Dalam menjalankan konsep pelayanan tersebut, Ramlan didukung oleh seluruh staf KUA Medan Perjuangan yang turut memberikan pelayanan dengan ramah dan profesional.
Selain sigap dalam mengurus dokumen pernikahan dan konsultasi keagamaan, para staf juga aktif menyambut warga dengan sikap yang lebih luwes.
Baca Juga:
Inisiatif ini pun mendapat respons positif dari masyarakat. Salah seorang calon pengantin (catin), Fatma, mengaku merasa lebih nyaman dengan suasana pelayanan yang diberikan.
"Saya merasa lebih santai dan tidak tegang. Pelayanan seperti ini sangat inspiratif, karena membuat KUA terasa dekat dengan masyarakat. Harapannya, ini tidak hanya saat Lebaran saja," ujarnya.
Baca Juga:
Menurut Ramlan, suasana yang nyaman akan membuat komunikasi antara petugas dan masyarakat menjadi lebih efektif. Dengan begitu, setiap persoalan yang dikonsultasikan dapat diselesaikan dengan lebih baik.
Ia menegaskan bahwa KUA Medan Perjuangan ingin terus bertransformasi menjadi ruang pelayanan yang inklusif dan terbuka bagi semua kalangan. Tidak hanya sebagai tempat pencatatan pernikahan, tetapi juga sebagai ruang solusi bagi berbagai persoalan umat.
"Dengan suasana yang nyaman dan pelayanan yang tulus, kami ingin menjadikan KUA sebagai tempat yang dirindukan masyarakat," tutupnya.
Melalui langkah sederhana ini, KUA Medan Perjuangan menunjukkan bahwa profesionalisme dapat berjalan seiring dengan kehangatan.
Suguhan kue Lebaran menjadi simbol kecil dari pelayanan yang lebih humanis, sekaligus upaya menghadirkan wajah birokrasi yang lebih ramah dan membumi.(REL)
Tags
beritaTerkait
komentar