Senin, 24 Agustus 2026

Mengenal Lebih Dekat Bunthora Situmorang, Sang Legend Sekaligus Maestro Musik Batak

P. Silalahi - Minggu, 23 Agustus 2026 18:00 WIB
Mengenal Lebih Dekat Bunthora Situmorang, Sang Legend Sekaligus Maestro Musik Batak
facebook @Batak center
Bunthora Situmorang.

POSMETRO MEDAN- Nama Dr. (H.C.) Bunthora Situmorang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang musik Batak.

Lahir tahun 1941 di Sosorpahu, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Bunthora Situmorang dikenal sebagai penyanyi, pencipta lagu sekaligus salah satu tokoh penting dalam perkembangan musik Batak modern.

Tanggal dan bulan kelahirannya tidak banyak dipublikasikan secara rinci di media.

Baca Juga:

Namun, sejumlah catatan mengenai perjalanan hidup dan perayaan ulang tahunnya menyebutkan bahwa Bunthora Situmorang lahir pada 1941.

Tahun 2023 silam, dia merayakan ulang tahun ke-82, sedangkan pada 2025 memasuki usia ke-84.

Baca Juga:

Bunthora Situmorang-- sebagaimana disiarkan dalam sebuah postingan anonim facebook @Batak center yang terlihat POSMETRO MEDAN pada Minggu 23 Agustus 2026-- semakin dikenal luas melalui Trio Lasidos, grup vokal Batak yang pernah menjadi salah satu kelompok populer pada masanya.

Trio itu dikenal dengan personel, antara lain Bunthora Situmorang, Jack Marpaung, serta Jhonny Manurung/Hilman Padang dalam perjalanan formasinya.

Selain sebagai penyanyi, Bunthora Situmorang dan Jack Marpaung dikenal produktif menciptakan lagu-lagu Batak.

Karya mereka tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga merekam kisah kehidupan, cinta, keluarga, perasaan, hingga dinamika sosial masyarakat Batak.

Perjalanan dan Rekonsiliasi Trio Lasidos

Dalam perjalanan Trio Lasidos, pernah terjadi masa ketika grup itu tidak lagi aktif memproduksi lagu secara bersama-sama.

Berbagai cerita mengenai hubungan antaranggota kemudian berkembang di kalangan penikmat musik Batak.

Salah satu kisah yang beredar menyebutkan adanya persoalan hubungan dan perbedaan pandangan antara Bunthora Situmorang dan Jack Marpaung.

Bahkan, kondisi ini disebut menjadi salah satu faktor yang membuat aktivitas Trio Lasidos vakum.

Namun, perjalanan waktu membawa perubahan. Sejumlah pihak kemudian berupaya mempertemukan kembali para tokoh itu.

Nama D.L. Sitorus disebut dalam berbagai cerita sebagai sosok yang ikut memfasilitasi rekonsiliasi sehingga hubungan di antara mereka dapat kembali membaik dan membuka peluang untuk bersatu dalam semangat Trio Lasidos.

Kisah ini menjadi bagian menarik dari sejarah musik Batak, terutama karena persahabatan, kreativitas dan dinamika dalam sebuah grup musik sering kali berjalan beriringan.

Karya lain yang sering dikaitkan dengan perjalanan Bunthora Situmorang adalah "Dang Lepelmu Au Ito".

Lagu ini sebelumnya dikenal melalui Simanjuntak Stars, kemudian dibawakan kembali Bunthora Situmorang bersama grup 3 Bintang yang antara lain melibatkan Joel Simorangkir dan Charles Simbolon.

Lirik lagu itu berbicara mengenai seseorang yang merasa tidak sepadan dengan orang yang dicintainya karena kondisi ekonomi.

"Alani hapogoson hu do, asa so hutariashon holong hi tu ho, husadari diri hi, hurimangi lakka hi... Dang lepelmu au ito. (Karena kemiskinankulah sehingga cintaku tidak kuungkapkan, aku sadar diri, memikirkan langkah, karena memang aku bukan levelmu."

Secara umum, ungkapan itu dapat dimaknai sebagai rasa rendah diri seseorang karena kemiskinan dan ketidakmampuannya menyampaikan cinta.

Namun, dalam cerita yang berkembang, terdapat pula tafsir lain terhadap frasa "Dang lepelmu au". Bunthora Situmorang disebut pernah memberikan penjelasan dengan sudut pandang berbeda mengenai makna ungkapan itu.

Dalam konteks itu, frasa tersebut dapat dimaknai sebagai "engkau bukan levelku", bukan semata-mata "aku bukan levelmu".

