Kadis Dinas SDABMBK Kota Medan Hadiri Gotong Royong dan Sapa Warga di Kecamatan Medan Sunggal
Posmetro Medan, Medan Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Medan, Khairul Azmi, mendampingi Wali
Medan 6 menit lalu
POSMETRO MEDAN,Medan– Kawasan Jalan Jermal XV Kelurahan Denai, Kecamatan Medan Denai, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai kampung narkoba dan dianggap sulit disentuh aparat penegak hukum akhirnya berhasil dirubuhkan.
Sosok di balik ratanya barak-bark narkoba di sana tak lepas dari andil Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak, S.I.K., M.H.
Perwira yang malang melintang memberantas narkoba itu, menyebut jaringan yang beroperasi di wilayah tersebut merupakan kartel narkoba terbesar di wilayah hukum Polrestabes Medan.
Baca Juga:
"Ini merupakan kartel terbesar yang ada di wilayah hukum Polrestabes Medan. Sudah bertahun-tahun dan sudah menggurita," tegas Jean Calvijn, saat memberikan keterangan kepada wartawan.
Menurut Alumni Akpol 1999 itu, sindikat narkoba di Jermal XV memiliki sistem pengamanan yang sangat rapi dan terstruktur. Jaringan tersebut bahkan menggunakan portal-portal pembatas jalan yang berfungsi sebagai titik pengawasan sekaligus pengamanan.
Baca Juga:
"Setiap portal itu dijaga. Apabila ada warga baru yang masuk dengan tujuan membeli narkoba, cukup menitipkan barang di portal dan nanti akan diantarkan. Kalau sudah sering, baru dipersilakan masuk dan menggunakan fasilitas yang ada," ungkap perwira berperawakan cool itu.
Tak hanya peredaran narkoba, aparat juga menemukan praktik perjudian yang berjalan secara masif di kawasan tersebut. Lokasi perjudian disiapkan dalam berbagai bentuk, mulai dari mesin judi, permainan bindong, hingga mesin ikan.
Perwira yang pernah membongkar kasus narkoba beberapa artis terkenal itu menegaskan, penggerebekan di Jermal XV bukan dilakukan sekali dua kali.
Dalam kurun waktu satu minggu, Polrestabes Medan telah lima kali turun langsung ke lokasi tersebut sebagai bentuk komitmen
memutus mata rantai kejahatan.
"Ini sudah yang kelima kalinya dalam satu minggu kami datang ke tempat ini. Sebelumnya, banyak upaya dilakukan untuk menjadikan kawasan ini bebas narkoba dan bebas tindak pidana, namun selalu dihadapkan pada perlawanan," jelasnya.
Jean Calvijn membeberkan, dalam operasi-operasi sebelumnya, petugas kerap menghadapi tindakan anarkis. Mulai dari penghadangan, penyerangan, pelemparan, penyekapan petugas, hingga adanya tersangka yang sempat diamankan namun dipaksa dilepaskan oleh kelompok perusuh.
"Hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi. Puji Tuhan, pada operasi kali ini semuanya berjalan dengan lancar," ujar perwira yang akrab dengan kalangan wartawan itu.
Untuk menghindari kebocoran informasi, penggerebekan dilakukan dengan waktu yang bervariasi. Operasi digelar pada siang hari, tengah malam, hingga waktu subuh. Operasi subuh terbaru bahkan dimulai sejak pukul 04.00 WIB hingga sekitar pukul 08.00 WIB.
Dalam operasi tersebut, Polrestabes Medan juga menemukan adanya penolakan dari sebagian warga. Namun, Jean Calvijn menegaskan masih banyak masyarakat yang mendukung penuh upaya pemberantasan narkoba dan perjudian.
"Kami melihat masih ada warga yang menginginkan lingkungannya aman, yang ingin generasi dan anak-anaknya berprestasi," katanya.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat Kota Medan, termasuk warga di kawasan Jermal XV dan sekitarnya, untuk menjadi agen perubahan dengan memberikan informasi kepada kepolisian.
"Ayo kita bersama melangkah maju. Jika ada informasi lainnya, tolong sampaikan kepada kami. Saya berkomitmen untuk mengubah kawasan ini menjadi kawasan yang bebas narkoba dan bebas perjudian," pungkas Kapolrestabes Medan.
Jaringan Lama, Uang Besar
Jalan Jermal XV, selama bertahun-tahun dikenal publik sebagai salah satu titik rawan peredaran narkoba di Kota Medan. Kawasan ini kerap disebut sebagai kampung narkoba, bukan tanpa alasan.
