Austria Imbang Lawan Aljazair, Iran Pulang Kampung
Hasil Imbang Austria vs Aljazair Buat Iran Tersingkir dan Gagal ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026.
Sport 33 menit lalu
POSMETRO MEDAN, Simalungun-Aroma khas teh dari perbukitan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, kini perlahan tergeser oleh bau tanah yang baru dibuka. Di balik kesejukan udara perbukitan yang dulu identik dengan kesejahteraan dan ketenangan, terselip kegelisahan warga. Kebun teh yang selama puluhan tahun menjadi simbol ekonomi dan identitas daerah, kini mulai berubah wajah.
Sebuah perusahaan perkebunan pelat merah yang selama ini dikenal sebagai penjaga warisan teh Sidamanik, disebut mulai mengembangkan tanaman lain yang lebih komersial. Di sejumlah titik, warga mulai melihat aktivitas pembersihan lahan dan penanaman bibit baru. Namun, istilah "konversi kebun teh" yang dulu kerap digunakan, kini tak lagi muncul dalam dokumen resmi.
Sebagai gantinya, lahir frasa baru yang terdengar lebih lembut dan diplomatis: "pemanfaatan lahan kosong."
Baca Juga:
Seorang anggota DPRDSumatera Utara yang ditemui di Medan mengungkapkan bahwa istilah itu bukan sekadar pergantian kata, melainkan strategi komunikasi politik.
"Bukan mengganti kebun teh, tapi memanfaatkan lahan yang idle (menganggur, tidak aktif, atau tidak digunakan)," ujarnya.
Baca Juga:
Namun bagi para pemerhati lingkungan di Sidamanik, istilah itu terdengar seperti kosmetik kebijakan.
"Kalimatnya manis, tapi maksudnya tetap sama," kata Erni, dari Aliansi Pemerhati Peduli Teh Simalungun.
"Seolah ganti baju, tapi orangnya tetap sama," katanya.
Dari hasil pengamatan lapangan, sebagian besar area yang disebut sebagai "lahan kosong" ternyata bersebelahan dengan blok tanaman teh produktif.
"Kalau diteruskan, ekosistem air bisa rusak. Tanah di sini tidak cocok untuk tanaman monokultur besar," ujar seorang dosen lingkungan dari salah satu universitas di Simalungun.
Gerakan Akar Rumput di Lereng Teh
Keresahan warga kini menjelma menjadi gerakan akar rumput lintas komunitas, melibatkan petani, mahasiswa, guru, dan pemerhati lingkungan. Mereka berhimpun dalam Aliansi Peduli Teh Simalungun, didukung oleh jaringan seperti LRR Indonesia, Green Teachers Indonesia, dan Peduli.
Aksi perdana berupa long march penyadaran publik digelar pada 7 September lalu di Sarimatondang. Ratusan warga berjalan kaki sambil membawa spanduk bertuliskan, "Selamatkan Teh Kami, Selamatkan Sumber Air."
"Kami bukan menolak pembangunan, tapi menolak pengabaian," tegas Julius Sitanggang, koordinator aksi. "Teh bukan sekadar tanaman, tapi bagian dari jati diri dan ekonomi lokal," sambungnya.
Senandung Diam dari Para Pengambil Keputusan
Beberapa anggota legislatif daerah mengaku telah lima kali lebih mendatangi lokasi kebun, namun hingga kini belum berani mengambil sikap tegas.

"Mereka bilang ini kewenangan pemerintah daerah," ujar salah satu sumber di kalangan legislatif yang enggan disebut namanya.
"Yang lain diam saja. Ya, kita tahulah alasannya," katanya.
Sementara itu, seorang mantan karyawan senior perusahaan perkebunan negara mengingatkan agar kebijakan apapun tidak mengorbankan kepercayaan publik.
"Kalau perusahaan negara kehilangan rasa memiliki dari rakyat, itu tanda bahaya," ujarnya singkat.
Aksi lanjutan rencananya digelar di depan Kantor Bupati Simalungun sebagai bentuk desakan, agar proyek tanam baru di area kebun teh dihentikan sementara, sampai ada kajian ekologis yang transparan dan melibatkan masyarakat.
Lebih dari Sekadar Daun Teh
Bagi warga Sidamanik, perjuangan ini bukan hanya soal mempertahankan daun teh, tapi menjaga sumber air, mata pencaharian, dan masa depan anak cucu.
"Teh kami bukan sekadar komoditas," ujar seorang ibu di tengah hamparan kebun. "Ini napas kami. Kalau teh hilang, Sidamanik akan kehilangan jiwanya. (Erni Tanjung)
Hasil Imbang Austria vs Aljazair Buat Iran Tersingkir dan Gagal ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026.
Sport 33 menit lalu
Kapolda Sumut Pimpin Upacara Pemuliaan NilaiNilai Tribrata, Perkuat Integritas Personel Sambut Hari Bhayangkara ke80.
Medan 38 menit lalu
Pungli di SidebukDebuk Disikat, Gubernur Bobby Nasution Kerahkan Personel Jaga 24 Jam
Sumut 4 jam lalu
Bertambah! Korban Tewas Gempa Kembar Venezuela Jadi 1.430 Orang.
Inter-Nasional 4 jam lalu
Hasil Piala Dunia 2026 Imbang vs Kolombia, Portugal di Jalur Neraka.
Sport 5 jam lalu
POSMETRO MEDANRibut tender kerja peningkatan mutu infrastruktur Kabupaten Nias Utara yang dimenangkan perusahaan penawar harga tertinggi, h
Sumut 15 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Medan Menyemarakkan Hari Bhayangkara ke80 Tahun 2026, Polrestabes Medan menggelar Lomba Cipta Lagu Musisi Jalanan di Aula
Medan 15 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Tapsel Rumah Zakat imeresmikan masjid yang telah dibangun di Desa Tolang Julu, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapan
Sumut 17 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Medan Achiruddin Hasibuan membantah melakukan pemukulan terhadap warga bernama Fauzi di Jalan Guru Sinumba, Medan Helvetia
Peristiwa 17 jam lalu
Posmetro Medan, Medan Kesempatan kerja bagi masyarakat terus menjadi perhatian Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas. Melalui berbagai
Medan 18 jam lalu