Senin, 13 April 2026
Selamat Ulang Tahun Kapolrestabes Medan

Kombes Pol Dr Jean Calvijn Simanjuntak SIK MH: Jangan Sampai Ada Hari Berlalu Tanpa Dampak

Evi Tanjung - Senin, 13 April 2026 18:30 WIB
Kombes Pol Dr Jean Calvijn Simanjuntak SIK MH: Jangan Sampai Ada Hari Berlalu Tanpa Dampak
Ist
Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak

POSMETRO MEDAN, Medan - Bertugas di Kota Medan kerap digambarkan seperti dua sisi kontras. Di satu pihak tentu saja sebuah bukti seseorang dianggap layak mengemban kepercayaan besar. Pada saat yang sama, ia juga sebuah ujian yang tidak main-main.

Ketika dipercaya memimpin Polrestabes Medan, Oktober 2025 lalu, Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak, S.I.K., M.H., sadar betul bahwa yang ditaruh di pundaknya tidak hanya tanda pangkat dan jabatan, tetapi juga ekspektasi publik.

Medan sama sekali bukan kota asing baginya. Punya pengalaman bertugas cukup lama di sini membuatnya sangat paham situasi dan tantangan apa yang akan dihadapinya.

Baca Juga:

Dia tahu, Medan dengan segala problematika kriminalitasnya tidak membutuhkan komandan polisi yang nyaman berada di balik meja. Selain harus berpikir dan bertindak strategis di level kepemimpinan, dia juga harus selalu siap dan cermat mengawasi sampai ke tingkat paling teknis.

Bagi Kombes Calvijn, kepercayaan adalah mandat yang harus diterjemahkan menjadi dampak. Pada beberapa kesempatan dia kerap mengatakan bahwa tugas dan keinginannya adalah menjadi "garam dan terang", dalam arti memberi manfaat dan dampak di mana pun ia diberi kepercayaan oleh pimpinan. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya menuntut keberanian: garam harus siap larut, terang harus selalu terlihat.

Baca Juga:

Sekali lagi, Medan dengan kompleksitas sosialnya, memberi panggung sekaligus ujian. Penertiban Kampung Jermal menjadi salah satu langkah yang memperlihatkan bagaimana ia membaca masalah bukan hanya sebagai pelanggaran hukum, tetapi sebagai simpul sosial yang harus diurai.

Operasi itu bukan hanya pembongkaran ruang fisik, melainkan upaya memulihkan kepercayaan publik dari lingkaran kartel yang telah lama mengakar. Ada resistensi, ada sorotan, ada risiko. Namun ia memilih maju, dengan keyakinan bahwa negara harus hadir, hukum harus tegak secara nyata, bukan hanya sebagai wacana.

Di sisi lain, publik juga melihat bagaimana Polrestabes Medan bergerak cepat dalam sejumlah kasus besar yang menyita perhatian. Pembakaran rumah hakim, misalnya, bukan hanya perkara kriminal biasa, tetapi sesuatu yang jika tidak segera diungkap dengan tuntas, akan bergulir menjadi asumsi dan prasangka (prejudice) publik yang berbahaya.

Penanganan yang intens dan berlapis menunjukkan bahwa pesan yang ingin dibangun sederhana: tidak ada ruang bagi intimidasi terhadap tegaknya keadilan. Kapolrestabes beserta jajarannya sadar betul bahwa masyarakat menunggu pengungkapan kasus ini dengan terang benderang, sebelum bola salju asumsi bergulir makin liar.

Begitu pula kasus tragis seorang anak perempuan yang membunuh ibunya, peristiwa yang mengguncang nurani publik. Penanganannya tidak berhenti pada pengungkapan pelaku, tetapi juga membuka percakapan lebih luas tentang dinamika keluarga, tekanan sosial, dan tragedi yang lahir dari ruang domestik. Dalam kasus-kasus semacam ini, polisi tidak hanya bekerja dengan hukum, tetapi juga dengan sensitivitas.

Ada pula berbagai pengungkapan kasus menonjol lainnya yang menuntut ketegasan dam ketelitian, sekaligus kecepatan. Pola kerjanya tampak konsisten: cepat, terukur, dan berusaha menjawab kegelisahan publik. Dalam lanskap kota besar, kecepatan sering kali menjadi resep dasar hadirnya kepercayaan.

Namun mungkin yang paling menarik dari gaya kepemimpinannya adalah dorongan untuk meninggalkan jejak, tidak sekadar menjalankan rutinitas. Ia tampak memahami bahwa setiap wilayah memiliki cerita sendiri, dan setiap penugasan adalah kesempatan untuk memperbaiki sesuatu. Ada semacam kegelisahan yang menjadi motivasi dalam dirinya: keinginan untuk tidak sekadar hadir, tetapi memberi arti.

Dalam banyak kesempatan, ia memilih turun langsung, melihat situasi tanpa jarak, bahkan jika dibutuhkan, terlibat langsung dalam pengaturan lalu lintas di titik-titik kemacetan. Bukan demi memoles citra di mata publik tetapi karena ia percaya keputusan terbaik lahir dari kedekatan dengan kenyataan.

Dari jalanan yang padat, dari keluhan dan curhat warga, dari laporan yang datang tanpa jeda. Di sana, kerja kepolisian menjadi lebih dari sekadar prosedur, tetapi yang paling penting menjadi bentuk respons dan tanggung jawab.

Kombes Calvijn dikenal sebagai orang yang selalu menggunakan waktu sebagai tolok ukur. Dia tidak ingin ada satu hari pun berlalu tanpa dampak. Demikian pula ulang tahun, yang bagi sebagian orang mungkin sekadar penanda usia. Akan tetapi, bagi seorang perwira yang hidup dalam ritme tugas, ia lebih menyerupai jeda singkat untuk melihat dan menghitung kembali perjalanan, tentu saja dalam bingkai rasa syukur.

Apa yang sudah dilakukan, dan apa yang masih harus diperjuangkan. Dalam perjalanan itu, Kombes Calvijn tampaknya memilih satu prinsip sederhana: bekerja keras di mana pun ditempatkan, dan memastikan kepercayaan dan tugas dari pimpinan tidak berhenti sebagai formalitas atau tour of duty semata.

Menjadi garam dan terang, tekadnya. Garam mungkin tidak selalu terlihat, tetapi jelas terasa. Terang memang tidak bersuara, tetapi ia menunjukkan arah. Di kota yang penuh dinamika seperti Medan, mungkin itulah metafora yang paling pas, bahwa kepemimpinan tidak selalu harus riuh, tetapi harus berdampak.

Selamat Ulang Tahun, Bapak Kapolrestabes Medan. (Toga Nainggolan)

Tags
beritaTerkait
Duka Dari Sembahe, Lima Tewas Terkena Longsor, Kapolrestabes Medan Prioritaskan Evakuasi Berikut Foto-fotonya
Zakiyuddin Harahap Sambut Hangat Tamu Halalbihalal, Pererat Silaturahmi di Kota Medan
Pelaku Terinspirasi Karena Sering Nonton Film Bokef
Kapolrestabes Medan Hadiri Pelepasan 4.000 Peserta Mudik
Kapolrestabes Bagi Takjil di depan Mako Polrestabes Medan
Kapolrestabes Medan Imbau Warga Tidak Panik Terkait Isu Kelangkaan BBM
komentar
beritaTerbaru