Senin, 27 April 2026

Sabuk yang Menyatukan, Keseriusan yang Dibuktikan

Toga Nainggolan - Senin, 27 April 2026 08:36 WIB
Sabuk yang Menyatukan, Keseriusan yang Dibuktikan
Adam WS
Kapoldasu Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, S.I.K., M.H memberikan pengarahan.

Dalam satu hari, Polda Sumut menggelar dua agenda besar. Dari apel akbar hingga simulasi, memastikan keamanan dengan kesiapan yang tak bisa ditawar.

Langit pagi di belakang Markas Polda Sumatera Utara tampak cerah ketika barisan mulai dibentuk: rapi, bersemangat, dan kolosal. Tidak kurang dari 1.500 perwakilan dari berbagai elemen masyarakat berkumpul dalam Apel Akbar Sabuk Kamtibmas, Jumat (24/4/2026) lalu.

Di tengah lapangan, suara komando terdengar tegas, namun tidak berlebihan. Sosok yang berdiri di podium itu bukan tipe yang gemar berpanjang kata, tetapi setiap kalimatnya terasa seperti garis tebal yang menegaskan arah.

Baca Juga:

Kapoldasu, Irjen Pol. Whisnu Hermawan Februanto, S.I.K., M.H., kembali menegaskan sesuatu yang sederhana, tapi sering luput: keamanan tidak pernah bisa ditopang oleh satu pihak saja.

"Sabuk melambangkan ikatan yang menyatukan Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat sebagai satu sistem pengamanan yang saling terhubung, menopang, dan menguatkan," tegasnya.

Baca Juga:

Lebih dari sekadar simbol, sabuk adalah metafora tentang keterhubungan yang mengikat Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam satu sistem yang saling menopang.

Gagasan itu terasa relevan, bahkan mendesak. Sumatera Utara hari ini bukan tanpa tantangan. Dari jalanan kota hingga lorong-lorong permukiman, gangguan keamanan hadir dalam berbagai wajah: tawuran remaja, begal, balap liar, hingga kenakalan yang semakin sulit diprediksi. Di sisi lain, ancaman yang lebih senyap tapi mematikan juga terus bergerak, peredaran narkotika yang, sejak awal 2026 saja, telah menyentuh 1.748 kasus.

Namun yang menarik, pendekatan Kapolda tidak berhenti pada daftar masalah. Ia langsung mengarah pada sikap. Tegas, bahkan keras, ketika menyangkut kejahatan jalanan. Instruksinya jelas: tidak ada kompromi bagi pelaku begal.

Di saat yang sama, ia juga mengingatkan bahwa ancaman hari ini tidak selalu kasatmata. Hoaks, provokasi, dan penggiringan opini bisa menjadi pemicu konflik sosial yang jauh lebih luas dampaknya. Dalam konteks ini, keamanan bukan lagi sekadar soal patroli, tetapi juga soal kesadaran kolektif.

Di titik inilah karakter kepemimpinan Whisnu terasa. Ia bukan figur yang mengandalkan retorika panjang. Pesan-pesannya ringkas, langsung, dan cenderung operasional. Namun justru dari situlah muncul kesan bahwa ia lebih memilih kerja nyata ketimbang sekadar membangun citra.

Pendekatan itu pula yang tampaknya ingin diturunkan ke seluruh jajaran. Dari tingkat provinsi hingga ke wilayah hukum terkecil, konsep "Sabuk Kamtibmas" didorong untuk benar-benar hidup, bukan sekadar slogan.

Sispamkota

Hanya jeda sekejap setelah barisan di lapangan apel dibubarkan, halaman belakang Polda kembali menyaksikan gelora. Jika sebelumnya pesan tentang "ikatan" disampaikan dalam kata-kata, maka berikutnya ia dipertunjukkan dalam gerak dan aksi nyata.

Di lapangan berbeda, simulasi Sistem Pengamanan Kota (Sispam Kota) digelar. Atraksi yang menjadi potret bagaimana sebuah konsep keamanan dijalankan dalam situasi yang paling konkret.

Kapoldasu, didampingi Wakapolda Brigjen Pol Sonny Irawan SIK, MH kembali hadir, kali ini tidak hanya berdiri di podium tetapi juga mengamati langsung jalannya setiap skenario. Dari tahap awal pengamanan hingga eskalasi situasi, semuanya diperagakan berlapis, seperti menghadirkan potongan-potongan kemungkinan yang bisa terjadi di kota sebesar Medan.

