"Desa Pagaran Honas, Kecamatan Badiri itu termasuk hampir semua bukit-bukit. Tadi kata adik saya, sudah tinggal nama karena ada yang bilang tinggal 10 yang hidup. Banyak sekali mayat melewati sungai datang ke rumah kami itu tadi, banyak mayat yang sudah terputus anggota tubuhnya," ungkapnya menirukan ucapakan adiknya, kepada wartawan, Minggu (30/11/2025).

Baca Juga:
Yang paling krusial, hingga hari keenam pasca bencana, bantuan sama sekali belum dapat menjangkau kecamatan Badiri, terutama Desa Lubuk Ampolu, Kebun Pisang, dan Pagaran Honas. Semua jalur darat terputus akibat timbunan lumpur dan kerusakan jalan.

Baca Juga:
"Sama sekali bantuan belum ada sampai hari ini. Jadi setelah enam hari, belum ada masuk bantuan. Padahal katanya banyak helikopter pesawat-pesawat itu terbang rendah," keluhnya.

Kondisi terisolasi ini memicu krisis kemanusiaan yang lebih parah. Katanya, keluarganya di lingkungan 3, kelurahan Lopian, Kecamatan Badiri melaporkan krisis air bersih dan bahan makanan. Bahkan, di Kota Sibolga terjadi penjarahan karena masyarakat kesulitan mencari pasokan makanan.

"Mereka kasih pesan, telepon ke kami, tapi lewat tetangga, tolong diberitahun ke mereka, kami di sini krisis air bersih dan tidak ada makanan. Sampai hari ini mereka masih terus mencari yang jual makanan, kayaknya tidak ada yang buka. Satu kecamatan, satu kota penuh itu kelaparan," tegasnya.

Tags
beritaTerkait
komentar