MAI juga menilai pengawasan terhadap hutan lindung-baik legal maupun ilegal- belum berjalan efektif. Perambahan yang terjadi di hulu, menurutnya, menjadi faktor paling berbahaya. "Kerusakannya luar biasa. Kita negeri hutan hujan tropis, tapi tidak menjaganya."
Kerusakan Lingkungan Akibat Ulah Manusia
Baca Juga:
Syahlan menekankan bahwa bencana kali ini tidak hanya disebabkan cuaca ekstrem atau badai siklon, tetapi juga
"akibat ulah manusia" yang merusak lingkungan tanpa memperhatikan daya dukung alam. "Lahan lindung dirampas legal maupun ilegal. Ini persoalan kesadaran dan nafsu eksploitasi," ujarnya.
Baca Juga:
Di tengah lambannya mitigasi pemerintah, MAI menjadi salah satu komunitas yang bergerak cepat menggalang bantuan, hingga dalam waktu kurang dari satu hari kebutuhan donasi dapat terpenuhi. MAI terdiri dari arsitek, akademisi, kontraktor, konsultan, regulator, dan masyarakat. "Ini bukti bahwa kolaborasi lintas profesi dapat bekerja nyata," kata Syahlan.
Pemulihan Bisa Makan Waktu 2-4 Tahun
MAI memperkirakan pemulihan total kawasan terdampak akan membutuhkan waktu 2 tahun, bahkan dapat berlangsung hingga akhir masa pemerintahan Presiden Prabowo. "Kerja perbaikan infrastruktur dan sosial ini panjang. Tidak bisa hanya respons euforia awal bencana," ucapnya.
Seruan Nasional: Etika Lingkungan Sejak Usia Dini
Sebagai solusi jangka panjang, Syahlan mendorong pemerintah memasukkan etika lingkungan (environmental ethics) ke dalam kurikulum dari TK hingga perguruan tinggi, serta mewajibkan tokoh agama menyisipkan materi menjaga lingkungan dalam khotbah.
"Kalau tidak dilakukan, tahun depan pola bencana yang sama akan berulang," ujarnya.(erni)
Tags
beritaTerkait
komentar