Aktivitas jual beli narkotika di wilayah tersebut berlangsung sistematis, terorganisir, dan melibatkan jaringan yang tidak kecil.
Berdasarkan berbagai pengungkapan kepolisian, bisnis narkoba di Jermal XV tidak dijalankan secara sporadis. Pola operasinya menyerupai jaringan usaha ilegal yang rapi, mulai dari pemasok, pengedar lapangan, penjaga lokasi, hingga pihak yang bertugas memantau situasi sekitar untuk menghindari razia aparat.
Dalam praktiknya, transaksi narkoba di kawasan ini berlangsung hampir sepanjang hari. Para pembeli datang silih berganti, sementara pengedar memanfaatkan gang-gang sempit dan rumah-rumah warga sebagai titik transaksi.
Sistem barak menjadi ciri khas, di mana satu lokasi dijaga ketat dan sulit ditembus orang luar.
Keuntungan dari bisnis haram ini diduga sangat besar. Dalam satu hari, peredaran narkoba di Jermal XV disebut mampu menghasilkan omzet puluhan juta hingga ratusan juta rupiah, tergantung intensitas transaksi.
Uang tersebut mengalir ke berbagai pihak dalam jaringan, mulai dari pelaku lapangan hingga bandar yang beroperasi di balik layar.
Namun, dampak sosial yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada keuntungan ekonomi yang diperoleh para pelaku. Warga sekitar mengaku resah akibat meningkatnya kriminalitas, pencurian, perampokan hingga rusaknya generasi muda yang terjerumus sebagai pengguna maupun kurir narkoba.
Lingkungan pemukiman pun ikut tercoreng stigma negatif sebagai kawasan rawan narkotika.
Aparat kepolisian sebenarnya telah berkali-kali melakukan penggerebekan di Jermal XV. Penangkapan terhadap pengguna, pengedar kecil, hingga penyitaan barang bukti narkotika kerap dilakukan.
Meski demikian, bisnis narkoba di kawasan ini kerap hidup kembali setelah beberapa waktu, menandakan masih kuatnya jaringan dan adanya aktor utama yang belum tersentuh, dan belakangan dikaitkan dengan nama GS alias Guntur, yang kini sedang dicari polisi.
Belakangan, Polrestabes Medan meningkatkan intensitas penindakan dengan menjadikan Jermal XV sebagai target prioritas, terutama pada momentum operasi kepolisian skala besar.
Langkah ini tidak hanya bertujuan menangkap pelaku di lapangan, tetapi juga membongkar jaringan, aliran uang, serta dalang utama peredaran narkoba di kawasan tersebut.
Pengamat sosial menilai, pemberantasan narkoba di Jermal XV tidak bisa hanya mengandalkan penindakan hukum semata. Diperlukan pendekatan terpadu, mulai dari penegakan hukum yang konsisten, rehabilitasi bagi pengguna, hingga pemberdayaan ekonomi dan sosial bagi warga setempat agar tidak lagi bergantung pada aktivitas ilegal.
Bisnis narkoba di Jalan Jermal XV menjadi gambaran nyata betapa kompleksnya perang melawan narkotika di perkotaan. Selama akar persoalan belum diputus hingga ke level bandar dan jaringan keuangan, kawasan ini berpotensi terus menjadi ladang subur bagi peredaran narkoba, sekaligus tantangan serius bagi penegakan hukum di Kota Medan.
Dari Permukiman Biasa hingga Jadi Lokasi Peredaran
Jalan Jermal XV (15) tidak serta-merta dikenal sebagai kampung narkoba. Kawasan ini pada awalnya merupakan permukiman padat penduduk yang dihuni warga pekerja, buruh, dan pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari aktivitas ekonomi di sekitar Kota Medan.
Perubahan citra kawasan Jermal XV mulai terlihat sejak awal tahun 2000-an. Saat itu, maraknya peredaran narkotika di Kota Medan ikut merembet ke wilayah pinggiran dan kawasan padat penduduk.
Gang-gang sempit, rumah kontrakan, serta minimnya pengawasan menjadi celah bagi jaringan pengedar untuk masuk dan beroperasi.
Sekitar pertengahan 2000-an, aktivitas penyalahgunaan narkoba mulai terdeteksi secara terbuka. Awalnya, peredaran dilakukan secara sembunyi- sembunyi dan berpindah-pindah lokasi.
