Selama ini, kontribusi terbesar PAD masih datang dari Bank Sumut dan PDAM Tirtanadi. Namun, Tirtanadi pun masih kehilangan 30 persen air bersih akibat kebocoran sistem.
"Bank Sumut menyumbang sekitar Rp300 miliar lebih, sementara PT Aneka Industri dan Jasa serta PT Perkebunan Sumut praktis tidak memberi kontribusi. PT Aneka Industri bahkan belum menunjukkan hasil yang jelas. Jika ini tidak segera diatasi, akan menjadi catatan buruk bagi kepemimpinan Gubernur," ujarnya.
Baca Juga:
Yahdi juga menyoroti kebijakan usaha yang kerap tidak sesuai karakteristik BUMD. Salah satunya, PT Perkebunan Sumut yang justru menanam cabai dengan anggaran Rp8 miliar, namun berakhir gagal.
"Lahan yang semestinya ditanami sawit malah digunakan untuk cabai dan kini disewakan untuk penanaman ubi ke pihak ketiga. Lahan seluas 1.000 hektare yang seharusnya difokuskan untuk replanting sawit justru ditanami tanaman muda yang bersaing dengan ubi. Tak heran bibitnya kerdil," ungkapnya.
Baca Juga:
Ia berharap pemerintah daerah mengambil langkah tegas dan fokus dalam membenahi BUMD. "Tanpa pembenahan menyeluruh, cita-cita menjadikan BUMD sebagai penopang PAD hanya akan menjadi wacana yang tak pernah terwujud," pungkas Yahdi.(ernI)
Tags
beritaTerkait
komentar