Kapolsek Tiganderket Sambangi Warga, Wujudkan Situasi Kamtibmas Kondusif
Kapolsek Tiganderket Sambangi Warga, Wujudkan Situasi Kamtibmas Kondusif.
Sumut 12 menit lalu
POSMETRO MEDAN,Medan– Di balik harum teh, manis gula, dan kuatnya warna nila yang pernah menguasai pasar Eropa, tersimpan kisah panjang Nusantara yang berada di bawah bayang-bayang kongsi dagang terbesar dunia: VOC.
Didirikan pada 1602 dengan modal awal lebih dari enam juta gulden, VOC bukan sekadar perusahaan dagang. Ia menjelma menjadi kekuatan besar yang mampu mengguncang tatanan politik Asia Tenggara.
Berbekal armada kapal, meriam, dan strategi "pecah belah", VOC menyingkirkan Portugis dari Maluku dan menguasai jalur perdagangan rempah. Dari Maluku mereka membawa cengkih, dari Jawa mereka mengatur tanam kopi, nila, hingga tebu.
Baca Juga:
Namun, Sumatra Timur pada masa itu belum menjadi perhatian utama. Komoditas besar Nusantara yang mengalir ke Eropa masih didominasi Maluku dan Jawa. Nama Deli baru muncul kemudian, seiring hadirnya sistem perkebunan modern pada abad ke-19.
VOC yang awalnya hanya berdagang perlahan berubah menjadi penguasa. Kerajaan-kerajaan lokal dipaksa menyerahkan hasil bumi dengan harga yang ditentukan sepihak. Gula tebu dari petani Jawa, misalnya, hanya boleh dijual kepada VOC. Begitu pula kopi, yang bibitnya didatangkan dari luar negeri lalu dipaksakan tumbuh di tanah subur Jawa.
Baca Juga:
Setelah lebih dari dua abad berkuasa, VOC akhirnya tumbang. Pada 1800, perusahaan raksasa itu bangkrut dengan meninggalkan utang sebesar 135 juta gulden. Namun, runtuhnya VOC bukan berarti berakhirnya kolonialisme Belanda. Justru dari kebangkrutan itu lahirlah babak baru: sistem tanam paksa atau *cultuurstelsel* (1830–1870).
Di bawah Gubernur Jenderal Van Den Bosch, rakyat Jawa diwajibkan menanam tanaman ekspor—kopi, tebu, nila, dan lain-lain—di seperlima lahan desa.
Hasilnya harus diserahkan kepada pemerintah kolonial. Sebagai imbalannya, mereka dibebaskan dari pajak tanah dan dijanjikan perlindungan bila gagal panen. Namun kenyataannya, rakyat sering dipaksa menanam lebih dari ketentuan, sementara kerugian akibat gagal panen harus ditanggung sendiri oleh petani.
Sistem tanam paksa ini menjerat seluruh lapisan. Dari bupati, camat, perangkat desa, hingga pedagang perantara ikut terlibat. Ribuan buruh tani bekerja di bawah pengawasan ketat, sementara hasil bumi terus mengalir ke pelabuhan, menyeberangi samudra, dan memenuhi gudang-gudang di Amsterdam.
Sejarawan mencatat, sistem tanam paksa menyelamatkan keuangan Belanda yang nyaris bangkrut, tetapi meninggalkan luka panjang di tanah jajahan. Dari sinilah benih sistem perkebunan modern tumbuh, bukan lagi sebatas kebun keluarga, melainkan mesin ekonomi yang terhubung langsung dengan pasar global.(Erni Tanjung)
Kapolsek Tiganderket Sambangi Warga, Wujudkan Situasi Kamtibmas Kondusif.
Sumut 12 menit lalu
MEDAN DPRD Sumatera Utara menegaskan revisi Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tidak boleh dilakukan sec
Sumut 44 menit lalu
Demo Kelompok Tani di Asahan Rusuh, 5 Warga Termasuk Wartawan Luka 2 Mobil Rusak.
Sumut satu jam lalu
Dandim 0204/DS Resmi Berganti Letkol Inf Wahidin Sobar Gantikan Letkol Arh Agung Pujiantoro.
Sumut satu jam lalu
POSMETRO MEDAN, Karo Kapolres Tanah Karo, AKBP Pebriandi Haloho, S.H., S.I.K., M.Si., bersama Bupati dan Dandim bergerak cepat meninjau lan
Peristiwa 2 jam lalu
Insiden Kebakaran KMP Putri Yasmin Sejumlah Warga Asal Sumba yang Turut Ikut Dalam Kapal Tersebut Berhasil Dievakuasi Selamat.
Peristiwa 2 jam lalu
Bea Cukai dan Polri Temukan 30 Kilogram Sabu dalam Kemasan Teh Tiongkok di Perairan Asahan.
Peristiwa 3 jam lalu
Winda Lorenza Diduga Bunuh Diri, Kapolda Sumut Pastikan Penyidikan Terus Diperdalam.
Medan 4 jam lalu
Satpolairud Polres Sibolga Intensifkan Patroli dan Pemantauan Wilayah Pesisir
Peristiwa 4 jam lalu
Dukung Pembentukan Karakter Generasi Muda, Pemkab Buka Festival Drumband Piala Bupati Taput
Sumut 5 jam lalu