Rabu, 01 Juli 2026

Nanti Malam: Inggris vs RD Kongo, Awas Parkir Bus!

Faliruddin Lubis - Rabu, 01 Juli 2026 09:23 WIB
Nanti Malam: Inggris vs RD Kongo, Awas Parkir Bus!
X@FOXSoccer
Grafis.

POSMETRO MEDAN,Amerika Serikat - Inggris kembali akan menghadapi tim yang kemungkinan besar memasang lima bek, seperti yang dilakukan Ghana dan Panama pada fase grupPiala Dunia 2026.

Namun, Three Lions kini telah belajar dari pengalaman. Setelah ditahan imbang 0-0 oleh Ghana yang bermain dengan formasi 5-4-1, mereka mampu memecahkan kebuntuan dengan mengalahkan Panama 2-0, yang juga menerapkan pola serupa, pada laga terakhir Grup L.

Pengalaman itu memberi Thomas Tuchel formula untuk membongkar pertahanan rapat saat Inggris menghadapi Republik Demokratik Kongo pada babak 32 besar di Atlanta Stadium, Georgia, Amerika Serikat, Rabu (1/7) pukul 23.00 WIB.

Baca Juga:

Kongo memasang empat bek ketika menghadapi Uzbekistan yang lebih lemah dari mereka, dalam pola 4-4-2. Hasilnya, mereka menang 3-1.

Namun, saat menghadapi Portugal dan Kolombia yang secara kualitas berada di atas mereka, Kongo justru memasang lima bek dengan pendekatan yang lebih progresif.

Baca Juga:

Mereka tidak bertahan sedalam Ghana karena tetap menyisakan dua penyerang untuk memaksimalkan dua senjata paling eksplosif mereka, Yoane Wissa dan Cédric Bakambu.

Tim asuhan Sebastien Desabre itu akan kembali ke setelan awal 5-3-2 seperti saat membuat frustrasi Portugal dan hampir melakukan hal serupa kepada Kolombia.

Pilihan itu sangat masuk akal bagi Chancel Mbemba cs. Namun, mereka juga sadar tidak bisa hanya bermain dengan mentalitas menghindari kekalahan.

Jika laga berlanjut hingga adu penalti, Inggris memiliki pengalaman dan rekam jejak yang jauh lebih baik dibandingkan Kongo, yang baru pertama kali tampil di fase gugur Piala Dunia.

Kalaupun Desabre tetap memasang lima bek, Tuchel sudah tahu bagaimana cara membongkar pertahanan rapat yang dibentengi lima bek.

Tuchel bisa melakukan hal itu setelah merombak trio gelandang serang di belakang ujung tombak Harry Kane, dari biasanya terdiri dari Anthony Gordon, Jude Bellingham, dan Noni Madueke, menjadi berkomposisi Marcus Rashford, Morgan Rogers, dan Bukayo Saka.

Bellingham mungkin kembali berada tepat di belakang Kane setelah Declan Rice sudah bugar untuk bermitra lagi dengan Elliot Anderson di jantung permainan Three Lions.

Saat melawan Panama, Bellingham digeser lebih mundur mendampingi Anderson sebagai poros ganda. Meskipun demikian, Bellingham malah ikut mencetak gol, bersama Kane.

Rotasi pemain yang tak mengurangi kualitas tim dan malah menambah daya gedor permainan itu membuktikan skuad Three Lions diisi pemain-pemain yang sama bagusnya, sehingga tak akan menghadapi masalah besar kecuali sudah menemukan lawan yang sepadan.

Sayangnya, Kongo yang berperingkat 41 dalam daftar ranking FIFA, bukan lawan sepadan untuk Inggris yang menempati urutan 4 pada daftar peringkat FIFA di bawah Prancis, Argentina, dan Spanyol.

Peringkat FIFA tak membohongi fakta, karena kinerja Inggris selama fase grupPiala Dunia 2026 memperlihatkan perbedaan level yang jauh sekali dengan tim dari negara yang dulu bernama Zaire itu.

Walaupun ada unsur keberuntungan dalam sebuah turnamen sepak bola, faktor ini akan sangat sulit menggerakkan pendulum pertandingan untuk berpihak kepada tim yang inferior secara teknis, taktik, dan visi.

Hampir dalam semua parameter, Three Lions mengungguli The Leopards, yang lolos ke fase grup sebagai tim berperingkat ketiga dengan indeks nilai terbaik.

