Bank Sumut Salurkan Zakat Pegawai, 100 Anak Ikuti Khitan Massal
POSMETRO MEDAN,Medan PT Bank Sumut melalui Unit Pengelola Zakat (UPZ) kembali menggelar aksi sosial berupa khitan massal terhadap 100 an
Medan satu jam lalu
POSMETRO MEDAN,Jakarta -- Kisah hubungan penculik dan korbannya yang saling benci, kemudian berubah jadi saling menyayangi memang sudah bukan hal baru di medium film. Bisa jadi, sudah ratusan film telah menggunakan formula yang sama. Namun, Film 'Panggil Aku Ayah' yang merupakan adaptasi dari film Korea Pawn, dengan caranya mampu membalut kisah klasik tersebut tetap punya sisi yang menarik.
Film drama menyentuh ini disutradarai Benni Setiawan yang didukung dua produser ternama Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari. Keduanya dikenal sebagai sosok di balik berbagai film keluarga yang sukses menyentuh hati penonton, seperti Jumbo dan Keluarga Cemara.
Hasilnya, film Panggil Aku Ayah hadir bukan sekadar adaptasi. Film ini justru jadi reinterpretasi ulang yang mengangkat nuansa lokal lebih kuat. Dalam balutan narasi drama yang menghangatkan, film ini menyentuh sisi terdalam tentang bagaimana keluarga bisa hadir bukan karena darah, tapi karena pilihan.
Film ini bercerita tentang dua penagih utang kelas teri yang tiba-tiba harus mengasuh seorang anak kecil akibat ulah mereka sendiri. Apa yang awalnya dimulai sebagai keterpaksaan perlahan berubah menjadi hubungan yang dipenuhi kasih sayang. Secara perlahan, penonton akan diajak melihat proses para tokoh menemukan sisi kemanusiaan mereka yang lama tertimbun oleh kerasnya hidup.
Cerita bermula saat seorang ibu tunggal, Rosa (Sita Nursanti) terpaksa 'menggadaikan' putrinya, Intan (Myesha Lin), pada penagih utang, Dedi (Ringgo Agus Rahman) dan Tatang (Boris Bokir). Awalnya, sang ibu berjanji akan kembali beberapa hari untuk membawa kembali putrinya sekaligus melunasi utang.
Namun, sang ibu justru pergi dan menghilang tanpa jejak. Dia membiarkan putrinya bersama dua penagih utang. Seperti sebuah kesialan, dua penagih utang itu kini pun harus mengasuh Intan.
Di rumah sang penagih utang, sang anak awalnya hanya dianggap sebagai beban. Namun, seiring waktu, ikatan emosional tumbuh di antara ketiganya, mengubah hubungan mereka menjadi keluarga yang hangat dan penuh kasih. Haru dan menghangatkan hati, itulah yang akan terjadi setelahnya.
Dengan premis melodrama seperti ini, sineas memang dibekali segudang dramatik adegan yang luas untuk menguras habis air mata penonton. Selama kurang lebih 2 jam, film ini akan memancing tangis penonton sesering mungkin. Sang sutradara benar-benar mampu menyulap tiap momen jadi terasa spesial.
Namun, menariknya, segmen menangis tak selalu berarti bersedih. Di beberapa adegan, segmen menangis itu justru jadi suguhan reflektif bagi penonton untuk memikirkan ulang makna kemanusian dan kekeluargaaan di tengah hidup yang sedang dijalani.
Dalam satu momen di tempat karoeke, mustahil mata penonton tak pilu melihat anak kecil dipekerjakan di sana. Terlebih, keputusan anak bekerja di sana bukan merupakan keinginan si anak atau bahkan orang tuanya, tetapi karena situasi yang begitu busuk yang membawa anak ke tempat seperti itu.
Film yang mengambil latar waktu di era awal 2000-an ini juga berhasil membangun suasana zaman itu dengan detail yang menarik. Tak sekadar estetika, elemen di zaman itu jadi kunci memajukan plot cerita.
Hal itu bisa dilihat di elemen telepon rumah dan pager yang pada zaman itu memang masih jadi alat komunikasi utama yang sangat penting. Kehadiran telepon di film ini sukses dimanfaatkan secara kreatif untuk mendorong alur cerita dan menciptakan momen dramatik yang khas pada zaman itu.
Tak hanya itu, salah satu detail lain yang mencuri perhatian dalam Panggil Aku Ayah ialah simbolisasi boneka dan celengan yang dibawa oleh Intan. Boneka merupakan hadiah dari sang ibu, sedangkan celengan ayam adalah pemberian dari dua penagih utang.
