Ratusan Warga Gerebek Rumah Kos di Kompleks DPR Padangsidimpuan, 23 Cewek dan 16 Cowok Diamankan
Ratusan Warga Gerebek Rumah Kos di Kompleks DPR Padangsidimpuan, 39 Orang Diamankan.
Sumut 3 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Medan -Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat sejak akhir November lalu bukan hanya merendam rumah dan jalan. Di sejumlah titik, banjir juga melumpuhkan satu hal yang kini nyaris setara kebutuhan dasar, akses komunikasi.
Di Kabupaten Aceh Tamiang, relawan kemanusiaan mengaku harus kembali pada teknologi lama untuk bertahan. Handy Talky (HT)- alat komunikasi radio yang hanya bisa menjangkau sesama pengguna-menjadi satu-satunya harapan ketika sinyal Telkomsel mati total.

Baca Juga:
"Kalau tidak pakai HT, rombongan bisa terpisah. Sama sekali tidak ada sinyal," ujar salah satu relawan Mitra Arsitektur Indonesia (MAI) yang terlibat langsung dalam distribusi bantuan di Aceh Tamiang.
Kesaksian serupa datang dari sejumlah rombongan lain, termasuk anggota DPRD Sumut, yang berada di wilayah terdampak pada 20 Desember lalu. Mereka menyebut komunikasi seluler praktis lumpuh di beberapa jalur utama dan titik pengungsian.
Baca Juga:
Ironisnya, di tengah keterbatasan sinyal tersebut, harga paket data justru dikeluhkan melonjak tinggi. Keluhan ini beredar luas di lapangan, meski belum disertai klarifikasi resmi soal kebijakan tarif darurat dari operator.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan publik, di mana negara-dan korporasi strategis-berdiri ketika bencana datang?
Rilis Resmi vs Fakta Lapangan
Dalam keterangan tertulisnya, Telkomsel menyatakan telah memulihkan lebih dari 80 persen site terdampak di Aceh, sekitar 97 persen di Sumatera Utara, dan 98 persen di Sumatera Barat. Sebanyak 21 site di Aceh Tamiang disebut sudah kembali aktif, sementara 67 site lainnya masih dalam proses pemulihan bertahap.
VP Area Network Operations Sumatera Telkomsel, Nugroho A. Wibowo, menegaskan bahwa kendala utama bukan pada perangkat jaringan, melainkan pasokan listrik yang belum stabil.
"Secara teknis, banyak perangkat sudah siap beroperasi. Namun site baru dapat hidup sepenuhnya apabila pasokan catu daya memadai," ujarnya.
Penjelasan ini rasional. Namun di lapangan, persoalan tidak berhenti pada teknis semata. Bagi warga dan relawan, jaringan yang 'siap' tapi belum bisa digunakan tetap berarti satu hal, sunyi komunikasi.
Di beberapa wilayah Kota Medan sendiri-yang relatif tidak terdampak langsung banjir-gangguan sinyal juga dilaporkan. Di sekitar RS Mitra Medan saja, banyak pengguna Telkomsel yang mengaku kehilangan sinyal secara total pada waktu tertentu. Saat bimcanf-bincang kepada petugas pendaftaran BPJS Mitra Sejati, mereka mengatakan bahwa sinyal Telkomsel tidak bisa masuk selain XL dan TRI.
Telkomsel menyatakan telah menyalurkan bantuan air bersih, pakaian layak pakai, dan sembako ke sejumlah posko pengungsian. Upaya ini patut dicatat. Namun di era ketika akses informasi menentukan keselamatan, publik berharap lebih dari sekadar bantuan logistik.
Dalam situasi bencana, konektivitas bukan komoditas biasa. Ia adalah urat nadi koordinasi evakuasi, distribusi bantuan, hingga pencarian korban. Ketika sinyal hilang dan biaya akses terasa memberatkan, yang terputus bukan hanya jaringan-melainkan rasa kehadiran negara dan empati korporasi.
Di titik inilah kritik publik menemukan relevansinya. Bukan untuk menghakimi, melainkan mengingatkan.
Seperti kata filsuf publik.
Krisis sering kali bukan soal teknologi yang gagal, melainkan kepekaan yang tertinggal. Bencana menuntut lebih dari klaim persentase pemulihan; ia menuntut keberpihakan yang terasa nyata.
Menunggu Jawaban yang Lebih Jelas
Telkomsel menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat pemulihan dan mendukung masyarakat agar segera bangkit. Pernyataan ini menutup rilis resmi mereka dengan nada optimistis.
Namun bagi warga Aceh Tamiang, relawan di lapangan, dan para pengguna yang kehilangan sinyal di saat genting, optimisme memerlukan satu prasyarat akses yang benar-benar hadir, bukan sekadar dilaporkan.
Musibah adalah ujian bersama. Dan bagi perusahaan telekomunikasi sebesar Telkomsel, ujian itu bukan hanya soal kecepatan memulihkan jaringan melainkan bagaimana etika layanan ditegakkan ketika publik berada dalam posisi paling rentan.(erni)
Ratusan Warga Gerebek Rumah Kos di Kompleks DPR Padangsidimpuan, 39 Orang Diamankan.
Sumut 3 jam lalu
149 Hari Izin Tinggal Ilegal, Imigrasi Belawan Deportasi Warga Negara Kamboja.
Medan 5 jam lalu
Ancaman Kebakaran dan Aroma BBM Diduga Resahkan Warga Sekitar Fuel Terminal Medan, Masyarakat Desak Pertamina Beri Solusi.
Medan 6 jam lalu
Timnas Indonesia akan menghadapi Timor Leste pada matchday kedua Grup A Piala AFF 2026, Jumat 31 Juli 2026, pukul 17.00 WIB.
Sport 6 jam lalu
POSMETRO MEDAN,Medan Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol. Whisnu Hermawan Februanto, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa perubahan UndangUndan
Medan 6 jam lalu
POSMETRO MEDAN,Asahan Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Asahan berhasil mengamankan seorang remaja yang diduga membawa senjat
Kriminal 6 jam lalu
POSMETRO MEDAN,Belawan Satuan Reserse Narkoba (Satnarkoba) Polres Pelabuhan Belawan kembali berhasil mengungkap kasus peredaran narkotik
Kriminal 6 jam lalu
POSMETRO MEDAN,Berastagi, Karo Semarak Festival Bunga dan Buah (FBB) Kabupaten Karo Tahun 2026 resmi dimulai, Kamis (30/7), dengan mengh
Sumut 6 jam lalu
POSMETRO MEDAN,MEDANForum Wartawan Kejaksaan (Forwaka) Belawan diketuai Budi Yanto SH dan Sekretaris Muhammad Maskur resmi dilantik oleh Ke
Medan 6 jam lalu
POSMETRO MEDAN,Medan Bank Sumut membuka akses dana Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sebesar Rp44,5 miliar bagi pekebun sawit di Sum
Bisnis 6 jam lalu