Kamis, 04 Juni 2026

Bobrok Tirtanadi Menjadi-jadi?

Administrator - Kamis, 04 Juni 2026 13:29 WIB
Bobrok Tirtanadi Menjadi-jadi?
Istimewa
Kantor Perumda Tirtanadi di Medan

POSMETRO MEDAN,Medan -- Bobroknya pelayanan Perumda Tirtanadi Medan, kian menjadi-jadi. Tersendatnya distribusi air ke rumah pelanggan, sudah menjadi momok menakutkan yang seolah tak akan pernah usai. Dugaan penyimpangan anggaran, kini mulai dicurigai sebagai faktor utamanya.

Ketua Information Corruption Watch Republik Indonesia (ICW RI) Pusat, Jokly Sihotang SE, tidak membantah dugaan penyimpangan anggaran marak terjadi di dalam tubuh Perumda Tirtanadi.

"Saya kira dugaan penyimpangan anggaran faktor utama bobroknya pelayanan. Akibatnya, timbul kerugian di tengah hajat hidup orang banyak. Air tak sampai ke rumah warga dengan teratur," sebut Jokly, ditemui di salah satu lokasi wisata Bandar Baru Sumatera Utara, Kamis pagi (4/6/2026) sekira pukul 08.00 WIB.

Baca Juga:

Dugaan penyimpangan yang pernah diketahui Jokly, salah satunya pada dana perawatan sejumlah bak pemancar. Dana mengalir, tapi kondisi baknya tidak terawat. Selain itu, soal pengadaan bahan kimia. Dari pencampuran maupun pengolahan bahan kimia di bak pemancar, tidak standar.

"Jadi jangankan distribusi yang baik. Perumda Tirtanadi diduga belum juga memproduksi air bersih kepada pelanggan dengan kuantitas, kualitas dan kontinuitas sesuai standar. Dua masalah ini sangat fundamental dalam operasional Perumda Tirtanadi. Selayaknya diperhatikan dengan serius. Tidak bisa main-main," ujar Jokly.

Baca Juga:

Dengan kondisi demikian saat ini, Jokly memastikan tujuan pendirian Perumda Tirtanadi telah lari dari koridor. Dimana, seharusnya menyelenggarakan kemanfaatan umum untuk hal penyediaan air minum dalam rangka pemenuhan hajat hidup orang banyak, justru tak terwujud.

"Kegiatan usaha yang dilakukan Perumda Tirtanadi dalam penyediaan air minum tersebut, adalah dengan mengelola dan mendistribusikan air minum yang memenuhi persyaratan kesehatan secara merata, tertib dan teratur. Bukan suka-suka. Kadang mengalir, lebih banyak macetnya," papar Jokly lagi.

Seperti diketahui, Perumda Tirtanadi membagi wilayah pemasaran pada Zona I dan Zona II. Wilayah Pemasaran Zona I mencakup daerah Kota Medan, Kecamatan Sibolangit dan Berastagi di Kabupaten Deli Serdang. Sedangkan untuk wilayah Zona II, mencakup daerah Kabupaten Tapsel, Toba, Samosir, Nisel dan Nias Utara.

Masih kata Jokly, untuk memenuhi kuantitas air pada Zona I dan Zona II, Perumda Tirtanadi memiliki 20 sumber pengolahan air yang berasal dari IPA, sumur bor dan rumah pompa yang terdapat pada Zona II. Serta sumber dari SPAM kerja sama Business to Business dengan pihak ketiga.

Demi memastikan seluruh pelanggan dapat menerima air secara kontinyu, Perumda Tirtanadi memiliki 14 Booster Pump. Fungsinya, untuk meningkatkan tekanan air sampai dengan pelanggan. "Booster Pump hanya berada di Zona I. Di Zona II tak ada," jelas Jokly menguraikan.

Sementara di sisi lain, Perumda Tirtanadi juga diduga belum memiliki data dan potensi pelanggan yang digunakan dalam perencanaan peningkatan/pengembangan produksi dan jaringan distribusi.