Massa yang awalnya terkendali, perlahan berubah menjadi tekanan. Dari kondisi hijau ke kuning, lalu merah. Suasana memanas. Dalam hitungan menit, simulasi bergerak ke fase yang lebih ekstrem: kerusuhan, penjarahan, penyanderaan, hingga ancaman bahan peledak. Semua ditangani dengan pola yang telah dilatih berulang-ulang.

"Latihan ini bukan sekadar formalitas," ujar Whisnu, singkat. Kalimat yang kembali mencerminkan gaya kepemimpinannya, tidak banyak kata, tetapi langsung pada substansi. Baginya, kesiapan tidak dibangun dari seremoni, melainkan dari konsistensi latihan yang diuji dalam situasi mendekati nyata.

Yang terlihat di lapangan memang bukan sesuatu yang lahir dalam sehari. Koordinasi antar satuan berjalan tanpa banyak jeda. Setiap peran tampak sudah dipahami. Di titik ini, simulasi menjadi lebih dari sekadar latihan, ia menjadi indikator sejauh mana sistem itu benar-benar hidup.

Menjaga Kesiapsiagaan

Kepada media seusai acara, Wakapoldasu menyebut Sispamkota adalah bagian dari upaya menjaga kesiapsiagaan sekaligus merawat sinergi lintas sektor. Ia mengaitkannya dengan apel Sabuk Kamtibmas yang sebelumnya digelar, yang melibatkan sekitar 1.500 peserta dari berbagai elemen masyarakat. Dua kegiatan itu, dalam satu hari yang sama, seperti dua sisi dari satu gagasan: kolaborasi.

Pesan yang dibangun tetap konsisten, keamanan bukan monopoli institusi.

Di level operasional, Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak, S.I.K., M.H., menjelaskan bahwa simulasi ini merupakan puncak dari rangkaian panjang persiapan. Tactical floor game, latihan berbasis skenario, hingga detail teknis di lapangan telah dirancang untuk mendekati kondisi riil. Artinya, setiap kemungkinan sudah dipikirkan sebelumnya untuk diantisipasi.

Ke depan, pola latihan ini tidak akan berhenti di satu titik. Ia akan dibawa lebih dekat ke masyarakat, ke titik-titik strategis di Kota Medan, dengan pendekatan yang juga melibatkan sosialisasi. Sebuah langkah yang menunjukkan bahwa kesiapan aparat berjalan beriringan dengan kesiapan publik.

Di sisi lain, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas yang juga turut menyaksikan jalannya simulasi, menangkap kesan yang sama: keseriusan. Baginya, apa yang ditampilkan hari itu memberi keyakinan bahwa stabilitas kota bukan sesuatu yang dibiarkan berjalan sendiri, melainkan dijaga dengan perencanaan dan latihan yang terukur.

Pada akhirnya, rangkaian hari itu, dari apel hingga simulasi, membentuk satu narasi utuh. Gagasan "Sabuk Kamtibmas" bukan berhenti pada simbol, tetapi diterjemahkan ke dalam sistem yang bisa diuji, diukur, dan dijalankan.

Dan di balik itu semua, tampak satu benang merah yang konsisten: kepemimpinan yang tidak banyak bicara, tetapi memilih memastikan bahwa setiap elemen benar-benar bekerja.

Editor
: Salamuddin Tandang
Tags
beritaTerkait
Polda Sumut Gaspol! Apel Akbar dan Simulasi SISPAM Medan Tegaskan Komitmen Jaga Kondusifitas
Kapolda Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto: "Kesiapan itu Dibangun dari Proses Latihan yang Konsisten"
Medan Perkuat Pengamanan Lewat Tactical Floor Game Sispamkota
Kombes Pol Dr Jean Calvijn Simanjuntak SIK MH: Jangan Sampai Ada Hari Berlalu Tanpa Dampak
Duka Dari Sembahe, Lima Tewas Terkena Longsor, Kapolrestabes Medan Prioritaskan Evakuasi Berikut Foto-fotonya
Zakiyuddin Harahap Sambut Hangat Tamu Halalbihalal, Pererat Silaturahmi di Kota Medan
komentar
beritaTerbaru