Pembagian tersebut menunjukkan bahwa transformasi pasar tidak harus mengikuti satu pola yang sama. Pasar di kawasan permukiman, kawasan transit, kawasan komersial, maupun pusat distribusi memiliki kebutuhan yang berbeda.
Dalam konsep yang dipaparkannya, Raja Malem mendorong pasar untuk berkembang menjadi urban hub yang menggabungkan berbagai aktivitas perkotaan.
Baca Juga:
Pasar dapat dikembangkan bersama fungsi perdagangan, kuliner, ruang publik, ekonomi kreatif, transportasi, bahkan hunian, sesuai dengan karakter dan kebutuhan kawasan.
Dalam model tersebut, pasar tidak lagi menjadi ruang yang hanya ramai pada saat transaksi berlangsung.
Baca Juga:
Warga dapat datang untuk berbelanja, menggunakan ruang publik, menikmati kuliner, menjalankan kegiatan komunitas, maupun mengakses berbagai aktivitas lain dalam satu kawasan.
Integrasi dengan transportasi publik juga menjadi bagian dari gagasan tersebut. Dalam visi pengembangan pasar yang dipaparkan, konektivitas memungkinkan pasar menjadi bagian dari perjalanan harian warga, bukan sekadar tujuan belanja.
"Kota global tidak harus menjadi kota tanpa pasar. Justru kota global membutuhkan pasar yang mampu beradaptasi dengan standar dan kebutuhan kehidupan masa kini," kata Raja Malem.
Selain itu, Raja menyampaikan gagasan modernisasi tanpa menghilangkan fungsi sosial.
Gagasan transformasi pasar tersebut menempatkan modernisasi bukan semata-mata sebagai perubahan bentuk bangunan.
Bagi Raja Malem, modernisasi juga menyangkut bagaimana pasar dikelola, bagaimana ruangnya digunakan, bagaimana masyarakat dilayani, serta bagaimana aset pasar dihubungkan dengan perkembangan kawasan di sekitarnya.
Tags
beritaTerkait
komentar