Minggu, 29 Maret 2026

Perceraian di Indonesia Didominasi Gugatan dari Istri, Ternyata Ini Penyebabnya

Administrator - Rabu, 29 Oktober 2025 10:39 WIB
Perceraian di Indonesia Didominasi Gugatan dari Istri, Ternyata Ini Penyebabnya
Istimewa
Ilustrasi pertengkaran suami istri yang berujung perceraian.

Perempuan saat ini, kata Drajat, memiliki urutan prioritas yang berbeda dibandingkan dengan zaman dulu. "Pilihan utama mereka bukan lagi menikah. Pertama, mereka ingin bekerja. Kedua, melanjutkan pendidikan. Ketiga, menikmati hidup dengan jalan-jalan. Baru yang keempat adalah menikah," jelasnya.

Sementara itu, bagi laki-laki, pilihan utama biasanya bekerja atau sekolah terlebih dahulu, baru kemudian menikah. Perempuan menunda pernikahan karena menganggap pernikahan sebagai ikatan yang membatasi kebebasan.

"Waktu mereka jadi tidak bebas, dan jika mereka bekerja, penghasilan mereka tidak bisa digunakan sepenuhnya untuk diri sendiri," kata Drajat.

Selain itu, menurunnya kepercayaan terhadap laki-laki juga menjadi alasan utama. Perempuan semakin ragu akan kesetiaan, tanggung jawab, dan kemampuan laki-laki untuk menjadi pasangan yang stabil. Fenomena ini juga dipengaruhi oleh banyaknya kasus perceraian dan konflik rumah tangga yang terjadi di kalangan publik figur dan tokoh masyarakat.

"Dari situ muncul pandangan bahwa membina keluarga itu berat, sementara laki-laki kini menghadapi tekanan besar dari persaingan ekonomi dan lemahnya tanggung jawab sebagai kepala keluarga," jelasnya.

Banyak perempuan yang menunda menikah

Drajat menambahkan, fenomena ini paling banyak terjadi di kalangan kelas menengah. "Kelas atas biasanya sudah mapan, sedangkan kelas bawah lebih cenderung menerima kondisi apa adanya. Nah, di kelas menengah ini persoalan banyak muncul," ujarnya.

Persaingan ekonomi yang semakin ketat membuat perempuan kini lebih aktif masuk ke dunia kerja. Ketika mereka sudah memiliki pendapatan sendiri, muncul keinginan untuk memiliki privilege, kebebasan menggunakan uang dan waktu mereka, serta kesempatan untuk sekolah atau mengembangkan diri tanpa batas. Akibatnya, penundaan pernikahan menjadi hal yang umum.

"Sebenarnya penundaan itu bagus jika digunakan untuk mematangkan diri. Tapi, di sisi lain, hal ini membuat perempuan cenderung mencari laki-laki yang sudah benar-benar siap secara mental dan ekonomi. Tekanan ini justru menjadi beban bagi laki-laki," tutur Drajat.

Editor
: Indrawan
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru