Sabtu, 20 Juni 2026

Gerakan Mahasiswa Dinilai Alami Anomali, Tokoh dan Akademisi Medan Tekankan Adab dalam Dialog Kebangsaan

Faliruddin Lubis - Sabtu, 20 Juni 2026 09:51 WIB
Gerakan Mahasiswa Dinilai Alami Anomali, Tokoh dan Akademisi Medan Tekankan Adab dalam Dialog Kebangsaan
Wiwin
Dari kiri ke kanan: Dr. Tappil Rambe, M.Si., Dr. Iwan Nasution, M.H.I., M. Ikhyar Velayati, H. Alim Nur Nasution, S.E., M.M., Dr. Ara Auza, M.I.Kom., dan Surya Kurniawan, S.T., dalam pertemuan yang digelar di Medan, Jumat (19/6/2026) sore.

"Dulu rezim yang membubarkan diskusi, tapi sekarang justru mahasiswa yang membubarkan diskusi. Ini sudah jauh dari tugas sejarah agen perubahan," katanya.

Tabayyun dalam Persepsi Publik Kebijakan

Baca Juga:

Setelah menyoroti fenomena gerakanmahasiswa, diskusi kemudian bergeser pada bagaimana masyarakat menerima dan memahami berbagai kebijakan pemerintah. Dalam konteks tersebut, Akademisi UIN Sumatera Utara, Dr. Iwan Nasution, menekankan pentingnya sikap tabayyun agar informasi yang beredar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

"Dalam Islam kita diminta untuk tabayyun terhadap setiap informasi. Niat pimpinan bisa saja baik, tapi tidak selalu ditangkap dengan benar oleh lingkungan di sekitarnya," ujarnya.

Baca Juga:

Ia menilai sejumlah program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat luas yang memiliki tujuan kemaslahatan.

"Pemerintah saat ini sangat perhatian kepada anak bangsa, salah satunya MBG. Dana yang digunakan juga berasal dari efisiensi dan pengelolaan negara," katanya.

Komunikasi Publik dan Risiko Disinformasi

Senada dengan itu, Akademisi Universitas Medan Area (UMA), Dr. Ara Auza, M.I.Kom, menyoroti pentingnya komunikasi publik dalam keberhasilan program pemerintah. Ia menilai banyak kebijakan strategis seperti MBG, Sekolah Rakyat, dan revitalisasi pendidikan merupakan program besar yang kerap tidak dipahami secara utuh oleh masyarakat.

"Program ini sebenarnya sangat mulia, tapi tidak terlalu seksi bagi sebagian kalangan. Karena itu ada yang menyebutnya sebagai pendekatan yang cenderung neo-sosialis," ujarnya.

Menurutnya, kekosongan ruang komunikasi publik sering kali diisi oleh disinformasi dan hoaks yang memperburuk persepsi masyarakat terhadap suatu kebijakan.

Tags
beritaTerkait
Merawat Kemanusiaan Lewat Kurikulum Berbasis Cinta
PH Rasiah Sukanthan: "Klien Kami Tidak Disebut dalam Kesaksian"
Jean Calvijn Negosiator, Bobby Gercep...Aman
GRIB Jaya Medan Gelar ‘Jumat Berkah’, Sambangi 3 Panti Asuhan di Simalingkar dan Bagikan Ribuan Porsi Makanan
Gebyar Pendidikan dan Kebudayaan 2026 di Martubung Meriah
Operasi Senyap Satresnarkoba Polrestabes Medan Bongkar Home Industri Pod Getar Kombinasi Zat Berbahaya
komentar
beritaTerbaru