Senin, 23 Februari 2026

Hendra Cipta, Politisi yang Menyanyi dari Lorong Sunyi

Administrator - Minggu, 03 Agustus 2025 19:21 WIB
Hendra Cipta, Politisi yang Menyanyi dari Lorong Sunyi
(Dok Pribadi)
H Hendra Cipta, SE, MM

POSMETRO MEDAN,Medan – Di lengang pagi , suara lirih seorang lelaki terdengar memecah keheningan. Bukan pidato politik, bukan pula orasi kebijakan, melainkan alunan tembang lama yang terbungkus rasa.

Dari nada-nada itu, kita bisa mulai memahami sosok H.Hendra CiptaSE MM – politisi yang menenun hidupnya dengan nada dan kata, dengan kerja panjang tanpa sorot lampu panggung.

Hendra bukanlah politisi yang muncul dari gegap gempita. Ia tumbuh di jalan-jalan sempit. Dalam diskusi di ruang tamu warga tanpa pengeras suara!

Baca Juga:

Perjalanannya hingga dua periode menjadi anggota DPRDSumatera Utara bukanlah perjalanan singkat. Ia menapakinya perlahan, seperti mendaki bukit dengan kesadaran penuh.

"Aku tak pernah merasa punya panggung besar," ujarnya suatu ketika.

Baca Juga:

"Yang ku punya hanya suara yang lahir dari mendengar."

Kemampuan mendengar inilah yang menjadi kekuatan Hendra. Baginya, suara rakyat bukan sekadar bahan debat di ruang sidang, tetapi partitur yang harus dibaca dengan hati, dinyanyikan dengan tulus, lalu ditulis menjadi kebijakan.

Barangkali itulah sebabnya ia tetap menyalurkan jiwa seninya sebagai penyanyi dan seniman vokal. Dunia suara bukan hanya bakat baginya, melainkan jalan hidup.

Di tengah kegaduhan politik yang acap terjadi, Hendra menjaga ruang sunyinya. Di sela rapat dan agenda reses, ia kembali ke kampung. Mendengar cerita anak muda yang bimbang melanjutkan sekolah. Menyimak keluhan ibu-ibu pemilik warung yang kalah bersaing. Ia datang bukan sebagai penyelamat, melainkan teman perjalanan!

"Politik itu seperti menyusun lagu," ucapnya ringan. "Kalau nadanya terlalu tinggi, rakyat sulit ikut bernyanyi. Kalau terlalu rendah, semangat jadi padam. Kita harus tahu kapan berhenti, kapan masuk, kapan memberi ruang pada jeda."

Motivasinya sederhana namun kuat;"Agar anak-anak Medan dan Sumatera Utara tidak merasa kecil di tanah kelahirannya. Agar mereka percaya bahwa mereka bisa tumbuh dan bersuara, meski dari lorong sempit, rumah sederhana, dan kehidupan yang nyaris tak diberi panggung."

Kini, memasuki periode kedua sebagai legislator, ia tampak lebih matang dan tenang. Tidak sibuk mencari sorotan kamera. Ia lebih sibuk mencari satu, dua, tiga dan banyak lagi suara rakyat yang belum didengar.

"Kalau hari ini aku masih bisa duduk di DPRD, itu bukan karena aku pintar," katanya. "Tapi karena aku tak pernah menutup telinga."

"Selintas aku berpikir, sepanjang hidupku aku selalu dipertemukan dengan tempat-tempat terbaik dan orang-orang yang luar biasa baik. Mungkin inilah jalan yang memang harus ku lalui, dan aku percaya tangan-Nya yang mengatur segalanya."

Dalam hidup ini, katanya, bukan hanya soal gelar akademik semata. Pengalaman hidup pun memiliki peran penting dalam membentuk karakter. "Sebagai anak keempat dari lima bersaudara, aku merasakan sendiri bagaimana perjalanan hidup ini memberikan banyak pelajaran berharga," katanya.

Ada satu pengalaman yang selalu diingatnya dan kerap membuatku tersenyum sendiri.

"Ketika aku pernah berkesempatan menempuh pendidikan di Mesir. Hingga kini, aku belum memiliki kesempatan untuk kembali ke sana. Namun, kenangan itu tetap melekat kuat, terutama mengingat situasi yang terjadi pada tahun 1996 saat rekaman itu dibuat," katanya.

Menurutnya, perjalanan tersebut bukan hanya soal menimba ilmu, tetapi juga tentang menempa diri, mengenal makna perjuangan, dan belajar menghargai setiap langkah yang diberikan Tuhan dalam hidup ini.

Ia bukan politisi yang datang dari jalan tol kehidupan. Hidupnya bukan tapak lurus tanpa lubang. Ia datang dari lorong lebih tepatnya, lorong sunyi, tempat di mana suara hati lebih keras daripada sorak keramaian. Dan dari lorong itu, ia menyanyi. Bukan dengan nada tinggi, tapi dengan ketekunan panjang yang penuh jeda, tangis, dan tawa lirih.

