Selasa, 10 Maret 2026

Mojtaba Khamenei Dipilih Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran

Administrator - Senin, 09 Maret 2026 13:51 WIB
Mojtaba Khamenei Dipilih Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Istimewa
Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Baru Iran yang baru. (Foto: Anadolu)

POSMETRO MEDAN,Teheran -- Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei, telah dipilih oleh Majelis Pakar sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran, menurut laporan media Negeri Para Mullah. Terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai ayatollah baru diumumkan secara lantang oleh penyiar di televisi negara tersebut.

"Terlepas dari kondisi perang yang akut dan ancaman langsung musuh terhadap lembaga populer ini, serta terlepas dari pemboman kantor Sekretariat Majelis Pakar yang mengakibatkan gugurnya beberapa anggota staf dan tim keamanan, proses pemilihan dan pengangkatan kepemimpinan sistem Islam tidak terhenti sedetik pun," demikian isi pengumuman tersebut, sebagaimana dilansir BBC.

Mojtaba Khamenei menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dibunuh dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Pria berusia 56 tahun itu akan menjadi momok baru bagi AS dan Israel, yang telah memperingatkan akan menjadikan pemimpin tertinggi pengganti Khamenei sebagai sasaran pembunuhan.

Sejak revolusi 1979, otoritas tertinggi di Iran berada di tangan pemimpin tertinggi, meskipun distribusi kekuasaan di seluruh sistem ulama dan Korps Garda Revolusi telah memastikan bahwa kekuatan rezim tetap berakar kuat jika pemimpin tertinggi meninggal dunia.

Ia dipandang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh, namun paling tertutup di lingkaran politik Iran.

Ia dipilih Majelis Ahli (Assembly of Experts), sebuah lembaga beranggotakan 88 orang yang berdasarkan konstitusi bertanggung jawab untuk menunjuk otoritas politik dan agama tertinggi di Iran. Melansir Anadolu, Senin (9/3/2026), pemilihannya mengikuti prosedur konstitusional yang berlaku, alih-alih transfer kekuasaan turun-temurun, meskipun garis keturunan keluarga dan kedekatannya dengan mendiang Ali Khamenei telah lama menjadikannya pusat spekulasi suksesi.

Dengan pengangkatan ini, Mojtaba menjadi Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran sejak revolusi 1979. Ia mewarisi kepemimpinan di tengah momen konflik regional yang intens dan ketidakpastian domestik.

Kehidupan Awal dan Latar Belakang

Mojtaba lahir pada 8 September 1969 di kota Masyhad, salah satu pusat keagamaan utama di timur laut Iran. Ia adalah putra kedua dari mendiang Ali Khamenei, yang memimpin Iran sebagai Pemimpin Tertinggi dari tahun 1989 hingga tewasnya pekan lalu dalam serangan udara AS-Israel, serta cucu dari ulama Sayyed Javad Khamenei.

Ia menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel, politisi konservatif terkemuka dan mantan ketua parlemen yang saat ini mengepalai salah satu lembaga budaya utama di Iran. Zahra termasuk di antara mereka yang tewas dalam serangan AS-Israel yang menargetkan kompleks perumahan keluarga Khamenei di ibu kota Teheran. Mojtaba selamat dari serangan tersebut, namun ia kehilangan ibu, saudara perempuan, ipar, serta keponakan-keponakannya.

Pendidikan dan Pelatihan Keulamaan

Seperti kebanyakan tokoh di lingkungan ulama Iran, Mojtaba menempuh pendidikan agama di kota Qom, pusat pembelajaran teologi Syiah terkemuka di negara itu sekaligus rumah bagi seminari-seminari yang melatih para ulama Iran.

Ia mempelajari yurisprudensi dan teologi Islam di bawah bimbingan beberapa sarjana konservatif terkemuka, termasuk Ayatollah Mahmoud Hashemi Shahroudi, Ayatollah Lotfollah Safi Golpaygani, dan Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi—seorang ideolog berpengaruh yang membimbing banyak tokoh politik konservatif di Republik Islam tersebut.

Terlepas dari keterlibatannya selama puluhan tahun di lembaga keulamaan, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan formal di pemerintahan atau bertugas di kantor eksekutif maupun melalui pemilihan umum.

Peran dan Pengaruh

Media internasional sering kali menggambarkan Khamenei sebagai sosok yang buram dengan pengaruh besar di balik layar. Visibilitas publiknya yang terbatas memperkuat citra ini, karena tidak ada pidato publik yang ekstensif, wawancara, atau manifesto politik yang menjabarkan posisi-posisinya.

Namun, Mojtaba sendiri jarang terlibat dalam debat politik publik. Penampilannya sebagian besar terbatas pada upacara resmi, peringatan nasional, dan pertemuan keagamaan yang diliput oleh media pemerintah Iran.

Menurut laporan Iran, Mojtaba juga ikut serta dalam Perang Iran-Irak pada akhir 1980-an ketika ayahnya menjabat sebagai presiden. Ia dilaporkan bergabung dengan unit sukarelawan saat masih muda, yang menandai pengalaman pertamanya dengan urusan militer.

Suksesi di Bawah Ancaman

Mojtaba Khamenei mengambil alih tampuk kepemimpinan bangsa pada salah satu momen paling fluktuatif dalam sejarah modern Iran. Masa transisi ini juga berlangsung di bawah ancaman langsung dari Israel, yang para pemimpinnya telah bersumpah untuk membunuh pemimpin Iran mana pun yang terpilih menggantikan Khamenei.

"Setiap pemimpin yang dipilih oleh rezim teror Iran untuk terus memimpin rencana penghancuran Israel, mengancam Amerika Serikat, dunia bebas, dan negara-negara di kawasan, serta menindas rakyat Iran, akan menjadi target pembunuhan yang pasti, tidak peduli siapa namanya atau di mana dia bersembunyi," kata Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, di platform media sosial X.

(wan/okezone)

Editor
: Indrawan
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru