Stok Vaksin Kosong, Suspek Campak di Sumut Melonjak Tajam
Di tengah tingginya mobilitas masyarakat Sumatera Utara, ancaman campak kembali mengetuk pintu kewaspadaan.
Sumut satu jam lalu
POSMETRO MEDAN,Pada awal abad ke-20, Sumatera Timur menjelma menjadi laboratorium raksasa bagi para investor Eropa yang tengah bereksperimen dengan berbagai tanaman tropis bernilai ekonomi tinggi.
Dari tanah subur inilah lahir kisah panjang tentang kelapa sawit dan teh, dua komoditas yang kelak mengubah wajah ekonomi dan sosial di Tanah Deli hingga ke Simalungun.
Sejumlah perusahaan besar seperti Handels Vereeniging Amsterdam (HVA), Asahan Cultuur Maatschappij, dan Deli Maatschappij menjadi pionir dalam membuka lahan perkebunan berskala besar.
Baca Juga:
Mereka membawa bibit kelapa sawit dari Afrika Barat dan mulai menanamnya di kawasan pesisir Asahan dan Batubara. Catatan sejarah mencatat, pada tahun 1913 berdirilah pabrik pengolahan minyak sawit mentah (CPO) pertama di dunia di Tanah Itam Ulu, yang mulai berproduksi tiga tahun kemudian, menjadi tonggak penting dalam sejarah industri minyak nabati global.
Dalam waktu singkat, kelapa sawit menjelma menjadi "bintang baru" setelah tembakau dan karet. Komoditas ini menawarkan produktivitas tinggi, biaya produksi rendah, serta pasar global yang terus berkembang berkat kebutuhan bahan baku industri seperti margarin, sabun, dan lilin.
Baca Juga:
Namun, kisah tentang teh di Sumatera Timur bermula lebih sederhana, sebuah eksperimen kecil di perkebunan Rimbun, Deli Hulu, pada tahun 1898. Percobaan itu sempat dianggap gagal karena kondisi tanah dan iklim dinilai kurang cocok.
Hingga akhirnya muncul seorang planter asal Swiss bernama A. Ris, yang dengan ketekunan luar biasa membuktikan bahwa teh dapat tumbuh subur di dataran tinggi sekitar Pematang Siantar.
Temuan A. Ris membuka mata para investor asing. Pada tahun 1910, pemodal dari Inggris dan Jerman mulai menanamkan investasi besar-besaran untuk mengembangkan perkebunan teh di kaki Pegunungan Simalungun, wilayah yang kini dikenal dengan nama Sidamanik dan Bah Butong.
Beberapa perusahaan seperti HVA dan NHM menjadi pelopor kebun teh modern di kawasan itu sejak 1918. Bahkan, perusahaan-perusahaan Inggris yang tergabung dalam Rubber Plantation Investment Trust memperoleh hak konsesi langsung dari raja-raja Simalungun dan Tanah Jawa untuk memperluas areal tanam hingga ke sekitar Danau Toba.
Penaklukan Belanda atas kerajaan-kerajaan kecil di Simalungun pada tahun 1907 membuka akses legal dan logistik bagi ekspansi besar-besaran industri teh.
Di tengah tingginya mobilitas masyarakat Sumatera Utara, ancaman campak kembali mengetuk pintu kewaspadaan.
Sumut satu jam lalu
Kapolsek Medan Kota Pimpin Pengamanan Ibadah Kenaikan Yesus Kristus di Gereja HKBP Sudirman.
Medan 2 jam lalu
Warga Temukan Mayat &039Pak Ogah&039 Gantung Diri di Bawah Jembatan Titi Kuning Medan.
Peristiwa 2 jam lalu
Pelaku Pencurian Perhiasan dan Pembakaran Rumah Hakim Tipikor Mulai Diadili di PN Medan.
Kriminal 3 jam lalu
POSMETRO MEDANDugaan praktik monopoli proyek pengadaan meubelair di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara mencuat dan menjadi
Sumut 16 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Medan Rumah Zakat kembali menyalurkan Kado Lebaran Yatim (KLY) kepada 15 siswa yatim di SMP Al Washliyah 8, Senin (11/5/
Medan 16 jam lalu
Posmetro Medan, Medan Peluang kerja sama strategis antara Pemko Medan dan United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia, semakin te
Medan 17 jam lalu
Posmetro Medan, Medan Pertemuan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier di Rumah
Medan 17 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Medan Sebagai sosial kontrol, media massa merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan di pusat maupun daerah. Unt
Medan 17 jam lalu
Kodim 0204/DS Gerebek Sarang Judi dan Narkoba di Kutalimbaru, Enam Orang Diamankan dan Sejumlah Barang Bukti Narkoba.
Medan 17 jam lalu