Minggu, 29 Maret 2026

Bencana Sumatera: Kemanusiaan di Atas Segala-galanya

Oleh: Ir. H. Abdullah Rasyid, ME
Salamuddin Tandang - Jumat, 12 Desember 2025 13:43 WIB
Bencana Sumatera: Kemanusiaan di Atas Segala-galanya
Ist
Ir. H. Abdullah Rasyid, ME saat menyapa warga binaan.

Ini membuktikan bahwa di saat krisis, ikatan manusiawi ternyata dapat melampaui vonis pengadilan. Dampak seperti ini memperlihatkan bagaimana bencana memaksa kita merefleksikan ulang nilai-nilai dasar, di mana empati dan saling tolong menjadi penyelamat utama di tengah kehancuran.

Pertanyaan mendasar yang muncul dari tragedi ini adalah apakah kita harus menunggu terjadinya bencana untuk menerima sebuah reintegrasi sosial ?

Baca Juga:

Tidak. Reintegrasi sosial seharusnya selalu menjadi agenda proaktif, bukan reaktif terhadap krisis. Dalam konteks bencana Sumatera, reintegrasi terlihat jelas pada warga binaan Lapas Kuala Simpang yang dilepaskan, dan berpotensi untuk berkontribusi langsung sebagai relawan kemanusiaan, atau seperti kasus hakim yang diselamatkan, di mana mantan warga binaan membuktikan nilai kemanusiaan mereka berada di luar stigma.

Di Indonesia, di mana overcrowding lapas masih mencapai 150 persen dan reintegrasi sering sekali terabaikan, bencana seperti ini justru menjadi pengingat pahit bahwa tanpa adanya pendekatan yang preventif, kita bisa dengan mudah kehilangan peluang untuk membangun masyarakat yang inklusif.

Baca Juga:

Bayangkan jika reintegrasi dapat dilakukan secara rutin—melalui kerja sama antara Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dengan komunitas lokal—maka warga binaan bisa menjadi aset dalam pencegahan bencana, seperti pemantauan lingkungan atau respons darurat.

Menunggu bencana berarti mengabaikan potensi manusiawi. Sebaliknya, reintegrasi proaktif akan memperkuat resiliensi sosial, mengurangi stigma, dan membangun jaring pengaman yang kolektif. Ini bukan hanya soal keadilan, tetapi juga efisiensi agar masyarakat yang inklusif lebih kuat ketika sedang menghadapi ujian alam.

Lembaga pemasyarakatan (Lapas) memiliki peran yang krusial dalam penanggulangan bencana seperti di Sumatera, tidak hanya sebagai "korban" tetapi juga sebagai mitra yang aktif. Di tengah banjir, lapas seperti Kuala Simpang terbukti rentan, tetapi ini bisa diubah menjadi satu kekuatan. Lembaga Pemasyarakatan dapat berperan dengan menyediakan fasilitas sebagai shelter darurat bagi pengungsi, karena struktur bangunannya cukup kokoh dan dilengkapi dengan logistik dasar. Selain itu, warga binaan yang dilepaskan juga dapat dilibatkan sebagai relawan terlatih—misalnya dalam mendistribusi bantuan, evakuasi, atau rekonstruksi infrastruktur—seperti yang terlihat dalam kisah penyelamatan hakim. Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) telah menunjukkan inisiatif dengan membebaskan warga binaan atas dasar kemanusiaan, kebijakan ini harus terus dapat dikembangkan hingga menjadi program yang permanen seperti; melakukan pelatihan respons bencana bagi narapidana, simulasi evakuasi atau keterampilan dalam melakukan pertolongan pertama.

Strategi preventif terbaik untuk kedepannya, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan bisa mengadopsi berbagai pendekatan yang berbasis resiko melalui pembangunan lapas yang tahan terhadap bencana dengan desain drainase yang canggih dan terintegrasi juga dengan teknologi pemantauan cuaca dan early warning system, terutama di wilayah rawan bencana seperti Sumatera.

Mari kita renungkan bersama, bahwa bencana yang baru saja terjadi di Sumatera tidak hanya menjadi ujian kolektif bagi bangsa kita, tetapi juga merupakan peluang untuk memperkuat ikatan kemanusiaan. Kepada Pemerintah Daerah di Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat, tetaplah bersabar dalam mengkordinasikan bantuan dan melaksanakan proses rekonstruksi.

Kepada masyarakat yang terdampak—para pengungsi, keluarga korban, dan relawan—tetaplah tegar di tengah duka karena gotong royong adalah kekuatan kita, Ingatlah, "Humanitas super omnia" akan membawa kita melewati badai ini.(*)

Tags
beritaTerkait
Lapas di Aceh Tamiang Banjir Seatap, Warga Binaan Terpaksa Dilepas
Kalapas I Palembang Ikuti Penguatan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan di Rutan I Palembang
Menteri Imipas Agus Andrianto Pimpin Apel Pegawai Bersama, Rutan Tarutung Turut Hadir dalam Virtual Zoom
komentar
beritaTerbaru