"Dulu saya anak pesantren, tingkatan tsanawiyah (setingkat SMP, red) dan aliyah (setingkat SMA, red), di Pinang Lombang, Rantau Prapat. Tempat yang sekarang masuk kawasan Labura. Namun SD-nya negeri," tuturnya kepada wartawan Pos Metro Medan sambil menyandarkan punggung ke kursi kerja yang sudah mulai bersahabat dengan lekuk lelahnya.

Dari desa kecil itulah, jejak panjang ini dimulai. Tak banyak yang tahu bahwa Hendra Cipta pernah kuliah di Al-Azhar, Kairo sebuah institusi yang bagi sebagian besar umat Islam dianggap puncak menara ilmu. selama dua tahun di sana,Dia ambil jurusan fakultas Syariah Wal Qanun yang konsentrasi di Qanun. Mahasiswa Indonesia hanya puluhan orang saja. Sisanya orang asing. Beda dengan jurusan Syariah Islamiyah yang umumnya mahasiswa Indonesia. Jumlahnya sangat banyak.

"Tahun 1994 saya berangkat ke Mesir. Dua tahun saya jalani perkuliahan di Syariah Wal Qanun. Sayang, karena orang tua sakit, saya harus pulang," kenangnya dengan suara datar tapi dalam.

Keputusan untuk pulang saat kuliah di negeri sejuta piramida bukanlah sebuah kekalahan. Itu pilihan yang hanya bisa diambil oleh seorang anak yang tahu betul bahwa panggilan darah lebih penting dari panggilan mimbar.

Ketika ia menyebut Al-Azhar Kairo dan kenangan tidak bisa kembali ke Mesir, matanya meredup sedikit.

"Pulang itu menyakitkan, tapi juga menyelamatkan. Dan pengalaman di Mesir, bergaul antarbangsa, menguji rasa nasionalis saya. Itu semua membentuk saya."

"Saya belum punya kesempatan lagi memijak negeri piramida itu," ujarnya dengan senyum kecil yang lebih mirip rindu yang tak bertepi.

Ia menyambung langkah akademiknya di Tanah Air. Sempat D3 Perbanas Medan, S1 Ekonomi di Universitas Sumatera Utara,(USU) lalu S2 di UISU. Kini ia sedang menyelesaikan S3 di UINSU.

"Saya terus belajar, Kak Erni," katanya pelan, seolah ingin mengingatkan bahwa menjadi anggota dewan bukan titik akhir.

19 tahun bukan waktu yang bukan pendek untuk gagal. Tapi bagi Hendra, kegagalan bukan abu yang ditiup waktu, melainkan bara yang disimpan untuk nyala lebih terang.

"Selama 19 tahun saya gagal terus. Gagal maju, gagal dipercaya. Tapi saya terus belajar," ungkapnya.

Bisa jadi, orang-orang tidak tahu cerita itu. Dan dengan itu pulaia tak pernah meledak-ledak dalam pernyataan. Ia lebih sering mengolah kalimat seperti penyair. Tenang, tapi membekas. Politik bagi Hendra bukan panggung retorika, melainkan ruang belajar yang tidak pernah selesai.

Kini, di Gedung DPRD Sumatera Utara, ia berjalan dengan langkah pelan tapi pasti. Perjalanan hidupnya panjang dari lorong pesantren, melintasi gurun pasir Kairo, hingga ke ruang sidang rakyat. Tapi setiap langkahnya menyimpan gema. Gema sunyi yang berubah jadi suara. Suara yang kini ia wakafkan untuk rakyat.

"Kalau nanti tak terpilih lagi, mungkin aku buka les vokal saja. Siapa tahu, dari sana lahir anggota dewan masa depan yang bisa bernyanyi sekaligus berpikir," kelakarnya.

Ia tertawa. Dan dari tawa itu, kita belajar satu hal:"Politik tidak harus kehilangan rasa, dan kekuasaan bisa tetap lembut bila ditopang suara-suara jujur yang tumbuh dari sunyi."

Hendra Cipta bukan politisi biasa! Ia membawa nilai-nilai kejujuran dan kesederhanaan dalam setiap langkah politiknya! Ia adalah puisi yang ditulis oleh waktu! Dipoles oleh luka! Dan dibacakan oleh pengabdian!(erni tanjung)

Editor
: Faliruddin Lubis
Tags
beritaTerkait
Bahas Penanganan Banjir di Jalan Meteorologi Raya, Medan Tembung
Kakanwil Kemenagsu : Ramadan Momentum Perkuat Kesalehan Sosial dan Harmoni Kebangsaan
Operasi Keselamatan Toba 2026, Angka Kematian di Jalan Turun Drastis 45 Persen
Hadapi Ramadan dan Lebaran, Stok Pangan Cukup dan Harga Terkendali
Kapolri Lepas 22 Kontainer Bantuan Kemanusiaan Polri untuk Aceh-Sumatera
DPRD Medan Bongkar Kejanggalan Pembongkaran Billboard, Aroma “Perangko Kilat” Mencuat
komentar
beritaTerbaru