Jumat, 22 Mei 2026
Buka Popkot Medan 2026

Cara Rico Waas Nyalakan Semangat Atlet Belia

Toga Nainggolan - Jumat, 22 Mei 2026 09:36 WIB
Cara Rico Waas Nyalakan Semangat Atlet Belia
Foto: Posmetro/Antonius

Cuaca terlihat cerah di Lapangan Balai Desa Helvetia, Medan, yang siang itu dipenuhi semarak seragam olahraga dan wajah-wajah belia antusias penuh harap. Pembukaan Pekan Olahraga Pelajar Kota (Popkot) Medan 2026 terasa betul tidak hanya sebagai rutinitas seremoni tahunan.

Ada energi yang hidup di tengah ratusan atlet muda yang berkumpul. Namun yang paling terasa justru bagaimana Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, datang bukan saja untuk membuka acara secara formal, tetapi benar-benar memberikan hati dan meluangkan waktunya untuk anak-anak itu.

Sejak tiba di lokasi, Rico Waas terlihat menikmati setiap momen bersama para atlet pelajar. Tak tampak sama sekali kalau dia terburu-buru mengejar agenda berikutnya. Pasti masih sangat padat, tentunya. Di hadapan ratusan atlet yang mewakili 1.100 peserta Popkot, Rico memilih berjalan lebih dekat, menyapa, bercakap, bahkan sesekali berhenti untuk mendengar cerita mereka. Kehadirannya memberi kesan hangat, seolah ia ingin memastikan bahwa anak-anak muda itu merasa diperhatikan dan dihargai.

Baca Juga:

Dalam sambutannya, Rico menegaskan bahwa Popkot bukan sekadar kompetisi olahraga. Baginya, ajang ini adalah ruang untuk menumbuhkan bibit-bibit atlet Kota Medan sejak usia dini.

"Hari ini mudah-mudahan Popkot terus bisa membangun calon-calon bibit atlet baru yang ada di Kota Medan, dari dini sekali hingga nanti dewasa," ujarnya.

Baca Juga:

Suasana paling hidup hadir ketika ia mulai berinteraksi langsung dengan para atlet muda. Dengan gaya santai dan penuh canda, Rico memanggil beberapa atlet anak dan remaja ke depan panggung. Obrolan yang terjalin terasa cair dan akrab, jauh dari kesan formal antara kepala daerah dan peserta acara.

Ada Adrian Nicolas Parhusip, atlet judo dari SMA Negeri 11 Medan yang telah meraih sabuk hitam setelah lima tahun berlatih. Ada pula Rayan Arutala, atlet panjat tebing berusia enam tahun, serta Cut Nadin Fitriani, karateka dari SMP Negeri 14 Medan. Rico ngobrol dengan mereka seperti seorang bapak atau bahkan abang yang sedang memberi semangat kepada adik-adiknya. Pertanyaan-pertanyaan ringan dan jenaka yang ia lontarkan beberapa kali memancing gelak tawa dan tepuk tangan para peserta yang memenuhi lapangan.

Walau pertanyaan ringan, terselip juga pesan untuk membangun keakraban. Rico, misalnya bertanya, siapa nama Kadispora Medan atau Camat Medan Helvetia. Jika atlet muda itu tampak ragu-ragu, dia membolehkan mereka bertanya langsung kepada Tengku Chairuniza, S.Sos, M.AP dan Gunawan Perangin Angin, S.T., M.M yang memang hadir dalam acara tersebut. Anak-anak itu jadi punya jalan membangun rasa percaya diri sekaligus keakraban dengan para pejabat Pemko Medan yang tentu saja juga punya semangat untuk membina mereka. Sekali mengayuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui.

Di balik suasana santai itu, terselip perhatian yang serius terhadap masa depan generasi muda Kota Medan. Rico berbicara tentang disiplin, proses panjang menjadi juara, hingga pentingnya menjaga diri dari narkoba dan judi online.

"Menjadi pemenang tentu harapan kita semuanya. Bisa naik podium, membanggakan keluarga dan diri sendiri. Tapi itu semua dimulai dari proses sejak dini, keseriusan, keteguhan, rutinitas yang baik, dan kedisiplinan," kata Rico.

Yang menarik, hadiah yang diberikan dalam kuis ringan bersama para atlet bukan berupa uang tunai. Rico memilih memberikan seragam dan perlengkapan olahraga. Pilihan sederhana itu justru menyampaikan pesan yang kuat: orientasi utamanya adalah pembinaan, bukan sekadar seremoni atau euforia sesaat. Anak-anak itu didorong untuk terus berlatih, terus bertumbuh, dan terus mencintai olahraga yang mereka tekuni.

"Ada banyak keunikan dari anak-anak kita semuanya. Talenta mereka luar biasa dan harus terus dijaga," ucap Rico dengan nada bangga.

Popkot Medan 2026 sendiri mempertandingkan 12 cabang olahraga dengan total 320 medali yang diperebutkan. Tetapi di balik angka-angka itu, ada pesan yang lebih besar yang tampak ingin dibangun Pemerintah Kota Medan melalui kehadiran Rico Waas hari itu: pembangunan tidak semata tentang jalan, gedung, atau infrastruktur fisik. Pembangunan sejatinya juga tentang membangun manusianya.

Dan di tengah tawa para atlet muda yang siang itu memenuhi Lapangan Helvetia, pesan itu terasa begitu nyata. Bahwa bagi Rico Waas, masa depan Kota Medan sedang tumbuh dari tangan-tangan kecil yang hari ini berlatih, berkeringat, dan bermimpi menjadi juara.

