Nyaris tidak ada sentuhan hukum di kawasan ini. Aturan yang berlaku di sana seperti satu 'negara' di dalam negara. Kombes Pol Jean Calvijn mengungkapkan, lokasi ini dikenal sebelumnya sebagai rumah besar bagi para pelaku kriminal. Mereka merasa bebas dan terlindung di dalamnya.
"Selama bertahun-tahun, upaya penindakan di tempat ini mendapat perlawanan sengit dari massa yang terorganisir," tutur mantan Direktur Res Narkoba Polda Sumut ini.
Baca Juga:

Apabila ada petugas yang berusaha melakukan upaya paksa, mereka berani melakukan intimidasi, menyekap, hingga melempari. Bahkan, sindikat itu merampas barang bukti dan memaksa petugas melepaskan tersangka.
Baca Juga:
Menyaksikan itu, masyarakat sempat apatis dan pernah merasa bahwa negara tidak dapat menggunakan kekuasaannya untuk menutup kartel narkoba yang meresahkan dan makin terang-terangan tersebut.
Jean Calvijn menegaskan di hadapan personel gabungan TNI, BNN Sumut, Brimob, dan Satpol PP, masa-masa kelak itu telah berakhir.
"Ini tidak boleh lagi terjadi. Malam ini kita berdiri di sini untuk memastikan hukum hadir dan negara tidak kalah," kata Kapolrestabes Medan yang telah memimpin setidaknya delapan kali penyergapan ke Jermal 15, hanya dalam kurun 100 hari sejak ia menjabat posisi nomor satu di Markas Jalan HM Said No. 1 Medan.
Sepanjang arahannya yang cukup emosional, Kapolrestabes mengingatkan bahwa apa yang mereka lakukan adalah investasi masa depan bagi generasi muda Indonesia. Di tengah tantangan bonus demografi, generasi usia produktif bangsa juga terancam hancur karena ketergantungan narkotika.
Pada operasi-operasi gabungan sebelumnya, petugas diperintahkan membakar pondok-pondok yang diduga telah dipakai sebagai sarana perjudian dan transaksi penjualan narkoba.
Pada malam hari, pemandangan api yang melalap sarang kejahatan itu tampak dramatis. Polisi sengaja melakukan operasi mendadak pada malam hari untuk menghindari persiapan para pelaku kriminal dan memberikan efek kejut.
Tags
beritaTerkait
komentar