Minggu, 09 Agustus 2026

Mengenal Lebih Dekat Sosok Marissa Hutabarat, Sang Hakim di Amerika

P. Silalahi - Minggu, 09 Agustus 2026 14:00 WIB
Mengenal Lebih Dekat Sosok Marissa Hutabarat, Sang Hakim di Amerika
facebook @TaputHebat
Marissa Hutabarat.

POSMETRO MEDAN- Saat nama MarissaHutabarat viral beberapa tahun lalu, banyak orang di Indonesia merasa bangga.

Seorang perempuan berdarah Batak berhasil menjadi hakim di Amerika Serikat.

Berita itu dibagikan ribuan kali, terutama di kalangan masyarakat pelbagai suku.

Baca Juga:

Namun setelah euforia itu berlalu, muncul pertanyaan yang jauh lebih menarik. Bagaimana sebenarnya seseorang bisa menjadi hakim di Amerika?

Apakah cukup pintar?Cukup memiliki gelar hukum?Atau ada jalan panjang yang harus ditempuh?Jawabannya mungkin tidak seperti yang dibayangkan banyak orang.

Baca Juga:

MarissaHutabarat, --seperti dikutip dari sebuah postingan anonim facebook @TaputHebat yang terlihat POSMETRO MEDAN pada Minggu 9 Agustus 2026-- memang terlahir di Amerika Serikat. Sejak kecil dia tumbuh di lingkungan yang menghargai pendidikan.

Setelah menyelesaikan kuliah psikologi, dia tidak berhenti belajar.

Dia melanjutkan pendidikan ke sekolah hukum dan memperoleh gelar Juris Doctor, bekal utama untuk memasuki dunia hukum Amerika.

Tetapi lulus sekolah hukum ternyata baru langkah pertama.

Ia tidak langsung duduk di kursi hakim.

Marissa lebih dulu bekerja di lingkungan peradilan, menjadi panitera hukum, lalu berpraktik sebagai pengacara.

Selama bertahun-tahun ia menangani berbagai perkara perdata, mempelajari proses persidangan dari dekat, dan membangun reputasi sebagai profesional hukum.

Di sinilah kisahnya mulai berbeda dengan yang banyak dibayangkan orang Indonesia.

Di negara bagian Louisiana, tempat Marissa berkarier, menjadi hakim tidak selalu melalui penunjukan. Banyak jabatan hakim justru diperebutkan melalui pemilihan umum.

Seorang calon hakim harus bersedia memperkenalkan diri kepada masyarakat, menjelaskan pengalaman hukumnya, menawarkan visi tentang pelayanan peradilan, lalu meminta kepercayaan pemilih.

Artinya, sebelum dipercaya memimpin persidangan, ia harus lebih dulu dipercaya oleh masyarakat.

Tahun 2020 menjadi titik balik dalam hidupnya. Marissa maju sebagai calon hakim di First City Court, New Orleans. Persaingan tidak mudah, tetapi hasil pemungutan suara menunjukkan mayoritas pemilih memberikan kepercayaan kepadanya. Ia pun resmi dilantik menjadi hakim.

Kabar itu segera menyebar hingga ke Indonesia. Nama Hutabarat menjadi perbincangan. Banyak yang bangga karena ada perempuan berdarah Batak yang berhasil mencapai posisi penting di sistem peradilan Amerika.

Namun perjalanan Marissa ternyata belum selesai.

Alih-alih menikmati popularitas, ia memilih kembali bekerja. Hampir tidak ada sensasi, hampir tidak ada pemberitaan besar. Ia lebih dikenal melalui putusan dan pekerjaannya sebagai hakim daripada melalui sorotan media.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 2023, Marissa kembali mengikuti pemilihan. Kali ini untuk jabatan yang lebih tinggi, yaitu hakim di Orleans Parish Civil District Court. Ia kembali memperoleh kepercayaan dan naik ke pengadilan yang menangani perkara-perkara perdata yang lebih kompleks.

Ironisnya, kenaikan karier itu justru tidak seramai saat namanya pertama kali viral.

Dari perjalanan Marissa, ada satu pelajaran yang menarik. Orang sering melihat hasil akhirnya, seorang hakim di Amerika dengan darah Batak. Namun yang jarang diperhatikan adalah proses panjang di belakangnya.

Bertahun-tahun belajar, bekerja, membangun pengalaman, menjaga reputasi, lalu meyakinkan masyarakat bahwa dirinya layak dipercaya memegang palu hakim.

Mungkin itulah alasan mengapa kisah Marissa masih layak dikenang hingga hari ini.

Bukan semata karena marganya Hutabarat atau karena ia berdarah Batak, melainkan karena keberhasilannya menunjukkan bahwa sebuah nama keluarga bisa dikenal dunia ketika dibarengi kerja keras, kompetensi, dan integritas.***

Editor
: P. Silalahi
Tags
beritaTerkait
Malam Mencekam di PTPN IV Ajamu, Satu Kopel Rumah Karyawan Dilalap Api.
Beban Bulanan Turun Drastis, Pemkab Taput Restrukturisasi Pinjaman PEN Jadi 15 Tahun‎
Samuel Pasaribu Diterima di 6 Universitas Top Dunia untuk Kuliah PhD, Salah Satunya Oxford University
Hakim Konstitusi Saldi Menilai Ganti Rugi Delay tak sesuai Kerugian Penumpang
Dorong Transformasi Digital, KUA Gunungsitoli Utara Launching SIMENANTU
Mengenal Lebih Dekat Sosok Rosita Aruan, Pamen Angkatan Darat Amerika
komentar
beritaTerbaru