Farah Tersangka Korupsi Kredit Bank Sumut Ditangkap di Apartemen Jakarta
POSMETRO MEDAN,MEDAN, Pelarian Farah Hasmina Harahap (FHH), tersangka dugaan korupsi dalam proses pencairan kredit di PT Bank Sumut, ber
Peristiwa 2 jam lalu
POSMETRO MEDAN,Jakarta -- Selama ini kita mungkin sering berpikir bahwa globalisasi adalah produk modern yang baru lahir di abad ke-21. Namun, rentetan riset mutakhir justru mengungkap fakta sebaliknya.
Ribuan tahun lalu, kawasan Asia Tenggara, khususnya kepulauan Nusantara, sudah menjelma menjadi simpul raksasa yang menghubungkan berbagai benua melalui jaringan migrasi, teknologi canggih, dan perdagangan internasional yang sangat kompleks.
Lompatan sejarah ini menjadi sorotan utama dalam Webinar Internasional bertajuk "Connecting Continents and Oceans" yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Arkeometri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Senin (30/03/2026).
Baca Juga:
Pertemuan ilmiah lintas negara ini sukses memetakan bagaimana nenek moyang kita berinteraksi dengan dunia luar sejak zaman prasejarah hingga periode klasik.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) BRIN, Heri Yogaswara, menegaskan bahwa arkeologi saat ini tidak lagi sekadar urusan menggali dan merekonstruksi masa lalu.
"Kajian arkeologi mampu menjembatani berbagai disiplin ilmu untuk menjelaskan mobilitas manusia dan pertukaran budaya yang membentuk dunia saat ini," kata Heri Yogaswara, Kepala OR Arbastra BRIN dikutip dari laman BRIN.
Manusia Purba Jawa Lebih Tua dari Dugaan
Salah satu kejutan terbesar dalam evolusi manusia datang dari situs Bumiayu di Pulau Jawa. Pakar paleonatropologi Prof. Harry Widianto memaparkan temuan baru fosil Homo erectus yang berhasil menggeser teori sejarah lama.
"Temuan ini mengindikasikan kehadiran manusia purba sekitar 1,8 juta tahun lalu, lebih awal dari estimasi sebelumnya. Penemuan tersebut menegaskan posisi Jawa sebagai salah satu wilayah kunci dalam memahami evolusi manusia di Asia," ungkap Prof. Harry Widianto.
Bukan hanya di Indonesia, pelacakan migrasi manusia purba di Eropa juga mengalami kemajuan pesat. Ketika DNA rusak akibat tradisi kremasi (pembakaran mayat) di Zaman Perunggu Hungaria (±2600–800 SM), ilmuwan dunia seperti Prof. Tamás Hajdu berhasil mengakalinya dengan menggunakan teknologi isotop strontium pada sisa tulang.
Hasilnya, mereka sukses mendeteksi adanya percampuran populasi masif akibat migrasi lintas wilayah sekitar tahun 1500 SM.
Canggihnya Kapal 'Lashed-Lug' dan Jalur Transaksi Kuno
Bagaimana manusia zaman dulu bisa bergerak sejauh itu melintasi samudra? Jawabannya ada pada kecanggihan teknologi maritim lokal. Peneliti Agni Sesaria Mochtar menyoroti pentingnya tipe kapal tradisional lashed-lug (teknologi ikat-kupingan) yang menjadi tulang punggung pelayaran kuno. Dari sekitar 40 situs bangkai kapal kuno yang ditemukan di Asia Tenggara, ternyata lebih dari separuhnya berada di Indonesia.
Melalui basis data komparatif, para ilmuwan kini mencoba membangun kembali cetak biru kapal-kapal tangguh ini.
"Melalui pengembangan basis data komparatif, penelitian ini berupaya merekonstruksi teknik pembuatan kapal serta kronologinya, sekaligus mengungkap luasnya jaringan pelayaran hingga Samudra Hindia," kata Agni Sesaria Mochtar, arkeolog maritim.
