Kamis, 12 Februari 2026

Kasus Pembunuhan Anak 12 Tahun , Pendiam Bukan Berarti tak Bermasalah

Administrator - Minggu, 14 Desember 2025 11:50 WIB
Kasus Pembunuhan Anak 12 Tahun , Pendiam Bukan Berarti  tak Bermasalah
Ist
Pengamat sosial Sumatera Utara/Ketua Prodi Kesejahteraan FISIP USU, Dr. Agus Suriadi, M.Si,

POSMETRO MEDAN, Medan -

Peristiwa pembunuhan ibu kandung oleh anak keduanyaL yang masih berusia 12 tahun di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Rabu (10/12/2025) lalu, masih menyisakan banyak tanda tanya.

Bukan sedikit warga yang tidak percaya bahwa sang anak tega dan mampu melakukan pembunuhan terhadap ibunya dengan sekitar 20 tusukan.

Warga sekitar yang mengenal keluarga tersebut mengaku hubungan keduanya tampak akrab. Namun, mereka membenarkan bahwa sang anak memiliki sifat introvert dan jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar rumahnya.

Kasus ini memunculkan pertanyaan serius, apakah anak seusia itu mampu melakukan tindakan ekstrem, dan apakah sifat introvert meningkatkan risiko perilaku agresif? Meski motif sebenarnya masih didalami pihak kepolisian, sempat beredar informasi sebelum peristiwa itu terjadi, sempat ada teguran sang ibu terhadap anak pertamanya. Situasi tersebut diduga turut memicu ketegangan emosional di dalam rumah.

Menanggapi hal ini, pengamat sosial Sumatera Utara, Dr. Agus Suriadi, M.Si, mengatakan bahwa perilaku ekstrem pada anak tidak bisa dilepaskan dari kombinasi faktor psikologis dan lingkungan sosial. Anak yang introvert dan minim interaksi sosial berisiko memendam emosi yang tidak tersalurkan, yang jika tidak dikelola dengan baik, bisa berkembang menjadi tindakan agresif atau menyimpang.

Agus yang juga Ketua Prodi Kesejahteraan FISIP USU itu menilai lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak, terutama anak dengan kecenderungan introvert.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang mendukung keterbukaan, komunikasi, dan interaksi sosial umumnya lebih mampu menyalurkan emosi serta beradaptasi dengan situasi di sekitarnya. Sebaliknya, lingkungan yang minim dukungan atau terlalu menekan dapat memperkuat sifat tertutup, membuat anak merasa tidak aman untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya.

Sifat introvert yang tidak diimbangi dengan ruang ekspresi yang sehat berpotensi menyebabkan penumpukan emosi. Anak-anak yang jarang berinteraksi dan tidak memiliki saluran komunikasi yang memadai cenderung memendam perasaan seperti marah, sedih, atau frustrasi. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berkembang menjadi kecemasan, depresi, bahkan ledakan emosi yang tidak terkontrol.

Dalam konteks keluarga, keberadaan ruang komunikasi yang aman menjadi faktor kunci. Keluarga yang mampu menciptakan suasana terbuka akan membantu anak pendiam merasa didengar dan dipahami.

Editor
: Evi Tanjung
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru