Jumat, 21 Agustus 2026

Di International Conference CAPS 2026, Raja Malem Tarigan Dorong Pasar Jaya Jakarta Jadi Bagian dari Infrastruktur Kota

Faliruddin Lubis - Kamis, 20 Agustus 2026 23:50 WIB
Di International Conference CAPS 2026, Raja Malem Tarigan Dorong Pasar Jaya Jakarta Jadi Bagian dari Infrastruktur Kota
IST
Direktur Properti dan Perpasaran Perumda Pasar Jaya, Raja Malem Ukur Tarigan, dalam International Conference on Cities and Urban Planning Services (ICCAPS) 2026 di Jakarta (20/8/2026).

POSMETRO MEDAN, Jakarta-- Pasar tidak cukup lagi dipandang sebagai tempat transaksi jual beli. Di tengah perubahan perilaku konsumen, pertumbuhan perdagangan digital, perkembangan transportasi publik, dan tuntutan terhadap kualitas ruang kota, pasar dinilai perlu mengambil peran yang lebih luas dalam kehidupan perkotaan.

Pandangan itu disampaikan Direktur Properti dan Perpasaran Perumda Pasar Jaya, Raja Malem Ukur Tarigan, dalam International Conference on Cities and Urban Planning Services (ICCAPS) 2026 di Jakarta (20/8/2026).

Raja Malem memaparkan gagasan "Reinventing Urban Markets: Transforming Traditional Markets into Inclusive and Resilient Urban Hubs".

Baca Juga:

DIa mendorong agar pasar dikembangkan bukan hanya sebagai aset perdagangan, tetapi sebagai bagian dari infrastruktur perkotaan yang terhubung dengan masyarakat, mobilitas, ruang publik, dan kegiatan ekonomi.

Baca Juga:

"Menjadikan Jakarta sebagai kota berskala global bukan berarti kita meninggalkan pasar. Justru tantangannya adalah bagaimana pasar menjadi modern tanpa kehilangan nyawanya sebagai ruang sosial ekonomi masyarakat," ujar Raja Malem dalam pemaparannya di Kampus Universitas Tarumanagara (Untar), Jakarta.

Menurut Raja Malem, tingkat keterisian kios dan pendapatan sewa tetap menjadi bagian penting dalam pengelolaan pasar. Namun, dua indikator tersebut dinilai belum cukup untuk menggambarkan seluruh nilai pasar bagi sebuah kota.

Pasar juga berkaitan dengan aktivitas perdagangan, mata pencaharian pedagang, distribusi pangan, kegiatan UMKM, serta interaksi masyarakat.

Atas dasar itu, ia mendorong perubahan cara pandang terhadap aset pasar. Pasar tidak hanya diperlakukan sebagai properti yang harus menghasilkan pendapatan, tetapi juga sebagai bagian dari urban infrastructure yang memiliki fungsi sosial dan ekonomi.

Dalam paparannya, Raja Malem menggunakan kerangka 4P, yakni People, Planet, Place, dan Performance, untuk melihat keberhasilan pasar secara lebih menyeluruh.

Aspek People berkaitan dengan manfaat pasar bagi pedagang, konsumen, dan masyarakat, termasuk keberlangsungan pedagang, keterjangkauan, dan kepuasan pelanggan.

Planet mencakup aspek lingkungan seperti pengurangan sampah, efisiensi energi, pengelolaan sumber daya, serta kesiapan menghadapi banjir dan cuaca ekstrem.

"Sebagai contoh terkait aspek planet ini, sejalan juga dengan Instruksi Gubernur (Ingub) DKI Jakarta No. 5 Tahun 2026, Perumda Pasar Jaya meluncurkan program Geber atau Gerakan Bersama Bersih Pasar. Tujuan bahwa secara bertahap di semua pasar di bawah pengelolaan Perumda Pasar, dapat dipastikan zero sampa," katanya.

Sementara Place melihat pasar sebagai bagian dari ruang kota, antara lain melalui aksesibilitas, kenyamanan pejalan kaki, kualitas ruang publik, dan aktivitas yang tercipta di dalam kawasan.

Adapun Performance tetap menempatkan kesehatan bisnis dan tata kelola sebagai bagian penting, melalui indikator seperti tingkat keterisian, pendapatan, produktivitas aset, serta kualitas data operasional.

Dengan kerangka itu, keberhasilan pasar tidak hanya dilihat dari seberapa besar pendapatan yang dihasilkan, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Dalam paparannya, Raja juga menyoroti perubahan cara masyarakat berbelanja menjadi salah satu tantangan.

Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan, mulai dari perdagangan elektronik hingga berbagai format ritel modern. Pada saat yang sama, masyarakat perkotaan juga semakin memperhatikan kebersihan, kenyamanan, keamanan, aksesibilitas, dan pengalaman ketika berbelanja.

Menurut Raja Malem, kondisi itu tidak cukup dijawab hanya dengan memperbaiki tampilan fisik pasar.

Pengelolaan dan aktivitas di dalam pasar juga perlu berubah. Pasar perlu memiliki kegiatan yang membuat masyarakat datang bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk berinteraksi dan menggunakan ruang yang tersedia secara lebih optimal.

Raja berharap, "Sembari menunggu para istri atau ibu-ibu berbelanja di pasar, di lain pihak para bapak-bapak punya ruang interaksi lain, seperti ngopi-ngopi bareng atau menyalurkan hobi lain. Nah ini, pasti lebih bagus untuk semua pihak."

Dalam konteks itu, Raja Malem menggunakan pendekatan Active Markets, Clean and Trusted Markets, Connected Market Assets, dan Mixed-Use Market Development sebagai bagian dari strategi transformasi.

