Kamis, 02 Juli 2026

Indonesia Miliki 12 UNESCO Global Geopark, Terbanyak Ketiga di Dunia

Evi Tanjung - Kamis, 02 Juli 2026 20:18 WIB
Indonesia Miliki 12 UNESCO Global Geopark, Terbanyak Ketiga di Dunia
Win
Indonesia miliki 11 Geopark Nasional yang dipersiapkan untuk diusulkan menjadi UNESCO Global Geopark.

POSMETRO MEDAN, Parapat - Indonesia kini memiliki 12 UNESCO Global Geopark, menjadikannya sebagai negara dengan jumlah geopark berstatus UNESCO terbanyak ketiga di dunia. Capaian tersebut dinilai menjadi modal besar untuk mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pakar Komite Geopark, Dedi Irpan Bahri, di sela-sela acara Welcome Dinner The 7th Geotourism Festival and International Conference (Geofest) 2026, Rabu (1/7/2026), di Parapat.

Baca Juga:

Baca Juga:

Dedi menjelaskan, saat ini terdapat 241 UNESCO Global Geopark yang tersebar di 51 negara. Dari jumlah tersebut, 49 geopark berada di Tiongkok, menjadikan negara tersebut sebagai pemilik UNESCO Global Geopark terbanyak di dunia.

Sementara itu, Indonesia berada di posisi ketiga dengan 12 UNESCO Global Geopark. Indonesia juga memiliki 11 Geopark Nasional yang dipersiapkan untuk diusulkan menjadi UNESCO Global Geopark.

"Saat ini kita ada 241 UNESCO Global Geopark di dunia yang tersebar di 51 negara. Dari jumlah itu, 49 berada di China sebagai negara dengan UNESCO Global Geopark terbanyak di dunia. Setelah China ada Spanyol, kemudian Indonesia berada di peringkat ketiga dengan 12 UNESCO Global Geopark," ujarnya.

Menurut Dedi, bertambahnya jumlah geopark di Indonesia nanti dapat mendorong konsep pembangunan yang lebih berkelanjutan di berbagai daerah.

"Kita berharap semakin banyak geopark di Indonesia, maka konsep pembangunan yang lebih berkelanjutan ini menjadi pilihan bagi pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia," katanya.

Namun, Dedi mengingatkan bahwa mempertahankan status Green Card jauh lebih penting dibanding sekadar meraihnya. Menurutnya, pengelolaan geopark harus benar-benar diwujudkan melalui edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat.

"Yang harus kita perhatikan adalah bagaimana mempertahankan status ini bukan hanya sekadar status, tetapi benar-benar diterapkan di semua bidang. Badan Pengelola memiliki mandat menjalankan edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat untuk ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hutan di kawasan Danau Toba, serta mendorong seluruh pihak, termasuk pelaku industri, memiliki komitmen terhadap kelestarian lingkungan.

"Kalau kita tidak menjaga hutan di sekitar Danau Toba dan tidak menjaga danau ini sebagai sumber kehidupan masyarakat, tentu itu akan menjadi ancaman bagi kita semua," pungkasnya. (win)

Tags
beritaTerkait
Hari Kedua Geofest 2026 Diwarnai Aksi Konservasi, Dorong Toba Caldera Menuju Green Zone
Elmi Hanum Harahap: Sangat Penting Menjaga Etika Profesi di Lapangan
Duh! Pekerja Toba Caldera UNESCO Geopark Ngaku Tak Terima Gaji Desember 2025
RE Nainggolan: "Tujuan Akhir Pengelolaan Geopark adalah Kelestarian kawasan dan Kesejahteraan Masyarakat"
Kunjungan ke ISTP untuk Kolaborasi Pengembangan Geopark
Pulih Kembali, Toba Caldera UNESCO Global Geopark Menerima Status Green Card
komentar
beritaTerbaru