Di dalam film, boneka menjadi satu-satunya peninggalan Intan dari ibu yang masih dimilikinya. Boneka ini hadir menjadi simbol cinta, perlindungan, dan kehangatan yang masih membekas dalam ingatan sang anak.
Dalam banyak adegan, tampak Intan terus menggenggamnya, bahkan ketika berpindah-pindah tempat tinggal dan menjalani kehidupan yang tak pasti. Namun, di tengah adegan, muncul benda baru yang dimiliki si anak, yakni celengan ayam, pemberian dari Dedi dan Tatang.
Mereka memberi celengan ayam tersebut sebagai hadiah. Tampak sederhana, tapi pemberian itu menyimpan makna besar di dalam film. Celengan adalah lambang masa depan, tempat menyimpan harapan, bukan kenangan. Jika boneka menandai masa lalu, celengan ayam mewakili harapakan akan masa depan.
Perpindahan fokus anak dari hanya memegang boneka menjadi mulai mengisi celengan ayam menandai transformasi penting di film ini. Dalam film ini, sutradara Benni bisa dibilang berhasil memandu narasi cerita dan permainan metafora dengan tempo tenang.
Dia tak segan memberikan ruang bagi penonton untuk menyelami transformasi karakter dengan baik. Lewat dialog sederhana dan adegan-adegan hening yang penuh makna, film ini menunjukkan bagaimana pertemuan manusia bisa saling menyelamatkan. Anak kecil yang tak bersalah itu perlahan menjadi guru tentang cinta, empati, dan tanggung jawab.
Di luar itu, satu kekuatan lain film ini terletak pada performa aktingnya. Pemeran utama di film ini, yakni Dedi (Ringgo Agus) dan Tatang (Boris Bokir) mampu membawa naratif film ini leih hidup dan alami.
Ringgo benar-benar menunjukkan sekali lagi kepiawainnya ketika bermain peran sebagai ayah. Gestur dan ekspresinya membawa nuansa hangat tanpa harus berlebihan. Ekspresinya ketika menunjukkan rasa khawatir terasa sungguhan.
Sementara itu, Boris Bokir hadir sebagai penyeimbang emosi lewat komedi situasi yang ringan tapi tetap relevan dengan konteks cerita. Chemistry keduanya berhasil membangun dinamika yang menghibur sekaligus menyentuh.
Lalu, sang anak yang menjadi pusat gravitasi cerita juga hadir dengan layer emosi yang pas. Aktingnya tak mencolok, tapi kejujuran dan kepolosannya justru mampu membongkar dinding-dinding keras orang dewasa di sekelilingnya, termasuk yang menonton di depan layar bioskop.
Film produksi Visinema Studios dan dan CJ ENM ini sudah mulai bisa ditonton di bioskop per 7 Agustus 2025
(wan/bbs)
POSMETRO MEDAN,Medan PT Bank Sumut melalui Unit Pengelola Zakat (UPZ) kembali menggelar aksi sosial berupa khitan massal terhadap 100 an
Medan satu jam lalu
Karmila Purba menjadi orang Indonesia pertama yang tampil sebagai joki tong setan di Inggris.
Profil 9 jam lalu
Ditinggal 20 Menit Nonton Acara di Lapangan Merdeka Medan, Motor Driver Ojol Raib Dicuri
Peristiwa 9 jam lalu
Jerman Terpanggang Panas Ekstrem, Aspal Sampai Meleleh.
Inter-Nasional 9 jam lalu
Mantan Pejabat Bawaslu Sumut Diduga Rekayasa Status Pegawai untuk Pengajuan Pinjaman Bank, Nilainya Disebut Capai Miliaran Rupiah.
Medan 9 jam lalu
PT Hutama Karya (Persero) menggelar kegiatan Mozy Fun Run & Activation di kawasan Car Free Day (CFD).
Sumut 10 jam lalu
ABK Kapal Motor Emirates Tewas Mendadak Saat Melaut, TNI AL Bantu Lakukan Evakuasi.
Peristiwa 10 jam lalu
Logo dan Identitas Visual HUT Ke81 Kemerdekaan Indonesia.
Inter-Nasional 11 jam lalu
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay Tim Panser Harus Lembur buat Analisis, Lawan Hobi Main Keras.
Sport 11 jam lalu
Seorang pria di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut), Dolmansen Sipayung (36) menikam temannya, Edward Sembiring (52) hingga tewas.
Kriminal 12 jam lalu