Erwin Situmorang: Bea Cukai dan Bareskrim Polri Amankan 80 Kilogram Sabu dan 5.200 Butir Ekstasi
Bea Cukai dan Bareskrim Ungkap Jaringan Narkotika MalaysiaIndonesia, Amankan 80 Kilogram Sabu dan 5.200 Butir Ekstasi.
Peristiwa 8 menit lalu
POSMETRO MEDAN- Saat nama MarissaHutabarat viral beberapa tahun lalu, banyak orang di Indonesia merasa bangga.
Seorang perempuan berdarah Batak berhasil menjadi hakim di Amerika Serikat.
Berita itu dibagikan ribuan kali, terutama di kalangan masyarakat pelbagai suku.
Baca Juga:
Namun setelah euforia itu berlalu, muncul pertanyaan yang jauh lebih menarik. Bagaimana sebenarnya seseorang bisa menjadi hakim di Amerika?
Apakah cukup pintar?Cukup memiliki gelar hukum?Atau ada jalan panjang yang harus ditempuh?Jawabannya mungkin tidak seperti yang dibayangkan banyak orang.
Baca Juga:

MarissaHutabarat, --seperti dikutip dari sebuah postingan anonim facebook @TaputHebat yang terlihat POSMETRO MEDAN pada Minggu 9 Agustus 2026-- memang terlahir di Amerika Serikat. Sejak kecil dia tumbuh di lingkungan yang menghargai pendidikan.
Setelah menyelesaikan kuliah psikologi, dia tidak berhenti belajar.
Dia melanjutkan pendidikan ke sekolah hukum dan memperoleh gelar Juris Doctor, bekal utama untuk memasuki dunia hukum Amerika.
Tetapi lulus sekolah hukum ternyata baru langkah pertama.
Ia tidak langsung duduk di kursi hakim.
Marissa lebih dulu bekerja di lingkungan peradilan, menjadi panitera hukum, lalu berpraktik sebagai pengacara.
Selama bertahun-tahun ia menangani berbagai perkara perdata, mempelajari proses persidangan dari dekat, dan membangun reputasi sebagai profesional hukum.
Di sinilah kisahnya mulai berbeda dengan yang banyak dibayangkan orang Indonesia.
Di negara bagian Louisiana, tempat Marissa berkarier, menjadi hakim tidak selalu melalui penunjukan. Banyak jabatan hakim justru diperebutkan melalui pemilihan umum.
Seorang calon hakim harus bersedia memperkenalkan diri kepada masyarakat, menjelaskan pengalaman hukumnya, menawarkan visi tentang pelayanan peradilan, lalu meminta kepercayaan pemilih.
Artinya, sebelum dipercaya memimpin persidangan, ia harus lebih dulu dipercaya oleh masyarakat.
Tahun 2020 menjadi titik balik dalam hidupnya. Marissa maju sebagai calon hakim di First City Court, New Orleans. Persaingan tidak mudah, tetapi hasil pemungutan suara menunjukkan mayoritas pemilih memberikan kepercayaan kepadanya. Ia pun resmi dilantik menjadi hakim.
Kabar itu segera menyebar hingga ke Indonesia. Nama Hutabarat menjadi perbincangan. Banyak yang bangga karena ada perempuan berdarah Batak yang berhasil mencapai posisi penting di sistem peradilan Amerika.
Namun perjalanan Marissa ternyata belum selesai.
Alih-alih menikmati popularitas, ia memilih kembali bekerja. Hampir tidak ada sensasi, hampir tidak ada pemberitaan besar. Ia lebih dikenal melalui putusan dan pekerjaannya sebagai hakim daripada melalui sorotan media.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 2023, Marissa kembali mengikuti pemilihan. Kali ini untuk jabatan yang lebih tinggi, yaitu hakim di Orleans Parish Civil District Court. Ia kembali memperoleh kepercayaan dan naik ke pengadilan yang menangani perkara-perkara perdata yang lebih kompleks.
Ironisnya, kenaikan karier itu justru tidak seramai saat namanya pertama kali viral.
Dari perjalanan Marissa, ada satu pelajaran yang menarik. Orang sering melihat hasil akhirnya, seorang hakim di Amerika dengan darah Batak. Namun yang jarang diperhatikan adalah proses panjang di belakangnya.
Bertahun-tahun belajar, bekerja, membangun pengalaman, menjaga reputasi, lalu meyakinkan masyarakat bahwa dirinya layak dipercaya memegang palu hakim.
Mungkin itulah alasan mengapa kisah Marissa masih layak dikenang hingga hari ini.
Bukan semata karena marganya Hutabarat atau karena ia berdarah Batak, melainkan karena keberhasilannya menunjukkan bahwa sebuah nama keluarga bisa dikenal dunia ketika dibarengi kerja keras, kompetensi, dan integritas.***
Bea Cukai dan Bareskrim Ungkap Jaringan Narkotika MalaysiaIndonesia, Amankan 80 Kilogram Sabu dan 5.200 Butir Ekstasi.
Peristiwa 8 menit lalu
Pemerintah Pusat Telat Transfer DBH Rp70 Triliun, 79 Daerah Terancam Tak Mampu Bayar Gaji Pegawai.
Inter-Nasional 39 menit lalu
Marissa Hutabarat jadi Hakim di Amerika
Profil satu jam lalu
POSMETRO MEDANPolemik dugaan hilangnya dana nasabah senilai Rp2,58 miliar yang menyeret PT Bank Central Asia Tbk (BCA) terus menjadi sorota
Bisnis 3 jam lalu
Pemerintah Tak Janji Kembalikan Uang Pengusaha yang Sudah Bangun Dapur MBG.
Inter-Nasional 7 jam lalu
Rico Waas Dorong IPSM Medan Jadi Mitra Strategis Pemerintah dan Turun Tangani Persoalan Sosial Warga.
Medan 8 jam lalu
Mayat pria tanda identitas ditemukan tergeletak di pinggir jalan Blok 8, Dusun VIII, Desa Serdang, Kecamatan Beringin, Deli Serdang.
Peristiwa 8 jam lalu
Tabrakan di Asahan, RX King Adu Kuat dengan Truk Colt Diesel, Dua Orang Lukaluka.
Peristiwa 8 jam lalu
Sambut HUT Ke81 RI, Polsek Medan Kota Gelar Bakti Sosial, Bantu Dua Keluarga Ekonomi Kurang Mampu.
Medan 8 jam lalu
Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Bireuen menangkap dua orang terduga tindak pidana pencurian.
Peristiwa 15 jam lalu