Perbedaan tafsir terhadap lirik inilah yang membuat lagu-lagu Batak klasik menarik untuk dikaji. Sebuah lagu dapat memiliki makna literal, tetapi juga dapat dibaca sebagai ungkapan pengalaman pribadi penciptanya.

Warisan Musik Batak

Bunthora Situmorang tetap merupakan salah satu nama penting dalam sejarah musik Batak. Karya-karyanya bersama sejumlah musisi dan penyanyi Batak telah menjadi bagian dari perjalanan musik Batak lintas generasi.

Kisah Trio Lasidos menunjukkan bahwa perjalanan sebuah kelompok musik tidak selalu berjalan mulus. Ada masa kejayaan, perbedaan, kevakuman, hingga upaya rekonsiliasi. Namun, karya-karya yang telah lahir tetap hidup di tengah masyarakat.

Bagi generasi muda, perjalanan Bunthora Situmorang dan Trio Lasidos bukan sekadar nostalgia. Ia merupakan bagian dari sejarah musik Batak yang memperlihatkan bagaimana lagu dapat menjadi media untuk menyampaikan cinta, kesedihan, kritik, pengalaman hidup, bahkan perasaan yang sulit diucapkan secara langsung.

Karena itu, karya-karya Bunthora Situmorang dan Trio Lasidos layak terus dikenang, didokumentasikan dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari warisan seni dan budaya Batak.

Lagu Populer Bunthora Situmorang

Beberapa lagu yang dikenal dan kerap dikaitkan dengan perjalanan musik Bunthora Situmorang antara lain:

1. Tangis Hu Tudainang

Lagu bernuansa andung yang menghadirkan suasana emosional. Tema kerinduan dan kesedihan membuat lagu ini memiliki tempat tersendiri bagi pencinta musik Batak.

2. SMS-Mu Naparpudi

Salah satu lagu yang dikenal luas dalam perjalanan karier Bunthora. Judulnya menggambarkan komunikasi dan kisah perasaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

3. Damang Dainang

Lagu yang mengangkat penghormatan serta kasih sayang kepada orang tua. Tema tersebut menjadi salah satu ciri kuat dalam banyak karya musik Batak.

4. Rap Ma Hita

Lagu bertema romantis yang dikenal sebagai salah satu karya yang sering dinikmati secara berpasangan.

5. Napuran Sakkababa

Karya yang memiliki nuansa budaya Batak dan memperlihatkan kuatnya unsur tradisi dalam musik yang dibawakan Bunthora.

6. Supir Tembak

Lagu yang mengangkat kehidupan dan realitas seorang sopir. Tema kehidupan sehari-hari menjadi daya tarik tersendiri dari karya tersebut.

Selain lagu-lagu tersebut, sejumlah judul lain yang juga dikenal di kalangan pencinta musik Batak antara lain Marsada Uhur, Melda, Sihutur Sanggul, dan Di Na Lao Au Marjalang.

Album dan Rilisan Bunthora Situmorang

Perjalanan panjang Bunthora Situmorang di industri musik Batak juga menghasilkan sejumlah album dan rilisan yang hingga kini masih dicari para penggemarnya.

Beberapa judul album atau rilisan yang dikaitkan dengan karya Bunthora Situmorang antara lain Tangis Hu Tudainang, Unang Attoi, Siraja Andung, Tano Sanggolom, Nirippu Do Parhunikan, dan Anak Tading Tadingan.

Akhir tahun 2025 silam, POSMETRO MEDAN secara tak sengaja bertemu Sang Legend saat berolahraga pagi di sekitar Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Saat bertemu Bunthora Situmorang yang didampingi putri kandungnya melempar senyum sembari menyebut kalimat 'horas' ketika menjabat tangan kanannya.***

Editor
: P. Silalahi
Tags
beritaTerkait
Batak United  Juara PKN Sumut Cup I 2026
76 Personel Paskibraka dari 38 Provinsi, 6 Orang Batak, Cek Profilnya
Mengenal Lebih Dekat Sosok Pendeta HKBP Pdt. Darwin Sihombing, S.Th yang Tutup Usia 59 Tahun
Pemkab Karo Bantah Narasi Manipulatif Terkait Aset GBKP, Tegaskan Hubungan dengan Moderamen Harmonis dan Kooperatif
Kapolres Samosir Hadiri Acara "Mangongkal Holi" di Tarabunga
Wabup Samosir Ajak Pomparan Toga Samosir Berkontribusi Bangun Bona Pasogit, Pesta Bolon PTSBI Gaungkan Persatuan dan Pelestarian Budaya Batak
komentar
beritaTerbaru