Namun seiring waktu, jaringan pengedar mulai menetap dan membangun sistem transaksi tetap, memanfaatkan rumah-rumah tertentu yang kemudian dikenal sebagai barak.
Memasuki tahun 2010-an, nama Jermal XV semakin sering disebut dalam berbagai pengungkapan kasus narkoba oleh kepolisian. Kawasan ini perlahan mendapat stigma sebagai kampung narkoba karena aktivitas jual beli narkotika yang nyaris berlangsung setiap hari.
Para pembeli datang dari berbagai wilayah di Medan, sementara pengedar lokal berperan sebagai kaki tangan jaringan yang lebih besar.
Pada periode ini pula, pola peredaran narkoba di Jermal XV semakin terorganisir. Ada pembagian peran yang jelas, mulai dari pengedar, penjaga lokasi, hingga pengintai yang bertugas memberi peringatan jika aparat mendekat.
Sistem ini membuat kawasan tersebut dikenal sulit disentuh dan kerap kembali aktif meski sudah berulang kali digerebek.
Upaya penindakan oleh aparat kepolisian sebenarnya terus dilakukan dari tahun ke tahun. Berbagai operasi digelar, sejumlah pelaku ditangkap, dan barang bukti disita. Namun, keterbatasan pendekatan yang hanya menyasar pelaku lapangan membuat peredaran narkoba di Jermal XV kerap tumbuh kembali, seolah tak pernah benar-benar hilang.
Memasuki akhir 2010-an hingga awal 2020-an, tekanan terhadap kampung narkoba Jermal XV semakin meningkat. Aparat mulai menerapkan strategi penindakan terpadu, tidak hanya menangkap pengguna dan pengedar kecil, tetapi juga membidik bandar serta jaringan keuangan di balik bisnis narkoba tersebut.
Pada tahun-tahun terakhir, Jermal XV kembali menjadi perhatian publik seiring meningkatnya intensitas penggerebekan dan operasi besar-besaran oleh Polrestabes Medan.
Kawasan ini bahkan dijadikan target prioritas dalam sejumlah operasi kepolisian, termasuk operasi rutin dan operasi berskala nasional.
Meski demikian, sejarah panjang Jermal XV menunjukkan bahwa persoalan narkoba di kawasan ini bukan hanya soal kriminalitas, tetapi juga masalah sosial dan ekonomi.
Faktor kemiskinan, lingkungan padat, serta minimnya lapangan kerja turut menjadi pemicu mengapa kawasan ini lama dijadikan
basis peredaran narkoba.
Kini, Jermal XV berada di persimpangan sejarahnya. Di satu sisi, penegakan hukum semakin tegas. Di sisi lain, tuntutan untuk melakukan pemulihan sosial, rehabilitasi, dan pemberdayaan warga menjadi kunci agar kawasan ini tidak lagi mewarisi label sebagai kampung narkoba di masa depan.(RED)
Posmetro Medan, Medan Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Medan, Khairul Azmi, mendampingi Wali
Medan 6 menit lalu
Dr. Parlindungan Purba, S.H., M.M. adalah seorang tokoh masyarakat, pengusaha, dan politisi senior asal Sumatera Utara .
Profil 3 jam lalu
Polres Labuhanbatu mengamankan seoramg pria terduga pemgedar sabu.
Kriminal 3 jam lalu
Pencuri peralatan kerja di Homestay Gastro berakhir damai, korban sepakat cabut tuntutan.
Sumut 4 jam lalu
Wali Kota Wesly Silalahi mendorong Business Matching SPPG dan pelaku usaha jadi wadah koordinasi.
Sumut 5 jam lalu
Klasemen Sementara Peringkat Ketiga Terbaik Piala Dunia 2026 Iran dan Timnas Korea Selatan Masih Punya Peluang.
Sport 5 jam lalu
Pratinjau Kolombia vs Portugal Duel Penentu Lawan di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026.
Sport 5 jam lalu
Juru parkir di Medan terancam dipecat Dishub setempat penyebabnya pungli.
Medan 5 jam lalu
Bawa Modal Belum Terkalahkan! Tanjung Verde Langsung Jumpa Argentina di 32 Besar Piala Dunia 2026.
Sport 6 jam lalu
7 jenis minuman ini rupanya bikin kolesterol sontak meningkat drastis, apaapa saja?
Lifestyle 6 jam lalu