Tradisi pembuatan kapal yang kokoh ini terbukti bertahan sangat lama.
Peneliti Krisztina Hoppál menambahkan bahwa temuan kapal di Belitung, Sumatera, dan Bintan membuktikan tradisi pembuatan kapal lokal ini eksis sejak abad ke-3 hingga ke-16 Masehi. Berkat kapal-kapal inilah, integrasi budaya jarak jauh bisa terjadi.
Bérénice Bellina memaparkan bukti bahwa jaringan maritim kuno telah mengikat perdagangan antara Vietnam dan Indonesia Barat sejak masa prasejarah.
Salah satu buktinya adalah persebaran negara artefak suci seperti drum perunggu Dong Son asal Vietnam yang ditemukan tersimpan hingga ke pedalaman Sumatera. Hubungan dagang ini terus berlanjut secara berkesinambungan hingga masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.
Barus dan Bongal: Magnet Pasar Global Abad ke-7
Bukti nyata bahwa Nusantara adalah pusat ekonomi dunia kian benderang lewat paparan Ery Soedewo mengenai situs Barus dan Bongal di Sumatera Utara. Kedua tempat ini merupakan simpul awal atau "pintu keluar" distribusi komoditas premium dunia, seperti resin (getah pinus/kemenyan) dan rempah-rempah ke pasar global pada abad ke-7 hingga ke-11 Masehi.
Uniknya, interaksi luar negeri ini tidak melulu soal tukar menukar barang baku.
Hasil analisis kimia terhadap artefak kaca dan koin kuno di situs tersebut menunjukkan adanya sentuhan teknologi Mediterania, meskipun sebagian barang tersebut diproduksi secara lokal oleh perajin Nusantara. Ini menandakan adanya transfer teknologi dan interaksi budaya tidak langsung yang sangat maju di masanya.
Pada akhirnya, rilis riset BRIN ini menegaskan satu hal penting kepada generasi muda Indonesia: nenek moyang kita bukanlah bangsa yang terisolasi. Melalui kolaborasi mutakhir antara ilmu arkeologi, antropologi, etnografi, dan ikonografi, kita kini tahu bahwa Indonesia sejak awal telah ditakdirkan menjadi panggung strategis bagi sejarah mobilitas manusia dan globalisasi dunia.
(wan/kompas)
POSMETRO MEDAN,MEDAN, Pelarian Farah Hasmina Harahap (FHH), tersangka dugaan korupsi dalam proses pencairan kredit di PT Bank Sumut, ber
Peristiwa 2 jam lalu
Kapolres Pematangsiantar Terima Piagam Penghargaan Pelayanan Prima Kategori A dari Kapolri, Diserahkan Kapolda Sumut
Sumut 3 jam lalu
Hadir Memberikan Rasa Aman, Brimob Polda Sumut dan Polres Tebing Tinggi Perkuat Pengamanan di PT Bridgestone
Sumut 3 jam lalu
Sudaryono Tak Mau terima Tamu terkait Dapur MBG di Kantor.
Inter-Nasional 9 jam lalu
Polsek Belawan Tangkap Empat Pelaku Pungli Berkedok Parkir Liar di Dermaga Bandar Deli.
Medan 9 jam lalu
Bulog Perkuat Serapan Gabah di Simalungun, TNI Dampingi Monitoring dan Panen Bersama Demi Ketahanan Pangan Nasional.
Bisnis 10 jam lalu
Paulus Presisi harus dibuktikan, bukan cuma sekadar slogan.
Sumut 10 jam lalu
Gibran Dorong RUU Perampasan Aset Koruptor jangan cuma kehilangan jabatan, tapi juga hartanya.
Politik 11 jam lalu
Polres Asahan Gagalkan Pengiriman Sabu 40,21 Gram ke Provinsi Riau.
Sumut 12 jam lalu
Kapolres Sabang, AKBP Ahmad Faisal Pasaribu Anak usia 15 tahun menjadi tersangka pencurian Rp481 juta, Begini perannya.
Peristiwa 13 jam lalu