DPN Gelar Semarak Gebyar HUT ke-81 RI di Stadion Teladan Medan
POSMETRO MEDAN, Medan Menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Dewan Peduli Negeri (DPN) Sumatera Utara m
Medan 3 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Amerika Serikat - Saat Maroko berhasil menahan Brasil dengan skor 1-1 pada laga pembuka Piala Dunia 2026, perhatian publik memang tertuju pada hasil mengejutkan tersebut.
Namun di balik hasil itu, muncul sosok muda yang tampil luar biasa dan menjadi pusat permainan Atlas Lions. Namanya adalah Ayyoub Bouaddi, gelandang berusia 18 tahun yang baru menjalani penampilan senior keduanya bersama tim nasional Maroko.
Baca Juga:
Penampilannya begitu impresif hingga dinobatkan sebagai Player of the Match, sebuah pencapaian luar biasa mengingat ia berhadapan dengan lini tengah Brasil yang dihuni pemain-pemain berpengalaman.
Menghadapi Casemiro, Bruno Guimaraes, dan Lucas Paqueta bukan perkara mudah bagi pemain seusianya. Namun Bouaddi justru mampu mengendalikan ritme permainan.
Baca Juga:
Ia berkali-kali menerima bola di bawah tekanan, menjaga penguasaan bola dengan tenang, serta menemukan ruang di antara lini pertahanan Brasil.
Penampilan tersebut semakin menguatkan keyakinan banyak pengamat sepak bola Eropa bahwa Maroko telah menemukan salah satu gelandang muda paling menjanjikan di generasinya.
Lulusan Sains dengan Predikat Tertinggi
Melansir laman Dawn, Bouaddi lahir di Senlis, Prancis, pada 2007 dari pasangan orang tua keturunan Maroko. Karier sepak bolanya dimulai di AFC Creil sebelum bergabung dengan akademi Lille pada 2021.
Pada usia 16 tahun, ia sudah mencatat debut senior bersama Lille di UEFA Conference League dan menjadi salah satu pemain termuda yang tampil di kompetisi antarklub Eropa.
Tak lama kemudian, Lille langsung mengikatnya dengan kontrak profesional jangka panjang. Namun, sepak bola bukan satu-satunya bidang yang ia tekuni.
Di usia yang sama, Bouaddi berhasil meraih gelar sarjana sains dengan predikat tertinggi. Kini, ia melanjutkan pendidikan sebagai mahasiswa program sarjana matematika melalui sistem pembelajaran jarak jauh di Universitas Aix-Marseille.
"Matematika adalah jaring pengaman saya. Karier sepak bola itu tidak pasti. Belajar membuat pikiran saya tetap aktif."
Bagi Bouaddi, matematika bukan sekadar rencana cadangan apabila karier sepak bolanya berakhir.
Banyak pelatih menilai kemampuan akademisnya justru membentuk gaya bermainnya. Ia dikenal piawai membaca ruang, memahami sudut umpan, dan menentukan waktu terbaik untuk bergerak.
Alih-alih memaksakan operan sulit, Bouaddi menunggu jalur umpan yang benar-benar terbuka. Ia juga lebih memilih mengantisipasi pergerakan lawan daripada mengandalkan duel fisik.
Para pelatihnya bahkan kerap menyebut Bouaddi sebagai pemain yang berpikir lebih cepat dibanding pemain lain di lapangan.
Kecerdasannya juga terlihat di luar sepak bola. Pada 2023, Bouaddi memenangi kompetisi pidato publik nasional untuk pemain akademi di Prancis.
Pidatonya membahas bagaimana cara bermain sepak bola sama pentingnya dengan hasil akhir pertandingan, dan berhasil memikat para juri.
Memilih Membela Maroko
Meski sempat memperkuat tim junior Prancis, Bouaddi akhirnya memutuskan membela Maroko di level senior.
Keputusan tersebut diambil pada awal tahun ini setelah Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko berhasil memperoleh persetujuan FIFA terkait perpindahan asosiasi sepak bolanya.
Pelatih Mohamed Ouahbi bersama federasi memainkan peran penting dalam meyakinkan Bouaddi bahwa masa depannya berada bersama Atlas Lions.
Kepercayaan itu langsung dibayar lunas lewat penampilan matang saat menghadapi Brasil.
Penampilan Bouaddi membuat banyak klub elite Eropa semakin serius memantau perkembangannya.
Beberapa pengamat membandingkannya dengan Vitinha berkat kecerdasannya mengatur tempo permainan. Ada pula yang melihat kemiripan dengan Abou Diaby karena keluwesan membawa bola dari lini tengah.
Namun bagi Maroko, Bouaddi bukan sekadar talenta muda.
Ia menjadi simbol evolusi permainan Atlas Lions. Jika generasi semifinalis Piala Dunia 2022 dikenal karena organisasi permainan, disiplin, dan pertahanan kokoh, maka generasi sekarang mulai menambahkan kualitas penguasaan bola yang lebih matang.
Saat menghadapi Belanda di babak 32 besar, kembali ada harapan besar di pundak Bouaddi.
Di usia yang baru 18 tahun, ia memang masih berada di awal perjalanan kariernya.
Namun jika penampilannya melawan Brasil menjadi gambaran masa depannya, Maroko tampaknya telah menemukan sosok yang mampu memimpin lini tengah mereka selama bertahun-tahun ke depan.
Kemampuan terbaik Bouaddi mungkin bukan sekadar umpan-umpan akurat atau teknik olah bolanya. Melainkan cara ia memandang sepak bola: memecahkan setiap persoalan satu per satu, layaknya menyelesaikan sebuah persamaan matematika.(JawaPos)
POSMETRO MEDAN, Medan Menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Dewan Peduli Negeri (DPN) Sumatera Utara m
Medan 3 jam lalu
Sejumlah wisatawan dan penggemar olah raga kano asal Inggris didampingi Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Pakpak Bharat Maringan Bancin.
Sport 3 jam lalu
Wabup Samosir Bersama Dirjen Hortikultura Kementan Tanam Bawang Putih, Dorong Samosir Jadi Sentra Swasembada Pangan.
Bisnis 4 jam lalu
Polres Karo Ungkap Peredaran Sabu di Kedai Tuak, Seorang Pria Diamankan.
Kriminal 5 jam lalu
Wali Kota Wesly Servis Bola Perdana, Tandai Pembukaan Kompetisi QRIS Padel Championship Tahun 2026
Sport 5 jam lalu
Meriahkan HUT RI ke81, Kodim 0201/Medan Gelar Lomba 17 Agustus.
Medan 6 jam lalu
Tim gabungan Bea Cukai menggagalkan penyelundupan moge ilegal.
Inter-Nasional 7 jam lalu
Bupati Humbang Hasundutan mengukuhkan Paskibraka kabupaten Tahun 2026.
Sumut 9 jam lalu
Paskibra Kecamatan Jorlang Hataran Dikukuhkan, Gladi Upacara HUT RI ke81 Berlangsung Khidmat.
Sumut 10 jam lalu
Bayi di NTT Lahir Saat Gempa, Diberi Nama Agustin Gempita Aurora.
Viral 10 jam lalu