Tak sedikit anak-anak maupun orang dewasa yang akhirnya membeli layangan dari tangannya, tertarik oleh aksi dan reputasinya sebagai pemain ulung.
Di dalam becaknya, tertata rapi berbagai layangan warna-warni—merah, biru, kuning—dan gulungan benang yang siap dijual. Bagi Pak Amin, setiap sore bukan sekadar waktu untuk berjualan, melainkan juga ajang menampilkan seni dan ketangkasan. Ia bukan hanya pedagang, tapi juga performer yang memanfaatkan langit sebagai panggung.
Baca Juga:
Kini, setiap sore di Kebun Bunga, tak hanya ramai oleh tawa dan langkah kaki para pengunjung. Di atasnya, layangan Pak Amin terus menari, menjadi simbol dari kreativitas dan semangat warga kota—bahwa rezeki bisa datang dari mana saja, bahkan dari benang yang menari di langit sore Medan.(Bagas)
Baca Juga:
Tags
beritaTerkait
komentar