Semangat juang di lapangan olahraga itu ia bawa ke dunia militer. Sebelum lulus kuliah, ia memutuskan masuk ke Sekolah Perwira Militer Sukarelawan (Sepa Milsukwan) ABRI pada tahun 1978.
Sejak itulah, kariernya di kepolisian terus menanjak, mulai dari Komandan Peleton (Danton) Seba Polwan hingga dipercaya menjadi Kepala Sekolah Polwan pada tahun 1999.
Baca Juga:
Sinergi Kepemimpinan Perempuan di Banten
Penunjukan Rumiah sebagai Kapolda Banten kala itu dianggap sebagai langkah strategis yang visioner. Kapolri berharap Rumiah mampu bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Banten, yang saat itu gubernurnya juga dijabat oleh seorang wanita, Ratu Atut Chosiyah.
Baca Juga:
"Menjadi Kapolda adalah tantangan besar, namun saya bangga bisa mewakili Polwan di posisi ini," ungkap ibu dua anak ini dalam sebuah kesempatan. Selama masa jabatannya, Rumiah dikenal sebagai pemimpin yang tegas namun tetap memiliki pendekatan humanis.
Purnatugas dengan Kepala Tegak
Rumiah terus membekali diri dengan pendidikan tinggi, mulai dari Selapa Polri (1990), Seskoad (1995), hingga Sespati Polri (2003). Sebelum pensiun, ia mengakhiri masa pengabdiannya dengan menyerahkan jabatan kepada Brigjen Pol Agus Kusnadi dalam sebuah upacara sertijab di Rupatama Mabes Polri.
Kini, meskipun telah purnawirawan, jejak Rumiah Kartoredjo tetap menjadi inspirasi bagi ribuan Polwan di seluruh Indonesia.
Ia membuktikan bahwa seorang gadis dari kota kecil, yang semula hanya bermimpi menjadi guru, mampu mengukir sejarah sebagai jenderal perempuan pertama yang memimpin Kepolisian Daerah di Indonesia. (NasrulKotoPsu/FB)
Tags
beritaTerkait
komentar