Selasa, 28 April 2026

Nezar Djoeli ‘Sentil’ Program Makan Bergizi Gratis: Pak Prabowo Hanya Terima Laporan Asal Bapak Senang

Jafar Sidik - Selasa, 28 April 2026 00:12 WIB
Nezar Djoeli ‘Sentil’ Program Makan Bergizi Gratis: Pak Prabowo Hanya Terima Laporan Asal Bapak Senang
(Dam)
Nezar Djoeli Tokoh masyarakat Sumatera Utara

POSMETRO MEDAN- Tokoh masyarakat Sumatera Utara, Nezar Djoeli melontarkan kritikan terkait carut-marut pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi andalan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Nezar menilai, Presiden seolah "dibutakan" oleh laporan manis dari para bawahan, sementara fakta di lapangan justru berbanding terbalik.

"Saya melihat Pak Prabowo hari ini cenderung hanya mengerti di garis atas saja," tegas Nezar Djoeli kepada wartawan, Senin (27/4/2026).

Baca Juga:

Nezar juga menyoroti adanya jurang pemisah antara laporan yang diterima Presiden dengan realita pahit di akar rumput. Menurutnya, jajaran birokrasi mulai dari Menteri, Dirjen, hingga Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) cenderung hanya menyodorkan laporan yang "baik-baik saja".

Padahal, Nezar mencatat masih banyak insiden memprihatinkan yang luput dari evaluasi serius pemerintah pusat.

Baca Juga:

"Ternyata di lapangan masih banyak yang keracunan, bahkan ada korban meninggal dunia. Ini membuktikan ada masalah besar dalam pengawasan," ungkapnya.

Tak hanya soal kesehatan siswa, Nezar juga mengkritik kinerja para pengusaha mitra yang terkesan asal-asalan dalam menjalankan operasional. Salah satu poin krusial yang disoroti adalah penempatan dapur MBG yang dianggap tidak strategis dan tidak efisien.

Koordinat Berantakan. Perletakan dapur tidak sesuai dengan koordinat sekolah sasaran. Limbah Tak Terkendali. Proses pengendalian limbah yang buruk di sekitar dapur produksi.Standar Rendah. Belum adanya sertifikasi alam dan standarisasi higienis yang mumpuni dari pemerintah.

Nezar membandingkan kondisi di Indonesia dengan Jepang yang sudah menjalankan program serupa selama satu abad. Namun, ia mengingatkan bahwa Indonesia belum bisa disamakan karena masih menggunakan cara-cara manual yang rentan kontaminasi.

"Kita kepingin seperti Jepang yang sudah 100 tahun makan gratis. Tetapi ingat, proses mereka sudah robotik, higienis, dan sterilisasinya betul-betul memiliki standar. Sementara kita masih manual," ujarnya.

Tags
beritaTerkait
Mangihut Sinaga, Praktisi Hukum yang Kini Duduk di DPR RI dari Partai Golkar
Gerindra Sumut Bagikan 1000 Takjil- Nasi Kotak, Selama Ramadhan
Setahun Oloan-Rebecca, Indra Nainggolan: Masyarakat Inginkan Program Solutif Bukan Konflik
Sugiat Santoso Pimpin Apel Ajak Pemerintah dan Masyarakat Dukung Program Indonesia ASRI
Wabup: Kompak Bergerak, Setiap Langkah Memberi Dampak
Peringati Milad Gerindra Ke-18, Bonauli Tanam Pohon Buah dan Berbagi Tali Asih
komentar
beritaTerbaru