Jumat, 30 Oktober 2026

Kenapa Seminar Internasional IECESS FEB Unimed Abal-abal?

Laporan Tim Redaks POSMETROMEDAN.id
Administrator - Jumat, 30 Oktober 2026 20:50 WIB
Kenapa Seminar Internasional IECESS FEB Unimed Abal-abal?
Ist

Berdasarkan aturan Dikti, status "Internasional" sebuah seminar tidak sah hanya karena memiliki E-ISSN dari lembaga luar negeri. Seminar itu wajib memenuhi syarat berikut, pertama: komposisi penulis (makalah ditulis oleh penulis yang berasal dari minimal 4 negara). Kedua: tim editor atau commitee review berasal dari berbagai negara yang kompeten di bidangnya. Ketiga: artikel wajib ditulis dalam bahasa internasional (Inggris, Arab, Prancis, Rusia, Spanyol, atau Tiongkok).

E-ISSN hanyalah langkah awal administrasi terbitan. Nilai bobot KUM sebuah prosiding internasional ditentukan oleh ke mana prosiding itu diindeks. Jika prosiding bereputasi maka wajib terindeks di basis data sitasi internasional ketat seperti Scopus atau Web of Science (WoS). Kemudian posiding Internasional biasa: minimal terindeks di database global yang diakui seperti Google Scholar, DOAJ, atau IEEE Xplore. Lalu setiap setiap artikel individual di dalam prosiding itu harus memiliki DOI aktif. E-ISSN mengidentifikasi prosidingnya secara utuh, sedangkan DOI mengidentifikasi artikel agar kutipan/sitasi tercatat secara akurat di mesin pengindeks global.

Baca Juga:

Maka tim redaksi posmetromedan.id menyimpulakn dari semua syarat seminar internasional yang digelar FEB Unimed itu hanya memiliki E-ISSN. Tidak ada prosiding bereputasi, tidak ada DOI, bahkan sebagian mahasiswa berujar, seminar internasional FEB Unimed ini hanya terindeks di GoogleDrive. Data yang dikumpulkan tim redaksi, sudah tiga tahun berturut-turut pula seminar internasional 'ecek-ecek' ini dilaksanakan.

Kalau setiap tahun ada 1.000 peserta, lalu semua peserta sebagai participant dengan bayaran Rp100 ribu, maka minimal FEB Unimed 'mengaut" Rp100 juta uang mahasiswa tiap tahun dan jika sudah tiga tahun minimal Rp300 juta. Jika biaya honor pembicara atau 'biaya produksi' total habis Rp30 juta, berarti panitia untung Rp70 juta per tahun dikali tiga tahun. Rp210 juta, wow, fantastis, bisa beli Honda Brio baru atau paling tidak Avanza second tahun tinggi. Itu sebabnya tim redaksi merekomendasikan agar pelaksanan ini diaudit termasuk biaya pelaksanaan seminar internasional.

Baca Juga:

Apalagi karena seluruh Kaprodi disuruh menghadirkan mahasiswa semester tujuh atau yang sedang menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat agar boleh maju sidang skripsi. Kewajiban itu dibuat tidak tertulis oleh Dekan dan Wakil Dekan I FE Unimed. Dalam penelusuran tim liputan redaksi, para Kaprodi tak berani membantah perintah tersebut yang disampaikan secara lisan dan beredar melalui grup WA wakil dekan bidang akademik.

Para Kaprodi mengomandoi mahasiswa agar hadir sebagai presenter dan participant atas perintah atasannya. Padahal seharusnya mahasiswa boleh memilih kemana mereka harus mensubmit karya ilmiahnya untuk prosiding, bukan dipaksa ke IECES yang 'abal-abal' dan tak jelas luarannya terindeks apa.

Kalau ditanya ke mahasiswa, pastilah mereka tak berani buka mulut, takut tak lulus ujian skripsi. Bahkan Kaprodi pun pasti tak berani frontal melawan karena takut jabatannya dicopot. Semua yang dipaparkan dalam laporan penelusuran tim redaksi ini adalah fakta. Sehingga kegiatan ini salah satu bentuk 'penjajahan akademik' gaya baru saat peringatan Sumpah Pemuda yang ke 98 dilaksanakan.

Dan pemuda-pemuda teridiri dari mahasiswa di FEB Unimed dipaksa mengikuti seminar yang pengindeks-an nya tak jelas. Bukan hanya itu, seharusnya seminar internasional juga menghadirkan presenter dan mempresentasikan karya ilmiahnya di hadapan audiens. Tapi dari IECES 1-3 (20024-2026) menurut penelusuran tim redaksi, tak jelas dimana peserta mempresentasikan karya ilmiahnya. Aneh bin Ajaib.

Pihak Rektorat diharapkan menindak secara tegas dan meminta auditor independen mengaudit seminar ini. Silakan Pak Rektor Unimed, gas-kan! Panggil Dekan dan Wakil Dekan 1 FE Unimed untuk klarifikasi secara terbuka dan mempertanggungjawabkan seminar bertajuk internasional itu padahal cuma sekelas kuliah umum. Tim redaksi juga sudah meminta jawaban dari Koordinator Humas Unimed.

Memang semua konfirmasi dijawab Humas, tapi ketika disinggung mana bukti prosiding dan mana bukti peserta mempresetansikan, Humas hanya mengacu dengan memberikan link web IECES yang dibuat FE Unimed.(redaksi)

Tags
beritaTerkait
Sekda Deli Serdang Lantik Tiga Pejabat Pengawas, Tekankan Integritas dan Kinerja
Pemkab Deli Serdang Apresiasi Operasi Polresta, 12 Bandar dan 46,5 Kg Narkotika Diamankan
GRIB Jaya Medan Turun ke Jalan, Ratusan Paket Makanan Dibagikan dalam Jumat Berkah
Forkala Goes to School 4, Perkenalkan Keberagaman Etnik dan Budaya di Sekolah Medan Mulia
Satresnarkoba Polrestabes Medan Gerebek Gudang Penyimpanan Narkoba Berkedok Kandang Ayam
Rico Waas Dorong Digitalisasi Pendapatan Tanpa Naikkan Pajak, Kadis SDABMBK Medan Hadiri Forum Digital Bapenda se-Indonesia
komentar
beritaTerbaru