Rumah Ketua Ormas di Tanjung Morawa Diserang Puluhan OTK
Rumah Ketua Ormas di Tanjung Morawa Diserang Puluhan OTK, Mobil dan Jendela Hancur, Keluarga Minta Pelaku Ditangkap.
Peristiwa 2 menit lalu
POSMETRO MEDAN, Simalungun-Aroma khas teh dari perbukitan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, kini perlahan tergeser oleh bau tanah yang baru dibuka. Di balik kesejukan udara perbukitan yang dulu identik dengan kesejahteraan dan ketenangan, terselip kegelisahan warga. Kebun teh yang selama puluhan tahun menjadi simbol ekonomi dan identitas daerah, kini mulai berubah wajah.
Sebuah perusahaan perkebunan pelat merah yang selama ini dikenal sebagai penjaga warisan teh Sidamanik, disebut mulai mengembangkan tanaman lain yang lebih komersial. Di sejumlah titik, warga mulai melihat aktivitas pembersihan lahan dan penanaman bibit baru. Namun, istilah "konversi kebun teh" yang dulu kerap digunakan, kini tak lagi muncul dalam dokumen resmi.
Sebagai gantinya, lahir frasa baru yang terdengar lebih lembut dan diplomatis: "pemanfaatan lahan kosong."
Baca Juga:
Seorang anggota DPRDSumatera Utara yang ditemui di Medan mengungkapkan bahwa istilah itu bukan sekadar pergantian kata, melainkan strategi komunikasi politik.
"Bukan mengganti kebun teh, tapi memanfaatkan lahan yang idle (menganggur, tidak aktif, atau tidak digunakan)," ujarnya.
Baca Juga:
Namun bagi para pemerhati lingkungan di Sidamanik, istilah itu terdengar seperti kosmetik kebijakan.
"Kalimatnya manis, tapi maksudnya tetap sama," kata Erni, dari Aliansi Pemerhati Peduli Teh Simalungun.
"Seolah ganti baju, tapi orangnya tetap sama," katanya.
Dari hasil pengamatan lapangan, sebagian besar area yang disebut sebagai "lahan kosong" ternyata bersebelahan dengan blok tanaman teh produktif.
"Kalau diteruskan, ekosistem air bisa rusak. Tanah di sini tidak cocok untuk tanaman monokultur besar," ujar seorang dosen lingkungan dari salah satu universitas di Simalungun.
Gerakan Akar Rumput di Lereng Teh
Keresahan warga kini menjelma menjadi gerakan akar rumput lintas komunitas, melibatkan petani, mahasiswa, guru, dan pemerhati lingkungan. Mereka berhimpun dalam Aliansi Peduli Teh Simalungun, didukung oleh jaringan seperti LRR Indonesia, Green Teachers Indonesia, dan Peduli.
Aksi perdana berupa long march penyadaran publik digelar pada 7 September lalu di Sarimatondang. Ratusan warga berjalan kaki sambil membawa spanduk bertuliskan, "Selamatkan Teh Kami, Selamatkan Sumber Air."
"Kami bukan menolak pembangunan, tapi menolak pengabaian," tegas Julius Sitanggang, koordinator aksi. "Teh bukan sekadar tanaman, tapi bagian dari jati diri dan ekonomi lokal," sambungnya.
Senandung Diam dari Para Pengambil Keputusan
Beberapa anggota legislatif daerah mengaku telah lima kali lebih mendatangi lokasi kebun, namun hingga kini belum berani mengambil sikap tegas.

"Mereka bilang ini kewenangan pemerintah daerah," ujar salah satu sumber di kalangan legislatif yang enggan disebut namanya.
"Yang lain diam saja. Ya, kita tahulah alasannya," katanya.
Sementara itu, seorang mantan karyawan senior perusahaan perkebunan negara mengingatkan agar kebijakan apapun tidak mengorbankan kepercayaan publik.
"Kalau perusahaan negara kehilangan rasa memiliki dari rakyat, itu tanda bahaya," ujarnya singkat.
Aksi lanjutan rencananya digelar di depan Kantor Bupati Simalungun sebagai bentuk desakan, agar proyek tanam baru di area kebun teh dihentikan sementara, sampai ada kajian ekologis yang transparan dan melibatkan masyarakat.
Lebih dari Sekadar Daun Teh
Bagi warga Sidamanik, perjuangan ini bukan hanya soal mempertahankan daun teh, tapi menjaga sumber air, mata pencaharian, dan masa depan anak cucu.
"Teh kami bukan sekadar komoditas," ujar seorang ibu di tengah hamparan kebun. "Ini napas kami. Kalau teh hilang, Sidamanik akan kehilangan jiwanya. (Erni Tanjung)
Rumah Ketua Ormas di Tanjung Morawa Diserang Puluhan OTK, Mobil dan Jendela Hancur, Keluarga Minta Pelaku Ditangkap.
Peristiwa 2 menit lalu
Ketua TP PKK Ny Liswati Hadiri dan Tinjau Gebyar IVA Test Kota Pematangsiantar.
Sumut 13 menit lalu
Personel Polres Karo Berduka, Dua Bhayangkara Berpulang. Jonsen Sitanggang dan Ferdinand Sembiring
Sumut 28 menit lalu
Bursa Transfer Musim Panas, Juventus Bidik Kiper Unai Simon.
Sport 32 menit lalu
Kepala Regional SPPG Tengku Agung Kurniawan Diperiksa Kejatisu, Diduga Terlibat Jual Beli Titik Dapur MBG.
Sumut 52 menit lalu
Wali Kota Tanjungbalai Tegaskan Tidak Ada Larangan Berjualan, Jaga Kebersihan dan Estetika Kawasan Sekitar
Sumut 58 menit lalu
POSMETRO MEDAN, Medan Rektor Universitas Negeri Medan (UNIMED), Prof. Dr. Baharuddin, ST., M.Pd., secara resmi mengukuhkan 10.046 mahasi
Medan satu jam lalu
Pembalap Nasional Fitra Eri Respons Kapolda Sulut Pembalap di Ajang Resmi Tak Bisa Disalahkan atas Kelalaian Mengemudi.
Peristiwa satu jam lalu
POSMETRO MEDAN, Jakarta Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas didakwa merugikan negara Rp 622 miliar atas kasus korupsi pengelolaan kuo
Inter-Nasional satu jam lalu
Sat Narkoba Polres Binjai Tangkap Cewek Pelaku Pod Getar.
Peristiwa 2 jam lalu