Rico Waas Serahkan Kartu BPJS Ketenagakerjaan Bagi Pengemudi Ojol

Jalanan, Risiko, dan Ketenangan Bagi Keluarga

Di hadapan para pengemudi ojek online yang memenuhi Gedung PKK Kota Medan, Rabu siang itu, Wali Kota Medan, Rico Waas, tampak berbicara dengan ritme yang hati-hati. Kata-katanya terasa ditenun dengan cermat. Tidak terdengar seperti pidato formal yang kaku. Ia seperti sedang memilih kata demi kata dengan penuh kesadaran, memahami benar siapa yang sedang duduk di depannya: orang-orang yang setiap hari menggantungkan hidup di jalanan, mengejar order, menerobos panas, hujan, kemacetan, dan segala kemungkinan yang tak pernah benar-benar bisa ditebak.

Topik yang dibicarakan memang bukan perkara ringan. Tentang musibah, kecelakaan, bahkan yang paling buruk: kematian. Tentang risiko berkelahi dengan waktu di jalanan. Tentang pikiran akan kemungkinan terburuk yang sebenarnya selalu dibawa pulang diam-diam oleh para pejuang nafkah di jalanan itu setiap hari.

Karena itu, ketika atas nama Pemko Medan dia menyerahkan kartu kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan kepada ribuan pengemudi ojek online, suasana acara tidak hanya terasa seremonial. Ada nuansa empati yang kuat di ruangan itu. Terlebih saat Rico Waas menyerahkan santunan kematian secara simbolis kepada keluarga salah seorang driver ojol yang telah berpulang.

Di titik itulah kehati-hatian Rico Waas dalam menyampaikan pesan terasa sangat penting. Ia tidak sedang ingin menakut-nakuti. Tidak pula ingin membuka luka atau memanggil kecemasan. Namun ia juga tidak ingin menutup mata terhadap kenyataan bahwa seberapa disiplin dan berhati-hatinya seseorang berkendara, risiko di jalan raya tetap tidak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan.

"Di jalanan banyak hal yang tidak bisa kita prediksi. Kita sudah hati-hati, tapi bisa saja tertabrak karena kelalaian orang lain," ujarnya.

Kalimat itu meluncur tanpa nada menggurui. Justru terdengar seperti pengakuan jujur terhadap kerasnya kehidupan di jalan. Dan para pengemudi ojol yang mendominasi ruangan terlihat menerima dan memahami pesan tersebut dengan baik.

Rico Waas berkali-kali menegaskan bahwa program perlindungan sosial ini bukan berarti mengharapkan musibah terjadi. Sebaliknya, menurutnya, perlindungan diperlukan agar sebuah keluarga tidak langsung jatuh ke jurang kesulitan ketika tulang punggung mereka mengalami kecelakaan kerja atau meninggal dunia.

Ia kemudian mencontohkan santunan yang diterima keluarga almarhum Rajali, seorang driver ojol. Totalnya mencapai Rp 232 juta, terdiri atas santunan kematian dan beasiswa pendidikan untuk dua anak hingga perguruan tinggi.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin sekadar data. Namun bagi keluarga pekerja informal, jaminan semacam itu bisa menjadi pembeda antara mampu bertahan atau tenggelam dalam ketidakpastian ekonomi.

"Kalau kepala keluarga tidak ter-cover, bagaimana masa depan istri dan anak?" kata Rico Waas lagi.

Di ruangan itu, pertanyaan tersebut terasa menggantung cukup lama.

Program yang dibiayai melalui APBD Kota Medan tersebut menjangkau 17.851 pekerja informal, dengan 8.779 di antaranya merupakan pengemudi transportasi online. Sebuah langkah yang menunjukkan upaya menghadirkan perlindungan negara bagi kelompok pekerja yang selama ini hidup dalam ritme ekonomi harian: bekerja hari ini untuk kebutuhan esok.

Namun acara siang itu tidak berhenti pada pembagian kartu kepesertaan semata. Pemko Medan juga mencanangkan Gerakan Aman Berkendara. Rico Waas mengingatkan pentingnya helm standar, spion lengkap, serta kendaraan yang layak jalan.

Sekali lagi, cara ia menyampaikan pesan terasa penting. Tidak bernada menghakimi. Tidak pula sekadar formalitas kampanye keselamatan. Melainkan seperti ajakan dari seseorang yang memahami bahwa bagi para driver ojol, jalan raya bukan hanya ruang lalu lintas, melainkan ruang hidup.

Ia bahkan membuka ruang komunikasi langsung bagi para pengemudi untuk melaporkan persoalan di lapangan, mulai dari intimidasi hingga praktik jukir liar.

"Kita ingin pemerintah, aparat, dan pengemudi terkoneksi. Kalau ada masalah di lapangan, laporkan. Jangan dibiarkan," tegasnya.

Dan mungkin di situlah inti dari seluruh pertemuan itu: para pengemudi ojol ingin didengar, dipahami, dan merasa bahwa perjuangan mereka di jalanan tidak sepenuhnya dijalani sendirian. (Toga Nainggolan)

Tags
beritaTerkait
Rico Waas Perkuat Satpol PP, Damkar dan Satlinmas: Profesional, Humanis dan Siap Jadi Garda Terdepan Pelindung Warga
Jalanan, Risiko, dan Ketenangan Bagi Keluarga
Lindungi Ojol dari Risiko Jalanan, Rico Waas Serahkan Kartu BPJS Ketenagakerjaan untuk Ribuan Driver di Medan
Harkitnas Ke-118, Wali Kota Medan Rico Waas: Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Bangsa
Polrestabes Medan Gulung 178 Tersangka dalam 15 Hari, 21 Orang Dihadiahi Timah Panas
Rico Waas Perkuat Ketahanan Pangan dan Keamanan Lingkungan, Pastikan Pemerintah Hadir di Tengah Warga
komentar
beritaTerbaru