Selasa, 21 April 2026
Posmetro Medan Rayakan Hari Kartini Bersama Penyapu Jalan di Lapangan Merdeka

Kartini di Balik Sapu Perempuan-perempuan Penjaga Kota

Faliruddin Lubis - Selasa, 21 April 2026 19:53 WIB
Kartini di Balik Sapu Perempuan-perempuan Penjaga Kota
Wiwin/Tim
Penyapu jalan di Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat bersama Posmetro Medan, mereka merayakan Hari Kartini di Lapangan Merdeka, Medan, Senin (21/4/2026).

POSMETRO MEDAN,Medan, Gelak tawa dan senyum sumringah terhias di balik guratan wajah perempuan-perempuan hebat penjaga kota.

Mereka adalah dua belas orang penyapu jalan di Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat. Bersama Posmetro Medan, mereka merayakan Hari Kartini di Lapangan Merdeka, Medan, Senin (21/4/2026).

Dengan tema,"Kartini di Balik Sapu Perempuan-perempuan Penjaga Kota", kegiatan ini bertujuan agar perempuan tak lagi merasa minder dengan pekerjaannya sebagai penyapu jalan.

Baca Juga:

Kepulan asap dapur tak pernah padam karena sapu terus menari di atas aspal. Jika daun kering dan sampah yang tergeletak tak terpungut, buah hati di rumah pun tak akan terurus. Hal ini disampaikan oleh Ketua Panitia, Evi Tanjung, di hadapan petugas Melati Kota Medan.

Baca Juga:

"Kehadiran ibu-ibu ini benar-benar membantu kehidupan rumah tangga. Jangan minder dengan pekerjaan kita. Harus bangga! Kita perempuan mulia," tegas Evi.

Ia juga menambahkan bahwa seluruh warga Kota Medan patut berterima kasih atas dedikasi mereka.

Dengan penuh semangat Kartini, Evi menyampaikan bahwa hidup adalah tentang timbal balik. Apa yang dilakukan hari ini akan kembali kepada diri sendiri di kemudian hari. Tidak penting jenis pekerjaannya, melainkan niat di hati untuk apa pekerjaan itu dilakukan.

"Kalau anak kita melihat apa yang kita beri hari ini, itulah yang akan kita terima di kemudian hari. Hidup itu berbalas, Ibu-ibu," ujarnya.

Apa yang disampaikan Evi pun disambut anggukan para petugas Melati yang telah bekerja selama 11 hingga 18 tahun. Pertemuan itu menjadi ruang bagi mereka untuk menyampaikan isi hati.

Seperti yang diungkapkan Wahyuniarti. Ia mengaku kerap dipandang sebelah mata karena pekerjaannya. Bukan hanya dirinya, beberapa rekan kerjanya pun mengalami hal serupa.

"Pernah suatu hari saya mau menyapu. Ada orang di situ. Saya minta agar bergeser, tapi malah dimarahi. Dibilang saya tidak diajari di sekolah, tidak berakhlak. Dibilang sok rajin, sudah digaji negara tapi tidak berguna. Nyess hati mendengarnya, sedih sekali. Padahal kami membersihkan kota ini, tapi kenapa kami tidak dihargai," kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Sebagai perempuan, hatinya yang lembut tentu sangat tergores dengan perlakuan tersebut. Namun, hal itu tidak membuatnya berhenti menjadi perempuan mandiri.

"Bagi saya, sekarang ini perempuan kalau tidak mandiri, tidak ada harga diri. Tapi ini saya tujukan untuk diri saya sendiri. Maka itu, saya akan terus berjuang. Selama pekerjaan itu halal, akan saya lakukan," sambungnya.

Hal serupa juga disampaikan Latifa Hanum Lubis (51) yang telah lebih dari 15 tahun bekerja sebagai petugas Melati. Ia menceritakan tantangan saat bekerja yang kerap dipengaruhi kondisi alam.

"Kalau sudah selesai menyapu, datang angin membawa daun dan sampah. Kotor lagi area itu, padahal sudah dibersihkan. Saat atasan lewat, kami dianggap belum bekerja. Terpaksa kami bersihkan lagi sampai malam," ungkapnya, yang disambut gelak tawa rekan-rekannya karena merasa senasib.

Ia berharap kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya semakin meningkat, serta mematuhi aturan jam buang sampah, yakni pukul 07.00 pagi dan 16.00 sore.

"Meski begitu, kami juga sering mendapat rezeki tak terduga. Kadang ada yang memberi uang atau sembako, apalagi menjelang Lebaran," ujarnya, yang diamini rekan-rekannya.

Turut hadir Pengawas Petugas Melati Kelurahan Kesawan, Abdul Hasbi (36). Ia mendukung penuh kegiatan tersebut. Menurutnya, kisah petugas Melati Kota Medan selama ini jarang tersorot.

"Perempuan Indonesia, teruslah berkarya. Saya sangat senang dengan kegiatan ini. Di momen Hari Kartini, petugas Melati kami menjadi bintang tamu. Saya dukung penuh," ujarnya.

Dukungan serupa juga datang dari Camat Medan Barat, Maswan Harahap. Ia berharap kegiatan ini menjadi penyemangat bagi perempuan untuk terus berkarya.

Sebagai pemanis acara, wartawan Posmetro Medan, Erni Tanjung, membacakan puisi berjudul Puteri Ksatria karya Paulin Angelina. Puisi tentang perempuan yang berhasil bebas dari belenggu batas itu disampaikan dengan syahdu hingga meneteskan air mata salah seorang petugas Melati.

Tak hanya itu, suasana semakin hangat saat para peserta bersama-sama menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini.

Posmetro Medan berharap, melalui kegiatan sederhana ini, semakin banyak pihak yang menyadari bahwa di balik bersihnya jalanan kota, ada perempuan-perempuan tangguh yang bekerja tanpa lelah.

Mereka bukan sekadar penyapu jalan. Mereka adalah penjaga kehidupan, perawat kota, sekaligus ibu bagi keluarga di rumah yang tak pernah berhenti berjuang.

Semangat Hari Kartini diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi tumbuh dalam sikap saling menghargai dan memuliakan setiap pekerjaan yang halal.

Karena kota ini tidak hanya dibangun oleh mereka yang terlihat, tetapi juga oleh mereka yang bekerja dalam sunyi, tanpa sorot, namun penuh arti. (Win)

Tags
beritaTerkait
Teruslah Menjadi Perempuan Yang Berani Bermimpi Dan Berjuang, Perempuan Hebat Tak Pernah Berhenti Melangkah
Semangat Kartini di Tirtanadi Sumut, Halimatussa'diah Ajak Perempuan Berproses dari Bawah
Pawai Mobil Hias Disambut Antusias, Rico Waas Ajak Warga Sambut Hari Kemenangan
Salat Idulfitri 1447 H, Rico Waas Ajak Warga Perkuat Persatuan dan Bangun Medan Untuk Semua
Kapolda Sumut Dampingi Kapolri Pimpin Pemantauan Nasional Malam Takbiran dari Medan
Pemko Medan Matangkan Persiapan Salat Idul Fitri, Takbiran Dan Pawai Kendaraan Digelar Di 2 Titik
komentar
beritaTerbaru