Kamis, 11 Juni 2026

Banjir di Sumatera: Bencana yang Dilahirkan dan Dibesarkan Oleh Penguasa dan Kapitalisme

Evi Tanjung - Kamis, 04 Desember 2025 17:57 WIB
Banjir di Sumatera: Bencana yang Dilahirkan dan Dibesarkan Oleh Penguasa dan Kapitalisme
Ist
Banjir bandang yang menghasilkan kayu gelondongan

Dengan meluaskan kebun sawit, pengusaha kelapa sawit menebang lebih banyak pohon, membuat lahan tandus yang menyebabkan air tidak dapat lagi tertopang tanah, dan akhirnya menimbulkan banjir. Ini ditunjukkan dengan banyaknya gelondongan kayu yang tersapu banjir dan sempat direkam oleh warga, disebar luas di media sosial. Kayu inilah hasil pembabatan hutan.

Bahkan, saat ini Prabowo Subianto selaku Presiden kita saat menengok korban banjir di Kasai Permai, Padang Pariaman, dia harus menebar ujaran manis kepada warga. Dia tanya kepada mereka.

"Kalian suka enggak kalau saya sikat itu maling semua?" Ujar Prabowo

Tetapi ini seperti maling teriak maling, karena maling-maling yang dimaksud Prabowo adalah teman-temannya sendiri, kelas kapitalis yang telah menjarah kekayaan tanah air, menghisap habis sumber daya Sumatera, memeras kelas pekerja dan kaum miskin di sana, menyebabkan banjir bandang, penderitaan dan keresahan di mana-mana.

Tetapi kata-kata Prabowo tidak mengubah realita. Dia adalah bagian dari kelas kapitalis yang sama, yang bertanggungjawab terhadap kerusakan dan bencana ini.

Sampai sekarang, Pemerintah Pusat belum menetapkan banjir di Sumatera sebagai Bencana Nasional. Ini berarti penanganan banjir diserahkan ke pemerintahan daerah, dengan bantuan kecil-kecilan dari Pemerintah Pusat.

Hal ini mereka lakukan karena mereka sedang menghitung-hitung anggaran karena uangnya tidak cukup untuk menyelamatkan rakyatnya sendiri. APBN mereka simpan untuk membayar utang yang menggunung kepada kapitalis, dan oleh karenanya, mereka siap mengorbankan jutaan jiwa rakyat jelata.

Kelas pekerja dan kaum muda melihat ini dengan mata terbuka. Reaksi di media sosial terhadap banjir ini menunjukkan adanya kemuakan massa dengan tingkah laku penguasa. Di Instagram muncul beragam posting tentang asal-muasal banjir di Sumatera, yang disebarkan oleh puluhan bahkan ribuan akun media sosial. Mereka dengan tepat menunjukkan bahwa banjir ini akibat eksploitasi alam berlebihan, oleh para pengusaha dan didukung oleh para pejabat-yang seringkali merupakan orang yang sama.

Mereka bahkan menyebarkan meme bahwa sementara pejabat dan pengusaha meminta rakyat berserah diri kepada Tuhan atas banjir ini, padahal mereka sendiri penyebab banjirnya.

Sementara media liberal Tempo berupaya mengalihkan perhatian kita dari biang kerok yang sesungguhnya, dengan mengatakan bahwa banjir ini adalah "ulah manusia". Tetapi ulah manusia yang mana? Apakah mayoritas manusia yang menderita akibat banjir atau kapitalis pembalak hutan beserta parasit di pemerintahan mereka? Kenyataannya hampir mayoritas masyarakat sama sekali tidak menikmati keuntungan atas pembalakan hutan, tapi justru menderita darinya.

Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru