Senin, 04 Mei 2026
Catatan Redaksi Posmetro Medan

Minggu Pagi Bersama Pak Wali

Toga Nainggolan - Senin, 04 Mei 2026 11:09 WIB
Minggu Pagi Bersama Pak Wali
Foto: Raden Armand

Tuntas jalan satu putaran, Rico bergegas masuk ke CC room Intelligent Transport System (ITS) yang ada di salah satu bangunan bersejarah di kawasan itu. Ini pusat mata digital kota yang diam-diam bekerja menjaga ritme lalu lintas dan memantau keamanan. Ia mengecek singkat, bertanya beberapa hal, lalu bergegas masuk ke bagian dalam. Hanya beberapa menit, dia keluar. Tidak lagi mengenakan kaos olahraga yang mulai bersimbah keringat, tetapi baju koko putih lengkap dengan peci.

Di tengah riuh dan semarak CFD pagi itu, sebuah pojok kecil berubah menjadi saksi sesuatu yang lebih teduh namun sakral. Prosesi pernikahan yang diinisiasi Asosiasi Penghulu Republik Indonesia berlangsung sederhana, namun justru karena itu terasa dekat. Dia hadir sebagai pemimpin sekaligus juga saksi, menyematkan makna yang religius sekaligus administratif, pada sebuah ikatan yang seringkali terjebak di antara keduanya.

Baca Juga:

Sungguh bukan akad nikah biasa. Begitu ijab kabul selesai diucapkan dengan tegas dan lantang, tidak saja Rico Waas dan saksi lainnya, tetapi seluruh "warga CFD" ikut juga memekikkan, "Sah!" Bergema dan pecah. Seru berlimpah berkah.

Selesai acara akad, Rico menyampaikan beberapa pesan. Singkat tapi berisi. Tentang cinta yang tidak cukup berdiri sendiri. Tentang pentingnya pencatatan, tentang masa depan anak-anak yang bergantung pada selembar dokumen yang kerap dianggap sepele. Kata-katanya tidak melangit; ia membumi, seperti pagi itu sendiri. Ada kesadaran yang ia dorong: bahwa negara, dalam bentuknya yang paling konkret, hadir untuk memastikan kehidupan warganya tidak tersandung oleh hal-hal yang sebenarnya bisa diantisipasi sejak awal.

Baca Juga:

Usai acara itu, pagi belum juga kehilangan hangatnya. Saya bersama tim redaksi; Zulkifli Tanjung, Renny Yulia, Anton, dan fotografer Raden Armand, mendapat kode kecil untuk kembali mengikutinya langkahnya. Belakangan kami tahu, tujuan berikutnya: sebuah tempat yang sudah menjadi legenda tersendiri di kota ini: Kedai Kopi Apek.

Di sana, waktu seolah bergerak dengan detak berbeda. Cangkir-cangkir kopi mengeluarkan aroma yang akrab, roti bakar selai srikaya, serta kursi-kursi yang kayu menyimpan jejak percakapan puluhan tahun.

Kami duduk semeja. Ada pula anggota DPRD Medan yang juga menjadi representasi anak-anak muda: Afif Abdillah. Dalam obrolan yang santai tapi tak kekurangan isi itu, Rico bicara tentang upaya terus menerus mendekatkan pemerintah kepada warga. Baginya, jarak adalah masalah yang harus diselesaikan.

Ketika orang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengurus administrasi kependudukan, misalnya, maka sistemnya yang perlu diubah. Kini, layanan itu didorong hadir di kecamatan, lebih dekat, lebih cepat, lebih manusiawi. Pemerintahan, katanya, tidak boleh bersembunyi di balik meja.

Editor
: Administrator
Tags
beritaTerkait
Wow! Ada Nikah di CFD, Rico Waas: Pentingnya Pencatatan Pernikahan, Lihat Foto-fotonya
Rico Waas: Pernikahan Ikatan Sakral Yang Harus Dijaga Hingga Akhir Hayat
Rico Waas: Guru Harus Jadi Sahabat, Kedekatan Emosional Jadi Fondasi Pendidikan
Rico Waas Tegaskan Komitmen Kawal Hak dan Kesejahteraan Pekerja
Rico Waas Gelorakan Semangat Mahasiswa Berani Jadi Pemimpin
Perkuat Keberagaman, Rico Waas Ajak BKAG Medan Jaga Harmonisasi Lewat Paskah 2026
komentar
beritaTerbaru
Minggu Pagi Bersama Pak Wali

Minggu Pagi Bersama Pak Wali

Menghabiskan sepenggal pagi bersama anak muda yang menjadi nakhoda salah satu kota terbesar di Indonesia ini menjadi pengalaman yang terlalu

Medan 2 jam lalu