wa atho'na), mengutamakan islah (rekonsiliasi), serta menjaga keutuhan jam'iyyah dan jamaah NU demi kemaslahatan umat.

Singkatnya, istilah tersebut merujuk pada petunjuk moral dan keagamaan yang dianggap harus diikuti oleh warga NU karena bersumber dari ulama-ulama paling otoritatif dalam tradisi NU.(REL/KIF)

Tags
beritaTerkait
Perkuat Sinergi Pembangunan Kota Medan Camat Medan Selayang Hadiri Diskusi Tematik RKPD 2027
Pererat Silaturahmi Satukan Tokoh Medan, Rico Waas dan Zakiyuddin Harahap Hadiri Halal Bihalal di Rumah Afif Abdillah
4,2 Kg Sabu Jaringan Internasional Gagal Masuk Asahan
Kapolda Sumut Tinjau Langsung Operasi Ketupat Toba 2026 di Berastagi
Kapolda Sumut Whisnu Hermawan Sapa Warga di Berastagi, Ciptakan Kehangatan di Tengah Pengamanan Lebaran
Gelorakan Semangat Olahraga, Polda Sumut Gelar "Road to Kemala Run 2026" di Medan
komentar
beritaTerbaru