Konsep Active Markets, misalnya, mendorong pemanfaatan pasar untuk berbagai aktivitas selain perdagangan, termasuk kuliner, ekonomi kreatif, dan kegiatan komunitas.

Sementara Clean and Trusted Markets menekankan pentingnya kebersihan, sanitasi, keamanan, kenyamanan, dan kualitas pelayanan dalam membangun kepercayaan masyarakat.

Raja Malem juga menekankan bahwa karakter setiap pasar berbeda. Lokasi, fungsi kawasan, pola mobilitas, serta kebutuhan masyarakat menjadi pertimbangan dalam menentukan model pengembangan.

Dalam pemaparannya, pasar dibagi ke dalam empat karakter utama.

Neighbourhood Market diarahkan untuk melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat di lingkungan sekitar.

Destination Market dikembangkan dengan mengandalkan daya tarik tertentu, seperti perdagangan, kuliner, budaya, atau kegiatan tematik.

"Sebagai contoh, tanggal 31 Agustus ini, akan dilakukan groundbreaking Pasar Senen Blok VI oleh Bapak Gubernur DKI Jakarta. Setelah tertunda sejak tahun 2021, tempat tersebut akan menjadi destinasi pasar yang mengandalkan daya tarik tertentu tersebut," papar Raja.

Selanjutnya, Transit-Oriented Market menghubungkan fungsi pasar dengan transportasi publik dan pendekatan Transit-Oriented Development (TOD).

Sedangkan Distribution Market memiliki peran dalam mendukung perdagangan grosir dan distribusi pangan.

Pembagian tersebut menunjukkan bahwa transformasi pasar tidak harus mengikuti satu pola yang sama. Pasar di kawasan permukiman, kawasan transit, kawasan komersial, maupun pusat distribusi memiliki kebutuhan yang berbeda.

Dalam konsep yang dipaparkannya, Raja Malem mendorong pasar untuk berkembang menjadi urban hub yang menggabungkan berbagai aktivitas perkotaan.

Pasar dapat dikembangkan bersama fungsi perdagangan, kuliner, ruang publik, ekonomi kreatif, transportasi, bahkan hunian, sesuai dengan karakter dan kebutuhan kawasan.

Dalam model tersebut, pasar tidak lagi menjadi ruang yang hanya ramai pada saat transaksi berlangsung.

Warga dapat datang untuk berbelanja, menggunakan ruang publik, menikmati kuliner, menjalankan kegiatan komunitas, maupun mengakses berbagai aktivitas lain dalam satu kawasan.

Integrasi dengan transportasi publik juga menjadi bagian dari gagasan tersebut. Dalam visi pengembangan pasar yang dipaparkan, konektivitas memungkinkan pasar menjadi bagian dari perjalanan harian warga, bukan sekadar tujuan belanja.

"Kota global tidak harus menjadi kota tanpa pasar. Justru kota global membutuhkan pasar yang mampu beradaptasi dengan standar dan kebutuhan kehidupan masa kini," kata Raja Malem.

Selain itu, Raja menyampaikan gagasan modernisasi tanpa menghilangkan fungsi sosial.

Gagasan transformasi pasar tersebut menempatkan modernisasi bukan semata-mata sebagai perubahan bentuk bangunan.

Bagi Raja Malem, modernisasi juga menyangkut bagaimana pasar dikelola, bagaimana ruangnya digunakan, bagaimana masyarakat dilayani, serta bagaimana aset pasar dihubungkan dengan perkembangan kawasan di sekitarnya.

Pasar tetap memiliki fungsi ekonomi sebagai tempat berlangsungnya perdagangan dan sumber penghidupan pedagang. Pada saat yang sama, pasar juga memiliki fungsi sosial dan dapat menjadi bagian dari sistem pangan serta aktivitas ekonomi lokal.

Karena itu, perubahan tidak harus menghilangkan karakter pasar yang telah terbentuk di tengah masyarakat.

"Pasar tidak harus memilih antara menjadi modern atau tetap menjadi milik masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana pasar menjadi modern tanpa kehilangan nyawanya," ujar Raja Malem.

Gagasan tersebut menjadi salah satu perspektif yang dibawa Perumda Pasar Jaya dalam pembahasan mengenai masa depan pasar di tengah perkembangan kota.

Bagi Jakarta, tantangannya bukan hanya bagaimana membangun kota yang semakin modern, tetapi juga bagaimana memastikan ruang-ruang ekonomi masyarakat tetap memiliki tempat dalam perkembangan tersebut.

Pasar pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang transaksi. Ia juga berbicara tentang pedagang, konsumen, pangan, ruang publik, komunitas, dan kehidupan sehari-hari warga.

"Ketika pasar mampu beradaptasi dengan perubahan kota tanpa kehilangan fungsi sosialnya, pasar tidak sekadar bertahan. Ia menjadi bagian dari masa depan kota," tutup Raja dalam paparannya di hadapan para ahli perencana se-Asia Pasific (Asia Pasific Planning Societies). (REL/DEN)

Tags
beritaTerkait
Kadis SDABMBK Kota Medan Khairul Azmi Tinjau Pasar Petisah, Dorong Penataan Trotoar Dan Infrastruktur Pendukung
7 Aksi Unjuk Rasa Hari Ini, Jalanan Jakarta Terancam Macet Parah
Membawa Sakralitas Melayu Deli ke Panggung Festival Bedhayan VI 2026
Siswi MTsN 3 Medan Wakili Kota Medan pada Jambore Nasional XII Cibubur
Ratusan Senjata dan Amunisi Ditemukan di Ruang Eks Ketua Yayasan Sekolah, Ada Juga Narkoba dan CD Porno
Belum Ada Hasil, Mediasi Sengketa Hak Anggota DPRD Berlanjut
komentar
beritaTerbaru