Senin, 04 Mei 2026
Catatan Redaksi Posmetro Medan

Minggu Pagi Bersama Pak Wali

Toga Nainggolan - Senin, 04 Mei 2026 11:09 WIB
Minggu Pagi Bersama Pak Wali
Foto: Raden Armand

Menghabiskan sepenggal pagi bersama anak muda yang menjadi nakhoda salah satu kota terbesar di Indonesia ini menjadi pengalaman yang terlalu berharga untuk tidak dicatat dan diceritakan. Sapaan hangat, kehadiran tanpa sekat, hingga obrolan seru di antara cangkir-cangkir kopi dan roti selai srikaya.

Pagi menghangat tanpa gegas pada Minggu, 3 Mei 2026. Lapangan Merdeka seperti sejenak rehat dari deru dan asap, mengajak semua orang menepi dari penat rutinitas sepekan yang pengap. Ia menjelma lebih dari sekadar venue olahraga atau tempat nongkrong, tetapi hamparan alun-alun tempat warga kota berbagi ruang bersama.

Baca Juga:

Seiring lengkung langit yang perlahan makin benderang, makin berbondong pula dari berbagai penjuru kota orang datang. Di saat yang sama, Wali Kota Medan, Rico Waas, bersama dengan Dandim Medan, Letkol Arm Delli Yudha Adi Nurcahyo, Exco PSSI, Arya Sinulingga, serta rombongan kecil, sedang berlari melintasi melintasi berbagai jalan protokol sebelum kemudian bergabung dengan keseruan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau lebih populer disebut CFD di Lapangan Merdeka.

Baca Juga:

Tanpa canggung dia ikut bergabung senam bersama warga di tengah dentuman musik yang membangkitkan semangat. Mereka mengikuti gerakan pemandu senam di atas panggung.

Setelah itu, Rico lanjut jalan cepat mengitari jalan yang mengelilingi lapangan yang sudah aktif digunakan sejak tahun 1880 dengan nama de Esplanade itu.

Tak ada jarak sejak detik pertama. Ia menyatu dalam arus warga yang bergerak memutari lapangan. Menyapa, menyalami, menundukkan badan sedikit ketika berbicara dengan yang lebih tua, tertawa lepas ketika diminta swafoto oleh anak-anak muda. Setiap permintaan foto dilayani dengan kesabaran yang tidak dibuat-buat. Tampak betul waktu dan keseluruhan hatinya memang disediakan untuk itu. Beberapa kali langkahnya terhenti karena orang-orang yang ingin menyapa lebih lama.

Di tengah langkah yang santai itu, sebuah gestur kecil menjelma menjadi gaung: ia memungut sampah-sampah plastik yang tergeletak di jalan. Tidak ada aba-aba, tidak ada sorot kamera yang ia tunggu. Hanya refleks, seperti sudah menjadi muscle memory. Namun justru di situlah sesuatu terpicu bergerak, orang-orang di sekitarnya ikut menunduk, ikut memungut, seolah keteladanan menemukan bentuknya yang paling sederhana.

Ketika musik senam menggema, ia tidak menjadi penonton. Berbaur ke barisan, larut mengikuti gerakan. Tentu saja gerak dan ritme senamnya tidaklah serapi para pemandu. Kadang terlalu cepat, kadang meleset. Beseraklah pokoknya, kalau kata orang Medan. Namun justru di situlah tawa pecah. Ia bukan lagi figur yang berdiri di depan, melainkan bagian dari kerumunan yang bergerak bersama. Kepemimpinan tidak berwujud instruksi tetapi kehadiran.

Tuntas jalan satu putaran, Rico bergegas masuk ke CC room Intelligent Transport System (ITS) yang ada di salah satu bangunan bersejarah di kawasan itu. Ini pusat mata digital kota yang diam-diam bekerja menjaga ritme lalu lintas dan memantau keamanan. Ia mengecek singkat, bertanya beberapa hal, lalu bergegas masuk ke bagian dalam. Hanya beberapa menit, dia keluar. Tidak lagi mengenakan kaos olahraga yang mulai bersimbah keringat, tetapi baju koko putih lengkap dengan peci.

Di tengah riuh dan semarak CFD pagi itu, sebuah pojok kecil berubah menjadi saksi sesuatu yang lebih teduh namun sakral. Prosesi pernikahan yang diinisiasi Asosiasi Penghulu Republik Indonesia berlangsung sederhana, namun justru karena itu terasa dekat. Dia hadir sebagai pemimpin sekaligus juga saksi, menyematkan makna yang religius sekaligus administratif, pada sebuah ikatan yang seringkali terjebak di antara keduanya.

Sungguh bukan akad nikah biasa. Begitu ijab kabul selesai diucapkan dengan tegas dan lantang, tidak saja Rico Waas dan saksi lainnya, tetapi seluruh "warga CFD" ikut juga memekikkan, "Sah!" Bergema dan pecah. Seru berlimpah berkah.