Jika Inggris sudah mencetak enam gol dari 58 peluang yang 46 di antaranya terjadi di dalam kotak penalti lawan, maka Kongo memasukkan empat gol dari 34 peluang, yang 16 peluang di antaranya terjadi di dalam kotak penalti lawan.

Kongo memang memiliki pertahanan yang rapat tetapi mereka sudah kebobolan tiga kali, sedangkan gawang Inggris baru dua kali kemasukan.

Three Lions juga mencatat dua clean sheet, sedangkan Kongo selalu kebobolan dalam tiga pertandingan fase grup. Statistik itu mengisyaratkan dua hal.

Pertama, lini tengah dan lini depan Inggris efektif meredam sekaligus memutus inisiatif serangan lawan. Kedua, pertahanan mereka sangat sulit ditembus tim yang mengandalkan sedikit pemain saat menyerang.

Dua gol yang bersarang ke gawang Jordan Pickford seluruhnya tercipta saat Inggris menghadapi Kroasia, tim yang mengusung sepak bola menyerang.

Sebaliknya, saat menghadapi lawan yang lebih banyak bertahan dengan blok rendah seperti Ghana dan Kongo, pertahanan Three Lions belum mampu ditembus.

Inggris juga berbahaya karena pemain-pemainnya pandai menciptakan ruang bagi rekan-rekannya untuk melakukan dribel maupun melepaskan umpan. Pola permainan seperti itu membuat mereka mampu menjaga tempo sekaligus mempertahankan kendali atas jalannya pertandingan.

Nah, dalam aspek ini, Inggris lebih hebat daripada Kongo, angkanya 1.369 berbanding 925. Bellingham adalah pemain Inggris terbanyak melakukan hal ini dengan frekuensi 198 kali, atau 43 lebih banyak dari yang dibuat pemain sayap Kongo, Cedric Bakambu.

Kendati unggul di hampir semua sektor, termasuk lapangan tengah yang hampir pasti dikendalikan oleh duet Declan Rice dan Elliot Anderson, Three Lions tetap harus ekstra mewaspadai aspek paling mematikan dari permainan Kongo, yakni lini depan.

Di sini, Yoane Wissa yang sudah mencetak tiga gol dan sembilan peluang, adalah faktor terpenting yang bisa merusak ekspektasi pasukan Thomas Tuchel dalam memenangkan laga ini.

Kemitraannya yang efektif dengan Bakambu, membuat Wissa berpotensi merepotkan Ezzri Konsa dan mitra-mitranya di barisan belakang Inggris, yang sejak dilatih Tuchel tak lagi diisi tiga bek tengah.

Pemain lain yang bisa sangat merepotkan Inggris adalah Arthur Masuaku, yang memiliki kemampuan tinggi dalam mengirimkan umpan silang seperti Rice, bergerak agresif lini ke lini seperti Anderson, dan aktif mengumpan seperti Konsa.

Walaupun demikian, kuartet serangan Inggris pimpinan Harry Kane masih akan lebih sulit dihadapi oleh bek-bek Kongo, ketimbang sistem serangan Kongo kala menguji benteng pertahanan Three Lions.

Duet gelandang Declan Rice-Elliot Anderson yang padu dan kuat juga menjadi faktor yang membuat lawan sulit melewati garis merah teritori permainan Inggris.

Kemampuan dua gelandang bertahan ini dalam mengatur tempo, menembus sistem defensif lawan, dan merusak rencana serangan musuh, membuat tiga lawan Three Lions selama fase grup hanya bisa memiliki 22-46 persen penguasaan bola.

Kemungkinan besar tak ada skenario adu penalti dalam laga ini, pun dengan skenario lain di luar 90 menit waktu normal.

Inggris diprediksi melenggang ke babak 16 besar guna menghadapi Meksiko atau Ekuador.(JawaPos)

Tags
beritaTerkait
Dini Hari Nanti: Belgia vs Senegal, Setan Merah Pantang Angkat Koper
Ternyata! Mantan Pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert dan Anaknya Justin Kluivert Sama-sama Apes dalam Drama Adu Penalti di Piala Dunia
3 Pemain Muslim Timnas Tanjung Verde Rutin Salat Bersama Sebelum Laga
Pagi Nanti: Meksiko vs Ekuador, Hidup Mati!
Dini Hari Nanti: Pantai Gading vs Norwegia, Ayo Erling Haaland Pulangkan Gajah ke Afrika!
Pagi Nanti: Prancis vs Swedia, Hati-hati The Les Bleus!
komentar
beritaTerbaru