Dalam penambahan pelanggan sambungan baru, tambah Jokly, target sambungan baru yang diusulkan dan ditetapkan dalam RKA untuk meningkatkan pengembangan produksi dan jaringan distribusi, diduga tidak berdasarkan data potensi dan tidak realistis.

"Perumda Tirtanadi diduga belum memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung kelancaran produksi dan distribusi air," sambungnya.

IPA Deli Tua contohnya, memiliki 4 clarifeir berbentuk tabung yang memiliki fungsi untuk memisahkan partikel padat dari air. Proses pemisahan partikel padat dari air dilakukan dengan mencampurkan dan mengaduk air baku dengan bahan kimia Poly Aluminum Chloride (PAC). Setelah proses pencampuran PAC dengan air baku, kata Jokly, maka partikel padat akan terpisah dengan air. Partikel padat tersebut akan turun ke bagian bawah clarifeir dengan sistem gravitasi.

Sedangkan untuk partikel padat yang masih mengambang akan menempel pada tube settler yang terpasang pada tengah dalam clarifeir. Dan satu clarifeir memiliki 16 kolom tube settler.

Ironinya, beberapa tube settler diduga mengalami kerusakan pada seluruh clarifeir. Pada clarifeir I diduga terdapat 10 kolom yang rusak. Clarifeir II diduga terdapat 13 kolom yang rusak. Clarifeir III diduga terdapat 10 kolom yang rusak dan clarifeir IV diduga terdapat 14 kolom yang rusak.

Atas hal tersebut, proses pemisahan partikel padat mengambang, yang seharusnya menempel pada tube settler menjadi tidak optimal karena rusak. Bahkan, hal tersebut menimbulkan risiko partikel padat mengambang masuk ke dalam filter dan mengakibatkan filter tidak berfungsi secara optimal. Serta dapat berpengaruh pada kualitas air yang masuk ke dalam reservoir.

"Akibatnya distribusi tak lancar dan hasil yang diproduksi juga tak sesuai harapan," keyakinan Jokly mengemuka.

Selain itu, lanjut Jokly, soal IPA Sibolangit yang memiliki sistem pengolahan air bersih menggunakan gravitasi. Sumber air yang dikelola oleh IPA Sibolangit ini, berasal dari mata air yang ditangkap dengan menggunakan bron. Yaitu; bangunan atau kontruksi yang dirancang untuk melindungi, menangkap dan menampung air baku yang berasal dari mata air.

Air yang ditangkap pada bron kemudian dialirkan pada bak pemancar yang merupakan bangunan yang berfungsi sebagai penampung air tangkapan dari bron. Air dari bron dialirkan ke bak pemancar melalui pipa yang terpasang springkle/pemercik. Hal tersebut dilakukan agar proses aerasi terjadi. Yaitu proses penambahan oksigen dari udara ke dalam air dengan tujuan menaikan tingkat pH air.

IPA Sibolangit sendiri memiliki 3 bak pemancar yang lokasinya berbeda-beda. Namun, bak pemancar III Lau Kaban dan bak pemancar IV Puang Adja, diduga terdapat springkle yang tidak terpasang sebanyak 10 unit dan 39 unit. Hal tersebut mengakibatkan, air yang mengalir dari pipa langsung ke bak pemancar, tanpa melewati springkle yang mengakibatkan kadar pH air berisiko di bawah standar.

Bak pemancar I Rumah Sumbul dan bak pemancar II Lau Bengklewang, dalam proses penambahan bahan kimia di IPA Sibolangit, soda ash digunakan untuk meningkatkan kadar pH air dan kalsium hipoklorit digunakan untuk membunuh bakteri. Namun, penggunaan bahan kimia tersebut diduga hanya dilakukan di bak pemancar III Lau Kaban dan bak pemancar II Lau Bengklewang.

"Mesin pengaduk soda ash yang berada pada gedung bak pemancar III Lau Kaban dan bak pemancar II Lau Bengklewang, diduga rusak. Sehingga proses pelarutan soda ash dilakukan secara manual oleh operator. Proses pelarutan kalsium hipoklorit juga dilakukan manual karena mesin pengaduk diduga tidak ada. Sangat riskan dan ironis, di tengah pembiayaannya yang besar diduga tetap mengalir," ungkap Jokly.