Selesai acara akad, Rico menyampaikan beberapa pesan. Singkat tapi berisi. Tentang cinta yang tidak cukup berdiri sendiri. Tentang pentingnya pencatatan, tentang masa depan anak-anak yang bergantung pada selembar dokumen yang kerap dianggap sepele. Kata-katanya tidak melangit; ia membumi, seperti pagi itu sendiri. Ada kesadaran yang ia dorong: bahwa negara, dalam bentuknya yang paling konkret, hadir untuk memastikan kehidupan warganya tidak tersandung oleh hal-hal yang sebenarnya bisa diantisipasi sejak awal.

Usai acara itu, pagi belum juga kehilangan hangatnya. Saya bersama tim redaksi; Zulkifli Tanjung, Renny Yulia, Anton, dan fotografer Raden Armand, mendapat kode kecil untuk kembali mengikutinya langkahnya. Belakangan kami tahu, tujuan berikutnya: sebuah tempat yang sudah menjadi legenda tersendiri di kota ini: Kedai Kopi Apek.

Di sana, waktu seolah bergerak dengan detak berbeda. Cangkir-cangkir kopi mengeluarkan aroma yang akrab, roti bakar selai srikaya, serta kursi-kursi yang kayu menyimpan jejak percakapan puluhan tahun.

Kami duduk semeja. Ada pula anggota DPRD Medan yang juga menjadi representasi anak-anak muda: Afif Abdillah. Dalam obrolan yang santai tapi tak kekurangan isi itu, Rico bicara tentang upaya terus menerus mendekatkan pemerintah kepada warga. Baginya, jarak adalah masalah yang harus diselesaikan.

Ketika orang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengurus administrasi kependudukan, misalnya, maka sistemnya yang perlu diubah. Kini, layanan itu didorong hadir di kecamatan, lebih dekat, lebih cepat, lebih manusiawi. Pemerintahan, katanya, tidak boleh bersembunyi di balik meja.

Ia juga tegas pada hal lain: integritas. Tidak ada ruang untuk permainan hukum, apalagi penyimpangan seperti narkoba di dalam tubuh birokrasi. Kalimatnya tidak berputar; ia mengatakannya lurus. Bahwa kepercayaan publik dibangun dari ketegasan yang konsisten.

Selain tentang disiplin dan sistem, ada pula optimisme yang ia rawat ketika berbicara tentang Medan sebagai ruang kreativitas. Ia melihat kota ini sebagai gudang talenta: anak-anak muda yang sebenarnya hanya butuh panggung, perlu ruang untuk tumbuh. Pemerintah, dalam bayangannya, bukan sekadar regulator, tetapi fasilitator yang membuka jalan, memperbanyak event termasuk mengoptimalkan yang sudah ada, yang pada muaranya akan memperluas kesempatan.

Ketika percakapan menyentuh soal budaya, nadanya berubah lebih hangat. Ia berbicara tentang kultur Medan yang superkaya, bukan hanya untuk dilestarikan atau paradigma preservasi, tetapi juga dikembangkan, didorong keluar, dikenalkan lebih luas, bahkan hingga mendapat rekognisi di tingkat nasional dan global. Budaya, baginya, bukan artefak masa lalu, melainkan energi yang hidup.

Tak terasa, waktu merayap menuju pukul 10.30 WIB. Kami tentu saja sangat menikmati perbincangan itu, tetapi kami sadar, dia pemimpin yang dibutuhkan banyak orang, sosok pribadi yang tentu saja punya orang-orang tersayang.

Sepenggal pagi itu akhirnya menemukan ujungnya. Kami berpisah di depan kedai, ketika matahari sudah tinggi dan kota pulang pada ritme biasanya. Klakson sudah kembali saling menimpali, deru mesin pun menguasai jalanan.

Ia melangkah pergi dengan agenda lain yang sudah menunggu, sementara kami tinggal dengan catatan, foto, dan sesuatu yang lebih sulit dituliskan: kesan tentang seorang pemimpin yang memilih hadir dan berdampak, bukan sekadar ada dan tampak.

Barangkali, di situlah inti dari pagi itu, bahwa di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar diam, ada momen-momen kecil yang memperlihatkan bagaimana kepemimpinan bekerja: bukan dalam pidato panjang, melainkan dalam langkah, sapaan, dan kesediaan untuk tetap dekat, memastikan tidak ada detail yang terlewat. (Toga Nainggolan, Pemimpin Redaksi Posmetro Medan)

Editor
: Administrator
Tags
beritaTerkait
Wow! Ada Nikah di CFD, Rico Waas: Pentingnya Pencatatan Pernikahan, Lihat Foto-fotonya
Rico Waas: Pernikahan Ikatan Sakral Yang Harus Dijaga Hingga Akhir Hayat
Rico Waas: Guru Harus Jadi Sahabat, Kedekatan Emosional Jadi Fondasi Pendidikan
Rico Waas Tegaskan Komitmen Kawal Hak dan Kesejahteraan Pekerja
Rico Waas Gelorakan Semangat Mahasiswa Berani Jadi Pemimpin
Perkuat Keberagaman, Rico Waas Ajak BKAG Medan Jaga Harmonisasi Lewat Paskah 2026
komentar
beritaTerbaru
Minggu Pagi Bersama Pak Wali

Minggu Pagi Bersama Pak Wali

Menghabiskan sepenggal pagi bersama anak muda yang menjadi nakhoda salah satu kota terbesar di Indonesia ini menjadi pengalaman yang terlalu

Medan 2 jam lalu