POSMETRO MEDAN,Amerika Serikat — Ismail Elfath dipercaya FIFA memimpin semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris melawan Argentina di Atlanta, Amerika Serikat, Kamis (16/7/2026) dini hari pukul 02.00 WIB.
Wasit berusia 44 tahun itu menjadi pengadil untuk laga keempatnya di turnamen ini setelah sebelumnya memimpin tiga pertandingan sejak fase grup hingga babak 16 besar.
Penunjukan Elfath menjadi perhatian karena duel Inggris kontra Argentina dikenal sebagai salah satu pertandingan paling bergengsi di sepak bola dunia.
Baca Juga:
Selain memiliki pengalaman di dua edisi Piala Dunia, wasit kelahiran Maroko tersebut juga memiliki perjalanan karier yang unik sebelum menjadi salah satu pengadil terbaik FIFA.
Dari Maroko Hijrah ke Amerika Serikat
Baca Juga:
Ismail Elfath lahir di Casablanca, Maroko, sebelum pindah ke Amerika Serikat pada 2001 melalui program Diversity Visa yang saat itu dikenal sebagai "diversity lottery".
Setelah menyelesaikan pendidikan teknik mesin di University of Texas, ia kemudian resmi menjadi warga negara Amerika Serikat.
Kini Elfath menetap di Austin, Texas, dan menjadi salah satu wasit elite yang mewakili Amerika Serikat di panggung internasional.
Pada Piala Dunia 2026, ia dipercaya memimpin pertandingan keempatnya setelah mengawal Jepang vs Belanda (2-2), Spanyol vs Uruguay (1-0), dan kemenangan mengejutkan Norwegia 2-1 atas Brasil pada babak 16 besar.
Pernah Bekerja Sebagai Sales IT Sebelum Menjadi Wasit
Perjalanan Elfath menuju level tertinggi dunia ternyata tidak dimulai dari dunia perwasitan. Ia sempat bermain sebagai penyerang untuk klub amatir Austin Lightning di USL League Two sebelum akhirnya memutuskan menjadi wasit.
Keputusan itu muncul karena dirinya sering tidak puas terhadap keputusan pengadil pertandingan. "Saya adalah pemain yang temperamen," kata Elfath dalam wawancara dengan Austin Chronicle pada 2022.
Ia melanjutkan, "Saya selalu mengeluh kepada orang yang menjalankan liga, dan suatu hari dia berkata, 'Hei, kamu selalu mengeluh, sebaiknya kamu jadi wasit saja.'"
Setelah mengikuti pelatihan wasit, Elfath mulai memimpin pertandingan usia muda, kompetisi sekolah hingga liga semi-profesional.
Di saat bersamaan, ia tetap bekerja penuh waktu sebagai sales di bidang teknologi informasi (IT sales) sebelum akhirnya memilih fokus menjadi wasit profesional.
Kariernya terus berkembang hingga dipercaya menjadi ofisial keempat Major League Soccer (MLS) pada 2011. Setahun kemudian, ia resmi menjadi wasit utama di kompetisi kasta tertinggi Amerika Serikat.
Jadi Bagian Sejarah VAR hingga Dua Kali Wasit Terbaik MLS
Karier Ismail Elfath semakin menanjak ketika resmi menyandang lisensi FIFA pada 2016. Pada tahun yang sama, ia juga menjadi bagian dari sejarah sepak bola dunia.
Elfath menjadi wasit dalam pertandingan USL antara New York Red Bulls II melawan Orlando City B yang mencatat penggunaan Video Assistant Referee (VAR) pertama di lapangan dalam pertandingan resmi sepak bola dunia.
Selama lebih dari satu dekade memimpin pertandingan MLS, reputasinya terus meningkat. Ia bahkan dua kali dinobatkan sebagai MLS Referee of the Year, masing-masing pada 2020 dan 2022.
Pengalamannya tidak hanya terbatas di Amerika Serikat.
Elfath juga dipercaya memimpin pertandingan Olimpiade Tokyo 2020, Piala Afrika 2021, Piala Dunia U-20, Kualifikasi Piala Dunia zona CONCACAF hingga sejumlah kompetisi FIFA lainnya sebelum akhirnya menjalani debut Piala Dunia senior di Qatar 2022.
Saat mendapat kesempatan tampil di Piala Dunia 2022, Elfath mengungkapkan rasa bangganya mewakili Amerika Serikat.
"Saya adalah minoritas ganda. Imigran, keturunan Afrika, Muslim. Saya adalah satu-satunya perwakilan AS, jadi ini adalah tanggung jawab yang sangat merendahkan hati, tetapi juga salah satu posisi di mana Anda mengatakan, 'Segalanya mungkin terjadi.'" ujarnya.
Rekor Kepemimpinan Ismail Elfath Sangat Berpengalaman
Piala Dunia 2026 menjadi penampilan kedua Elfath di turnamen sepak bola terbesar dunia setelah Qatar 2022.
Pada edisi sebelumnya, ia memimpin dua pertandingan fase grup dan satu laga babak gugur, serta dipercaya menjadi ofisial keempat pada final ketika Argentina mengalahkan Prancis melalui adu penalti.
Salah satu momen paling dikenang terjadi ketika ia mengusir penyerang Kamerun Vincent Aboubakar karena melepas kaus saat merayakan gol kemenangan atas Brasil.
Meski memberikan kartu merah akibat akumulasi kartu kuning, Elfath tetap tersenyum dan menjabat tangan sang pemain setelah keputusan tersebut.
Pada Piala Dunia 2026, Elfath telah mengeluarkan tujuh kartu kuning dan satu kartu merah dalam tiga pertandingan. Kartu merah itu diberikan kepada pemain Uruguay Agustin Canobbio setelah melakukan tekel keras terhadap Pau Cubarsi.
Berdasarkan data Transfermarkt, pengalaman Elfath sebagai wasit juga sangat panjang.
Ia telah memimpin 334 pertandingan di berbagai kompetisi dengan total mengeluarkan 1.225 kartu kuning, 40 kartu kuning kedua yang berujung kartu merah, 45 kartu merah langsung, serta memberikan 111 hadiah penalti.
Kompetisi yang paling sering dipimpinnya adalah Major League Soccer dengan 228 pertandingan.
Dalam ajang tersebut saja, Elfath mengeluarkan 819 kartu kuning, 51 kartu kuning kedua, 51 kartu merah langsung, dan menunjuk titik putih sebanyak 78 kali.
Untuk laga semifinal Inggris melawan Argentina, Elfath akan didampingi sesama wasit Amerika Serikat, Corey Parker dan Kyle Atkins, sebagai asisten wasit.
Sementara Maurizio Mariani dari Italia bertugas sebagai ofisial keempat dan Daniele Bindoni menjadi reserve assistant referee.
Dengan pengalaman ratusan pertandingan di level domestik maupun internasional, FIFA berharap Ismail Elfath mampu menjaga jalannya salah satu pertandingan terbesar di Piala Dunia 2026.
Duel Inggris kontra Argentina dipastikan berlangsung ketat sehingga kualitas kepemimpinan wasit akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kelancaran pertandingan.(JawaPos)
Tags
beritaTerkait
komentar