Minggu, 02 Agustus 2026

Festival Bunga dan Buah 2026 Berakhir, Efektivitas Anggaran dan Dampak Ekonomi Jadi Sorotan

Faliruddin Lubis - Minggu, 02 Agustus 2026 02:27 WIB
Festival Bunga dan Buah 2026 Berakhir, Efektivitas Anggaran dan Dampak Ekonomi Jadi Sorotan
IST
Festival Bunga dan Buah (FBB) Kabupaten Karo Tahun 2026 memasuki hari terakhir pelaksanaan pada Sabtu (1/8/2026).

POSMETRO MEDAN,Karo- Festival Bunga dan Buah (FBB) Kabupaten Karo Tahun 2026 memasuki hari terakhir pelaksanaan pada Sabtu (1/8/2026).

Meski berhasil menarik ribuan pengunjung ke Taman Mejuah-juah Berastagi, penyelenggaraan festival tahun ini juga menuai sorotan dari sejumlah pemerhati pariwisata, petani, dan masyarakat yang mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran serta manfaat ekonomi yang dirasakan pelaku usaha lokal.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, Festival Bunga dan Buah 2026 didukung anggaran sekitar Rp1 miliar yang bersumber dari APBD Kabupaten Karo. Nilai tersebut disebut-sebut menjadi salah satu alokasi terbesar sepanjang penyelenggaraan festival.

Baca Juga:

Sejumlah pengunjung menilai konsep festival tahun ini belum sepenuhnya mencerminkan identitas Festival Bunga dan Buah sebagai ajang promosi hasil pertanian dan hortikultura Kabupaten Karo.

Dari pantauan di lokasi, stan yang menampilkan bunga, buah, dan hasil pertanian lokal dinilai masih terbatas. Sebaliknya, sebagian stan diisi pedagang yang menjual produk umum seperti pakaian bekas, makanan ringan, dan berbagai jenis dagangan lainnya.

Baca Juga:

Salah seorang pedagang yang mengaku berasal dari Medan mengatakan dirinya menyewa stan kepada panitia untuk berjualan kentang goreng selama festival berlangsung.

"Saya dari Medan, jualan kentang goreng. Saya sewa stan ke panitia," ujarnya.

Namun, saat ditanya mengenai besaran biaya sewa stan, pedagang tersebut enggan memberikan keterangan lebih lanjut.

Pemerhati pariwisata, Apner Surbakti menilai Festival Bunga dan Buah memang berhasil meningkatkan jumlah kunjungan masyarakat. Namun menurutnya, indikator keberhasilan sebuah festival tidak hanya diukur dari ramainya pengunjung, melainkan juga dari besarnya manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat lokal.

"Kalau pengunjungnya mayoritas masyarakat Karo, tetapi pedagangnya didominasi dari luar daerah, maka uang yang dibelanjakan masyarakat berpotensi lebih banyak mengalir ke luar Kabupaten Karo. Idealnya, pelaku UMKM, petani bunga, dan petani buah lokal mendapat ruang yang lebih besar agar perputaran ekonomi tetap berada di daerah," katanya.

Ia juga menyoroti perlunya transparansi terkait mekanisme penyewaan lapak dan penggunaan fasilitas di lokasi festival. Menurutnya, apabila penyelenggaraan kegiatan telah didukung anggaran pemerintah, maka setiap potensi penerimaan dari penyewaan lapak maupun fasilitas lainnya perlu dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat.

"Jika memang ada penerimaan dari sewa lapak atau fasilitas lainnya, perlu dijelaskan mekanisme pengelolaannya. Apakah menjadi bagian dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) atau dikelola sesuai ketentuan yang berlaku. Transparansi penting untuk menghindari munculnya pertanyaan di masyarakat," ujarnya.

Kritik juga datang dari kalangan petani bunga. Lidia Br. Ketaren, petani bunga di Berastagi, mengaku tidak merasakan dampak langsung dari penyelenggaraan Festival Bunga dan Buah tahun ini.

"Di sana tidak ada stan penjual bunga potong seperti yang kami tanam. Kami juga tidak dilibatkan. Namanya Festival Bunga dan Buah, seharusnya yang ditampilkan adalah bunga dan buah lokal Karo," katanya saat diwawancarai Posmetro Medan di Pasar Bunga Raya Berastagi.

Hal senada disampaikan Ketua Forum Petani Bunga Enam Desa, Karya Jaya Ginting. Ia menilai pemerintah daerah, khususnya Dinas Pariwisata, belum menunjukkan keseriusan penuh dalam meningkatkan kualitas Festival Bunga dan Buah.

"Dari sisi jumlah pengunjung memang ramai, tetapi pemanfaatan bunga masih sangat sedikit. Selain itu, masih ada komitmen pemerintah yang menurut kami belum terealisasi, termasuk rencana melibatkan petani bunga dan buah dalam pelaksanaan festival," ujarnya.

Festival Bunga dan Buah merupakan agenda pariwisata yang telah lama menjadi bagian dari identitas Kabupaten Karo. Kegiatan ini berawal dari tradisi masyarakat agraris sebagai ungkapan syukur atas hasil panen, kemudian berkembang menjadi ajang promosi sektor pertanian, hortikultura, budaya, dan pariwisata daerah.

Sejumlah pihak berharap evaluasi terhadap pelaksanaan Festival Bunga dan Buah 2026 tidak hanya berfokus pada jumlah pengunjung, tetapi juga pada efektivitas penggunaan anggaran, tingkat keterlibatan petani dan UMKM lokal, serta besarnya dampak ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat Kabupaten Karo.

Hingga berita ini diterbitkan, Posmetro Medan telah berupaya meminta konfirmasi kepada panitia penyelenggara dan Pemerintah Kabupaten Karo terkait komposisi peserta stan, mekanisme penentuan pedagang, pengelolaan sewa lapak, serta tanggapan atas berbagai kritik yang berkembang.

Namun, belum ada keterangan resmi yang diterima. Apabila tanggapan tersebut disampaikan, redaksi akan memuatnya sebagai bagian dari prinsip keberimbangan pemberitaan.(Jpg)

Tags
beritaTerkait
Bupati Karo: Pelaksanaan APBD Tak Cuma Diukur dari Tingkat Penyerapan Anggaran
Begini Harapan Bupati Karo untuk Majukan Pariwisata dan Hortikultura
Menteri Koperasi RI Buka Festival Bunga dan Buah 2026 Kabupaten Karo, Dukung jadi Event Bertaraf Internasional
Duel Maut Pakai Senjata Tajam, 2 Pria di Karo Tewas
Festival Bunga dan Buah Karo 2026 Resmi Dibuka, Ribuan Pengunjung Padati Berastagi di Bawah Pengamanan Ketat
Bupati Karo Ajak Mitra Internasional dan Dunia Usaha Berkolaborasi Bangun Karo
komentar
beritaTerbaru