Bukan hanya itu, gedung bak pemancar II Lau Bengklewang, gedung pengolahan bahan kimia dan pipa air dari bron, juga diduga tidak terawat dengan kondisi penuh karat. Pipa yang berfungsi untuk mengalirkan larutan bahan kimia soda ash dan kalsium hipoklorit, juga diduga kondisinya berkarat, terbuka dan tersumbat yang mengakibatkan air larutan bahan kimia tidak seluruhnya masuk ke bak pemancar II Lau Bengklewang.

Hal yang hampir serupa juga terjadi pada Rumah Pompa Lumban Silintong. Bak filter SPL diduga berkarat dan terdapat besi berkarat yang jatuh ke dalam filter. Serta kondisi bak filter yang sudah bocor yang mengakibatkan air dari filter terbuang keluar dari mubazir.

"Bak filter tak bisa menampung air sesuai kapasitasnya, dan air pada bak filter beresiko tercemar zat berbahaya dari logam berkarat," ungkap Jokly.

Rumah Pompa Lumban Silintong, masih Jokly, menggunakan kalsium hipoklorit untuk melakukan desinfektan air. Namun proses pengolahan serta penuangannya dilakukan secara manual karena tidak memiliki alat pengolahan bahan kimia. Jokly berharap, sebelum masalah ini dilaporkannya ke penegak hukum, jajaran Direksi Perumda Tirtanadi segera berbenah. Sehingga, bobrok Tirtanadi tak semakin menjadi-jadi.

Ketua Komisi C DPRD Sumut, Rony R Situmorang, coba diminta tanggapannya terkait hal ini belum mau berkomentar. Begitu pun, Rony menyarankan agar pihak-pihak yang merasa perlu perbaikan dilakukan di dalam Perumda Tirtanadi, segera menyurati secara resmi Ketua DPRD Sumut. Agar dilakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan para pihak. Terutama Perumda Tirtanadi.

Dirut Perumda Tirtanadi Ardian Surbakti, sampai berita ini dirilis, belum memberikan klarifikasi. Ponselnya yang coba dihubungi, dari pagi hingga siang, tak kunjung berhasil. Sebab dalam kondisi tidak aktif. Dilayangkan pesan singkat, hanya terlihat centang satu.

Sementara amatan Posmetro di sejumlah titik Kota Medan, distribusi air Tirtanadi tak pernah normal. Seperti di Jalan Sempurna Kelurahan Sudirejo I Kecamatan Medan Kota. Warga di sana mengeluh air mati dari pagi sampai dini hari. "Pagi pas Adzan Subuh selesai, matilah dia. Hidup lagi nanti jam 12 malam ke atas," ungkap Pak Seh, Warga Jalan Sempurna nomor 83.

Kondisi tersebut menurut Pak Seh, sudah berlangsung lama. Bahkan, warga sekitar curiga kondisi ini akan lebih parah di kemudian hari.

(Put)

Editor
: Indrawan
Tags
beritaTerkait
Perumda Tirtanadi Jalin Kerjasama dengan Jaksa Pengacara Negara Kejati Sumatera Utara
Sekda Kota Medan Apresiasi Perumda Tirtanadi,Turunkan Tarif Bagi Pelanggan Kategori Tertentu
Tirtanadi Putus Jaringan Air Warga di Jl. Tuba III, Mandala II Akibat Tunggakan Rp 131 Juta dan Illegal Connecting
Zakiyuddin Harahap Minta Perumda Tirtanadi Selesaikan keKeluhan Masyarakat Terkait Kualitas Air Bersih
Perumda Tirtanadi Jalin Kerja Sama dengan Kejaksaan Negeri Medan
Direktur Utama Perumda Tirtanadi Tinjau Kantor Cabang Diski, Pastikan Pelayanan Optimal
komentar
beritaTerbaru