Kamis, 06 Agustus 2026

Bantah Tudingan Keluarga, Dokter Forensik Tegaskan Tak Ada Tanda Kekerasan di Tubuh Eks Istri Polisi

Jafar Sidik - Kamis, 06 Agustus 2026 21:59 WIB
Bantah Tudingan Keluarga, Dokter Forensik Tegaskan Tak Ada Tanda Kekerasan di Tubuh Eks Istri Polisi
(Dam)
Dokter Forensik RS Bhayangkara, Dr. Mistar Ritonga didampingi Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak, S.I.K., M.H., saat memberikan penjelasan medis terkait kondisi jenazah wanita berinisial W (30), mantan istri Brigadir I.

POSMETRO MEDAN-Tim Dokter Forensik Rumah Sakit (RS) Bhayangkara memberikan penjelasan medis terkait kondisi jenazah wanita berinisial W (30), mantan istri Brigadir I. Pihak medis membantah tuduhan keluarga yang menduga adanya tanda-tanda kekerasan fisik sebelum korban ditemukan tewas.

Dokter Forensik RS Bhayangkara, Dr. Mistar Ritonga, menegaskan bahwa dari hasil pemeriksaan awal yang dilakukan timnya, tidak ditemukan adanya jejak penganiayaan pada tubuh korban.

"Dari pemeriksaan awal, saya tidak menjumpai tanda-tanda kekerasan," kata Mistar saat memberikan keterangan di PolrestabesMedan, Kamis (6/8/2026).

Baca Juga:

Ia menjelaskan, lebam yang ada di bagian leher bukanlah bekas cekikan, melainkan perubahan yang timbul secara fisiologis. Hal serupa juga terjadi di bagian mata.

"Kalau mata lebam secara fisiologis bukan oleh karena kekerasan. Yang terjadi seperti kita ketahui bahwa luka tembaknya itu berjalan ataupun menelusuri juga di dasar tengkoraknya," ucapnya.

Baca Juga:

"Di sana, ada pembuluh darah yang disebut dengan sirkulus willisi, yang mempunyai tiga percabangan, salah satunya mendarahi ke kelopak mata. Jadi, kalau dia pecah terjadi hematom namanya. Itu istilahnya lebih khas dia hematom kacamata," sambungnya.

Sementara untuk jahitan di bagian bawah dagu dekat tenggorokan disebabkan pihaknya melakukan otopsi secara lengkap.

"Bukan hanya leher, kepala juga. Jadi, kami buka dari insisi sampai simfisis, atau perut bawahnya. Sesudah itu, kami keluarkan organ, diperiksa semua, baru kami jahit kembali," sebutnya.

Mistar turut menyampaikan, untuk lebam yang ada di punggung kaki serta beberapa jemari tangan sebagai lebam mayat.

"Lebam mayat itu ialah penumpukan cairan darah di posisi tubuh. Jadi, itu fisiologis, berbeda nanti dia lebamnya itu oleh karena kekerasan. Memang warnanya sama karena yang terlihat itu sama-sama warna darah atau hemoglobinnya," tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan bahwa bekas luka lama pada tangan korban merupakan perlakuan korban sendiri.

"Luka lama yang waktunya bukan baru-baru ini. Namun demikian, tim kami sudah mendalami terkait dengan luka lama tersebut. Tim kami sudah mengetahui tempat kejadiannya di mana dan sudah mengetahui saksi-saksi yang melihat langsung kejadian itu. Kemudian waktunya juga sudah diketahui. Dan ini kami melihat bahwa termasuk yang sangat sensitif. Tetapi bisa secara tegas saya sampaikan supaya tidak simpang siur, luka lama yang ada di sayatan lengan pergelangan kirinya itu dilakukan oleh korban itu sendiri," jelas Jean Calvijn.

Jean Calvijn menuturkan, berdasarkan hasil laboratorium forensik dan scientific investigation dan hasil autopsi hingga keterangan saksi yang menguatkan saat kejadian tersebut dan korban menyandar menutupi pintu kamar mandi tersebut bahwa kematian WLG merupakan tindakan bunuh diri.

"Dugaan awal kami menyimpulkan itu adalah bunuh diri," ujar Jean Calvijn.

Sebelumnya diberitakan, SG (56) menduga anaknya, wanita inisial W (30), bukan meninggal karena mengakhiri hidup menggunakan senjata api milik mantan suami, Brigadir I, tetapi disebabkan adanya penganiayaan.

"Ini bukan penembakan diri sendiri. Ini hasil dianiaya," kata SG saat diwawancarai di rumah duka di Kota Medan pada Rabu (5/8/2026).

"Karena dari kita lihat, di sana ada pencekikan leher dan mata lebam. Semua badannya agak kebiru-biruan. Tidak ada itu bekas tembakan seperti apa yang diberitakan selama ini," sambungnya.

Ia sempat mempertanyakan ke petugas kepolisian terkait luka itu, tetapi sampai saat ini belum mendapat penjelasan.

Dengan penjelasan rinci dari tim forensik RS Bhayangkara ini, kepolisian memastikan bahwa tanda-tanda fisik pada jenazah korban murni merupakan fenomena medis dan dampak dari luka tembak, bukan bukti penganiayaan fisik secara fisik sebelum kematian.(Dam)

Tags
beritaTerkait
Polrestabes Medan Gulung 1.187 Kasus Narkoba dalam 300 Hari, Pengungkapan Melonjak 85 Persen
Gelapkan Uang   Rp135.539.348  Sales PT. ADL  Diadili di PN Medan
Musrenbang 2027, UNIMED Sinkronkan Program Prioritas dengan Kebijakan Nasional
Mengenal Lebih Dekat Sosok Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak
Perampok Kencan Sesama Jenis Lewat Aplikasi Grindr, Begini Modus dan Cara Mainnya
Keluarga Mantan Istri Polisi Tak Percaya Diduga Bunuh Diri Pakai Senpi
komentar
beritaTerbaru