Selasa, 31 Maret 2026

Duh! Gajah Sumatera Bernama Ratna di Lembaga Konservasi Sergai Mati

Faliruddin Lubis - Kamis, 12 Februari 2026 12:22 WIB
Duh! Gajah Sumatera Bernama Ratna di Lembaga Konservasi Sergai Mati
Dok/BBKSDA Sumut/DetikSumut
Gajah Ratna yang mati di lembaga konservasi R Zoo & Park.

POSMETRO MEDAN,Serdang Bedagai - Gajah Sumatera bernama Ratna yang berada di lembaga konservasi R Zoo & Park Kabupaten Serdang Begadai (Sergai), dilaporkan mati. Gajah betina berusia sekitar 50 tahun itu mati karena mengalami masalah pencernaan.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut Novita Kusuma Wardani mengatakan gajah Ratna dinyatakan mati pada 7 Februari 2026.

Saat itu, Ratna memang tengah menjalani perawatan intensif. Hasil pemeriksaan dokter, gajah Ratna diduga mati karena mengalami gangguan fungsi organ.

Baca Juga:

"Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, uji laboratorium, serta pelaksanaan bedah bangkai, diketahui bahwa kematian Ratna disebabkan oleh gangguan fungsi ginjal yang disertai gangguan fungsi hati serta komplikasi pada sejumlah organ vital lainnya, seperti jantung dan saluran pencernaan," kata Novita dalam keterangannya, Rabu (11/2/2026).

Novita menjelaskan bahwa gajah Ratna tiba di R Zoo & Park pada 29 September 2025 bersama tiga ekor gajah lainnya. Gajah tersebut dalam kondisi tubuh kurang ideal atau kurus.

Baca Juga:

Selain sudah masuk kategori usia tua, Ratna juga didapati mengalami luka menahun berupa fistula (saluran tidak normal) pada telapak kaki yang memerlukan penanganan medis khusus.

"Dalam proses perawatan, penanganan terhadap Ratna menghadapi tantangan tersendiri karena (Ratna) tidak mudah di-handle sebagaimana gajah lainnya, sehingga setiap tindakan medis terhadap luka fistula dilakukan melalui prosedur pembiusan terlebih dahulu guna memastikan keselamatan dan efektivitas penanganan," jelasnya.

Pada 30 Oktober 2025, terdeteksi ada udema (pembengkakan) pada bagian abdomen Ratna. Lalu, pada 12 November 2025, tim dokter melakukan penanganan awal dengan memberikan vitamin serta terapi suportif dan menunjukkan adanya perbaikan secara bertahap.

Namun, pada 1 Januari 2026, kembali terjadi peradangan pada luka fistula di kaki Ratna, yang juga disertai dengan pengelupasan kulit di sekitar area tersebut pada 11 Januari 2026. Selanjutnya, drh Anhar Lubis selaku dokter yang menangani Ratna bersama manajemen R Zoo & Park merekomendasikan tindakan medis lanjutan karena kondisi lukanya belum tertangani secara tuntas.

"Pasca penanganan medis oleh tim dokter gabungan, luka menunjukkan progres pemulihan, namun belum optimal," ujar Novita.

Tags
beritaTerkait
Perkuat Sinergi Pembangunan Kota Medan Camat Medan Selayang Hadiri Diskusi Tematik RKPD 2027
Mantan Kepala SMAN 19 Divonis 2,5 Tahun Penjara Meski Separuh Uang Negara Sudah Kembali
Musa Rajekshah Resmikan Sekretariat MES Serdang Bedagai, Apresiasi Peran UMKM Dorong Ekonomi Syariah
Safari Ramadan Pemko Binjai, Momentum Pererat Silaturahmi Dengan Masyarakat
THR Juga Bisa Jadi Modal Masa Depan
Mobil Ditabrak Kereta Api di Perlintasan, Satu Orang Luka
komentar
beritaTerbaru