Minggu, 29 Maret 2026
Ratakan Jermal dari Narkoba dan Judi, Misi Kemanusiaan Jean Calvijn Simanjuntak

Negara Tidak Kalah!

Faliruddin Lubis - Jumat, 16 Januari 2026 11:25 WIB
Negara Tidak Kalah!
IST
Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak, S.I.K., M.H., memimpin penggerebekan di jantung kawasan Jermal, Sabtu (10/1/2026).

POSMETRO MEDAN, Medan- Bertahun-tahun lamanya kawasan ini gelap. Bukan karena ketiadaan lampu penerang. Tapi karena menjadi salah satu sumber penyakit masyarakat yang mengancam masa depan generasi bangsa.

Siapa yang tidak mengenal Jalan Jermal 15 di Medan? Inilah benteng pertahanan kartel narkoba dan praktik perjudian liar terbesar dan paling terbuka di wilayah hukum Kota Medan.

Tapi kini, sejarah itu telah berakhir. Masyarakat seperti tidak percaya, dan tentu sangat berterimakasih. Tidak banyak yang menyangka, negara akhirnya hadir di pusat dunia hitam itu. Bahkan meratakannya tanpa sisa.

Baca Juga:

"Ini adalah misi kemanusiaan," tegas Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak, S.I.K., M.H., di hadapan anak buahnya ketika memimpin apel Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD) di jantung kawasan yang merupakan tanah garapan eks HGU PTPN I Regional 1 itu, Sabtu (10/1/2026).

Baca Juga:

Hampir semua wilayah perbatasan dan pinggiran Kota Medan adalah eks HGU PTPN II yang kini telah bertransformasi menjadi PTPN I Regional 1 sebagai Divisi Supporting BUMN Perkebunan di bawah Holding PTPN III (Persero).

Dahulunya kawasan ini ditanami tembakau deli, kemudian diganti dengan kelapa sawit, coklat, dan karet. Setelah sebagian besar HGU-nya berakhir dan tidak diperpanjang lagi pada tahun 2000-an, bekas lahan perkebunan BUMN ini menjadi objek garapan masyarakat yang menimbulkan polemik dan konflik agraria berkepanjangan.

Jalan Jermal 15 dan sekitarnya merupakan bagian dari "kawasan tak bertuan" itu, yang kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok orang menjadi pusat peredaran narkoba yang dirangkai dengan berbagai kegiatan perjudian.

Mereka mendirikan pondok-pondok pendukung dan rumah berkedok hunian untuk berbagai kegiatan ilegal, bahkan memasang portal khusus untuk pemeriksaan tidak resmi kepada para tamu yang datang.

Nyaris tidak ada sentuhan hukum di kawasan ini. Aturan yang berlaku di sana seperti satu 'negara' di dalam negara. Kombes Pol Jean Calvijn mengungkapkan, lokasi ini dikenal sebelumnya sebagai rumah besar bagi para pelaku kriminal. Mereka merasa bebas dan terlindung di dalamnya.

"Selama bertahun-tahun, upaya penindakan di tempat ini mendapat perlawanan sengit dari massa yang terorganisir," tutur mantan Direktur Res Narkoba Polda Sumut ini.

Apabila ada petugas yang berusaha melakukan upaya paksa, mereka berani melakukan intimidasi, menyekap, hingga melempari. Bahkan, sindikat itu merampas barang bukti dan memaksa petugas melepaskan tersangka.

Menyaksikan itu, masyarakat sempat apatis dan pernah merasa bahwa negara tidak dapat menggunakan kekuasaannya untuk menutup kartel narkoba yang meresahkan dan makin terang-terangan tersebut.

Jean Calvijn menegaskan di hadapan personel gabungan TNI, BNN Sumut, Brimob, dan Satpol PP, masa-masa kelak itu telah berakhir.

"Ini tidak boleh lagi terjadi. Malam ini kita berdiri di sini untuk memastikan hukum hadir dan negara tidak kalah," kata Kapolrestabes Medan yang telah memimpin setidaknya delapan kali penyergapan ke Jermal 15, hanya dalam kurun 100 hari sejak ia menjabat posisi nomor satu di Markas Jalan HM Said No. 1 Medan.

Sepanjang arahannya yang cukup emosional, Kapolrestabes mengingatkan bahwa apa yang mereka lakukan adalah investasi masa depan bagi generasi muda Indonesia. Di tengah tantangan bonus demografi, generasi usia produktif bangsa juga terancam hancur karena ketergantungan narkotika.

Pada operasi-operasi gabungan sebelumnya, petugas diperintahkan membakar pondok-pondok yang diduga telah dipakai sebagai sarana perjudian dan transaksi penjualan narkoba.

Pada malam hari, pemandangan api yang melalap sarang kejahatan itu tampak dramatis. Polisi sengaja melakukan operasi mendadak pada malam hari untuk menghindari persiapan para pelaku kriminal dan memberikan efek kejut.

