Rabu, 11 Februari 2026
Sejarah panjang Tanah Deli di Sumatera Timur

Dari Layar Angin ke Perkebunan Modern

Administrator - Sabtu, 13 September 2025 08:47 WIB
Dari Layar Angin ke Perkebunan Modern
IST
Perkebunan tembakau di Tanah Delu dulu kala.

POSMETRO MEDAN,Medan – Sejarah panjang Tanah Deli di Sumatera Timur tidak serta-merta dimulai ketika Jacobus Nienhuys datang pada 1863.

Jauh sebelumnya, wilayah Nusantara telah menjadi panggung perdagangan penting yang menghubungkan dunia timur dan barat melalui rempah, hasil hutan, dan komoditas langka.

Sejak abad ke-7, kerajaan-kerajaan maritim besar seperti Sriwijaya hingga Majapahit menjalin hubungan dagang dengan India, Cina, hingga Timur Tengah.

Baca Juga:

Kapal junk dari Cina rutin bersandar di pelabuhan-pelabuhan Nusantara, membawa porselin, sutra, dan logam mulia. Sebaliknya, mereka kembali dengan muatan rempah, kayu berharga, kapulaga, kamper, hingga lada dari Sumatra yang sangat diminati pasar dunia.

Sebelum Revolusi Industri, pola pertanian masyarakat Nusantara masih bercorak subsisten. Sejarawan mencatat, sistem yang dikenal adalah kebun campuran dengan lahan kecil, dikelola keluarga, dan hasilnya hanya untuk kebutuhan sendiri.

Baca Juga:

Namun, sejak abad ke-16, perdagangan internasional kian deras. Pedagang Gujarat, Arab, dan Tiongkok rutin singgah di Aceh, Malaka, dan Jawa, membawa serta pengaruh agama, budaya, sekaligus memperluas jaringan niaga.

Gelombang besar perubahan datang ketika bangsa Eropa menancapkan kekuasaan di kawasan. Portugis menguasai Malaka pada 1511, disusul Spanyol dan Belanda. Dominasi dagang Eropa mengubah wajah perniagaan Asia Tenggara, terutama terkait komoditas rempah dari Maluku dan lada dari Sumatera.

Tanah Deli baru benar-benar dikenal dunia pada paruh kedua abad ke-19. Kedatangan Jacobus Nienhuys menjadi tonggak lahirnya perkebunan tembakau skala besar yang berorientasi ekspor.

Dari lahan-lahan sederhana milik masyarakat lokal, tumbuh perkebunan modern dengan sistem kerja terorganisir, modal besar, dan tenaga kerja kontrak dari Jawa, India, hingga Cina.

Para planters atau pengelola perkebunan Eropa tak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga struktur sosial. Mereka membangun jalur kereta api, gudang penyimpanan, perumahan, hingga klub sosial yang mencerminkan gaya hidup kolonial.

Medan pun berkembang pesat sebagai pusat administrasi dan perdagangan, menjelma dari kampung kecil di tepi sungai menjadi kota modern pada zamannya.

Jejak sejarah itu masih bisa ditemui hingga kini. Dari rumah-rumah bergaya art deco, rel kereta peninggalan Belanda, hingga hamparan perkebunan yang tersisa, semuanya menjadi saksi transformasi besar tanah Deli.

Seperti dicatat Muhammad Dr. M Abdul Ghani dalam bukunya 1863–1996, sejarah perkebunan di Sumatera Timur bukan hanya tentang ekonomi, melainkan juga tentang dinamika sosial, konflik, dan warisan budaya yang terus hidup hingga kini.(ErnI)

Editor
: Administrator
Tags
beritaTerkait
Momen Bersejarah, Valentino Rossi Perdana Mengaspal di Sirkuit Mandalika
Kekuasaan di Tanah Deli hingga Simalungun, Dari Eksperimen Sawit hingga Kebun Teh di Lereng
Jejak Pekebun dan Perkebunan Sumatera Timur
Jejak Tanam Paksa dan Lahirnya Perkebunan Industri di Indonesia
Dari VOC hingga Tanam Paksa, Jalan Panjang Komoditas Nusantara
Perkebunan yang Mengubah Sejarah
komentar
beritaTerbaru