Kamis, 02 Juli 2026

Ayyoub Bouaddi, Mahasiswa Matematika yang Mengatur Lini Tengah Maroko

Faliruddin Lubis - Rabu, 01 Juli 2026 22:39 WIB
Ayyoub Bouaddi, Mahasiswa Matematika yang Mengatur Lini Tengah Maroko
X@fan_FabrizioR
Ayyoub Bouaddi mencuri perhatian di Piala Dunia 2026 setelah tampil impresif saat Maroko menahan Brasil.

POSMETRO MEDAN, Amerika Serikat - Saat Maroko berhasil menahan Brasil dengan skor 1-1 pada laga pembuka Piala Dunia 2026, perhatian publik memang tertuju pada hasil mengejutkan tersebut.

Namun di balik hasil itu, muncul sosok muda yang tampil luar biasa dan menjadi pusat permainan Atlas Lions. Namanya adalah Ayyoub Bouaddi, gelandang berusia 18 tahun yang baru menjalani penampilan senior keduanya bersama tim nasional Maroko.

Baca Juga:

Penampilannya begitu impresif hingga dinobatkan sebagai Player of the Match, sebuah pencapaian luar biasa mengingat ia berhadapan dengan lini tengah Brasil yang dihuni pemain-pemain berpengalaman.

Menghadapi Casemiro, Bruno Guimaraes, dan Lucas Paqueta bukan perkara mudah bagi pemain seusianya. Namun Bouaddi justru mampu mengendalikan ritme permainan.

Baca Juga:

Ia berkali-kali menerima bola di bawah tekanan, menjaga penguasaan bola dengan tenang, serta menemukan ruang di antara lini pertahanan Brasil.

Penampilan tersebut semakin menguatkan keyakinan banyak pengamat sepak bola Eropa bahwa Maroko telah menemukan salah satu gelandang muda paling menjanjikan di generasinya.

Lulusan Sains dengan Predikat Tertinggi

Melansir laman Dawn, Bouaddi lahir di Senlis, Prancis, pada 2007 dari pasangan orang tua keturunan Maroko. Karier sepak bolanya dimulai di AFC Creil sebelum bergabung dengan akademi Lille pada 2021.

Pada usia 16 tahun, ia sudah mencatat debut senior bersama Lille di UEFA Conference League dan menjadi salah satu pemain termuda yang tampil di kompetisi antarklub Eropa.

Tak lama kemudian, Lille langsung mengikatnya dengan kontrak profesional jangka panjang. Namun, sepak bola bukan satu-satunya bidang yang ia tekuni.

Di usia yang sama, Bouaddi berhasil meraih gelar sarjana sains dengan predikat tertinggi. Kini, ia melanjutkan pendidikan sebagai mahasiswa program sarjana matematika melalui sistem pembelajaran jarak jauh di Universitas Aix-Marseille.

"Matematika adalah jaring pengaman saya. Karier sepak bola itu tidak pasti. Belajar membuat pikiran saya tetap aktif."

Bagi Bouaddi, matematika bukan sekadar rencana cadangan apabila karier sepak bolanya berakhir.

Banyak pelatih menilai kemampuan akademisnya justru membentuk gaya bermainnya. Ia dikenal piawai membaca ruang, memahami sudut umpan, dan menentukan waktu terbaik untuk bergerak.

Alih-alih memaksakan operan sulit, Bouaddi menunggu jalur umpan yang benar-benar terbuka. Ia juga lebih memilih mengantisipasi pergerakan lawan daripada mengandalkan duel fisik.

Para pelatihnya bahkan kerap menyebut Bouaddi sebagai pemain yang berpikir lebih cepat dibanding pemain lain di lapangan.

Kecerdasannya juga terlihat di luar sepak bola. Pada 2023, Bouaddi memenangi kompetisi pidato publik nasional untuk pemain akademi di Prancis.

Pidatonya membahas bagaimana cara bermain sepak bola sama pentingnya dengan hasil akhir pertandingan, dan berhasil memikat para juri.

Memilih Membela Maroko

Meski sempat memperkuat tim junior Prancis, Bouaddi akhirnya memutuskan membela Maroko di level senior.

Keputusan tersebut diambil pada awal tahun ini setelah Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko berhasil memperoleh persetujuan FIFA terkait perpindahan asosiasi sepak bolanya.

Pelatih Mohamed Ouahbi bersama federasi memainkan peran penting dalam meyakinkan Bouaddi bahwa masa depannya berada bersama Atlas Lions.

Kepercayaan itu langsung dibayar lunas lewat penampilan matang saat menghadapi Brasil.

Penampilan Bouaddi membuat banyak klub elite Eropa semakin serius memantau perkembangannya.

Beberapa pengamat membandingkannya dengan Vitinha berkat kecerdasannya mengatur tempo permainan. Ada pula yang melihat kemiripan dengan Abou Diaby karena keluwesan membawa bola dari lini tengah.

Namun bagi Maroko, Bouaddi bukan sekadar talenta muda.

Ia menjadi simbol evolusi permainan Atlas Lions. Jika generasi semifinalis Piala Dunia 2022 dikenal karena organisasi permainan, disiplin, dan pertahanan kokoh, maka generasi sekarang mulai menambahkan kualitas penguasaan bola yang lebih matang.

Saat menghadapi Belanda di babak 32 besar, kembali ada harapan besar di pundak Bouaddi.

Di usia yang baru 18 tahun, ia memang masih berada di awal perjalanan kariernya.

Namun jika penampilannya melawan Brasil menjadi gambaran masa depannya, Maroko tampaknya telah menemukan sosok yang mampu memimpin lini tengah mereka selama bertahun-tahun ke depan.

Kemampuan terbaik Bouaddi mungkin bukan sekadar umpan-umpan akurat atau teknik olah bolanya. Melainkan cara ia memandang sepak bola: memecahkan setiap persoalan satu per satu, layaknya menyelesaikan sebuah persamaan matematika.(JawaPos)

Tags
beritaTerkait
Erling Haaland Punya Badan Kekar dan Kuat, Konsumsi 6.000 Kalori per Hari
Korban Gagal! Ronald Koeman Tinggalkan Belanda, Ini 7 Pelatih Dipecat dan Mundur di Piala Dunia 2026
Ekuador Dibuat Frustrasi, Meksiko Tunggu Inggris Vs RD Kongo
Dini Hari Nanti: Belgia vs Senegal, Setan Merah Pantang Angkat Koper
Nanti Malam: Inggris vs RD Kongo, Awas Parkir Bus!
Ternyata! Mantan Pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert dan Anaknya Justin Kluivert Sama-sama Apes dalam Drama Adu Penalti di Piala Dunia
komentar
beritaTerbaru