Sejak penggerebekan pertama di akhir 2025, pamor Jermal 15 sebagai pusat narkoba yang menyeramkan, mulai pudar. Polri tampaknya sudah bertekad menyapu bersih kawasan kejahatan terorganisir itu hingga tidak bisa tumbuh lagi.

Kota Medan dan sekitarnya memang sering mengalami gelombang pasang surut dalam bisnis gelap narkoba dan perjudian. Kisah Kampung Kubur, misalnya. Pusat perdagangan benda haram di Kelurahan Petisah Tengah ini telah dikenal bertahun-tahun, dan citra tempat itu seolah-olah tidak akan mungkin berubah.

Bisnis narkoba bahkan telah menyebabkan tumbuhnya bisnis pendukung yang dikerjakan masyarakat sekitarnya, sehingga persoalan hukumnya juga sudah bertemali dengan masalah sosial yang lebih rumit lagi.

Kampung Kubur lahir pada kisaran tahun 1873 saat perkebunan tembakau deli dibuka. Rombongan pertama etnik Tamil yang tiba di Medan tercatat sebanyak 25 orang, dipekerjakan oleh Jacob Nienhuys, seorang pengusaha dari Belanda.

Seiring dengan perkembangan perkebunan tembakau dan bertambahnya kebutuhan tenaga kerja, orang-orang Tamil dari India Selatan datang menyusul dan menetap di Kampung Madras. Orang tempatan menjuluki tempat ini sebagai Kampung Keling.

Kampung Kubur sendiri merupakan bagian dari Kampung Madras yang dihuni oleh warga India Muslim etnis Tamil. Dinamakan Kampung Kubur, karena di sana terdapat area pekuburan Melayu lama. Tepatnya di belakang Masjid Gaudiyah, yang diwakafkan Sultan Deli untuk warga muslim India Selatan.

Setelah era kemerdekaan, Kampung Kubur berkembang menjadi kawasan padat dan kumuh. Kemiskinan sosial menjadikan lokasi ini sebagai tempat yang subur untuk peredaran narkoba. Sebagian masyarakat menjadikannya sebagai mata pencaharian dan menghidupi keluarga dari transaksi illegal.

Tapi era itu juga telah berakhir, yang kemudian disusul oleh kabar runtuhnya barak-barak narkoba dan perjudian di Binjai dan sekitarnya yang sempat menimbulkan persoalan sosial dan politik. Kini Kampung Kubur telah berubah menjadi "Kampung Sejahtera".

Kisah inspiratif ini telah menjadi model intervensi hukum dan sosial yang sangat menarik perhatian banyak pihak. Sebab ia telah membuktikan, bahwa ketika negara hadir, masalah sepelik apapun dapat diatasi dengan baik.

Jean Calvijn mengatakan, penggerebekan dan pembersihan Jermal 15 pun tidak akan berhenti pada tindakan penegakan hukum saja. Kawasan ini akan diubah secara simultan melalui berbagai pendekatan yang melibatkan berbagai pihak, hingga citranya nanti berubah total menjadi kawasan yang lebih "terang" dan menjadi pemukiman yang nyaman bagi masyarakat secara normal.

Atas tindakan tegas Polri ini, sejumlah tokoh dari kalangan organisasi keagamaan telah menyampaikan ungkapan terimakasih langsung.

Tidak kurang dari organisasi keagamaan terbesar di wilayah ini, Al Washliyyah, telah menyatakan dukungannya terhadap Kapolrestabes Medan. Demikian juga ormas-ormas lain dari berbagai latar belakang sosial dan politik.

Ternyata, setelah negara hadir dan bertindak, secara otomatis masyarakat yang taat hukum juga langsung terkonsolidasi dan siap mendukung segala upaya hukum dan sosial untuk menciptakan keamanan dan Kota Medan yang lebih kondusif. Perang narkoba memang tidak boleh berhenti, sampai jantungnya tidak berdenyut lagi. (RED/*)

Tags
beritaTerkait
Polrestabes Medan Gelar Apel Sabuk dan Kentongan Kamtibmas, Dirangkai Halal Bihalal Idul Fitri 1477 H
Cowok Cewek Kena Ciduk Ngedar Ekstasi Tengkorak
Bhabinkamtibmas Polsek Besitang Sambangi Warga Desa Halaban, Sampaikan Pesan Kamtibmas dan Bahaya Narkoba
Polda Sumut Gagalkan Penyelundupan 50 Kg Sabu dan 20 Ribu Butir Ekstasi di Perairan Asahan
Zakiyuddin Harahap Sambut Hangat Tamu Halalbihalal, Pererat Silaturahmi di Kota Medan
Pelaku Terinspirasi Karena Sering Nonton Film Bokef
komentar
beritaTerbaru